Ketegangan AS-Iran Memanas Lagi, Pejabat Teheran Ungkap Dugaan Motif di Balik SeranganKetegangan AS-Iran Memanas Lagi, Pejabat Teheran Ungkap Dugaan Motif di Balik Serangan

TEHERAN - Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap Iran sejak 8 Juli, hanya sekitar tiga pekan setelah kedua negara menandatangani nota kesepahaman tidak langsung pada malam menuju 18 Juni yang sempat mengatur penghentian konflik militer. Menurut anggota Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ahmad Bakhshayesh Ardestani, langkah AS ini bertujuan melemahkan posisi tawar Teheran menjelang putaran perundingan berikutnya. Pernyataan itu disampaikan Ardestani dalam wawancara dengan kantor berita Rusia, RIA Novosti, yang dipublikasikan Jumat.
Ardestani mengklaim upaya mediasi sebenarnya masih berjalan, melibatkan Pakistan, Qatar, dan Turki. "Pakistan, Qatar dan bahkan Turki masih melakukan upaya mediasi. Namun, Amerika masih meyakini bahwa mereka akan mampu melemahkan Iran sampai batas tertentu sebelum perundingan berikutnya," katanya. Ia menyebut tujuan utama Washington adalah melemahkan posisi Iran di Selat Hormuz — jalur pelayaran sempit yang menjadi pintu keluar-masuk minyak dari kawasan Teluk Persia dan selama ini jadi salah satu titik paling sensitif dalam hubungan kedua negara.
Akar masalahnya, menurut politisi Iran itu, terletak pada nota kesepahaman yang belum menjadi dokumen komprehensif dan masih memuat ketentuan ambigu. Ia menyoroti khusus butir kelima dokumen tersebut, yang mengatur pengelolaan Selat Hormuz berdasarkan mekanisme Iran bekerja sama dengan Oman — ketentuan yang dinilainya rawan dimanfaatkan pihak lain. "Namun, karena Oman adalah negara Arab, negara itu lebih rentan terhadap pengaruh negara-negara Teluk Arab dan juga berada di bawah tekanan Amerika Serikat," ujarnya.
Dari situ, Ardestani berpendapat Washington berupaya memanfaatkan apa yang disebutnya "koridor Oman" untuk pelayaran kapal melalui Selat Hormuz, dengan tujuan mengurangi peran Iran dalam mekanisme pengelolaan selat tersebut pada pembahasan lanjutan soal isu nuklir maupun status selat. Kondisi ini, dalam pandangannya, menjadi salah satu pemicu berlanjutnya kembali eskalasi saling serang di antara kedua negara.
Versi resmi dari pihak Amerika berbeda. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan serangan terbaru merupakan respons atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz, bukan bagian dari strategi menekan Teheran menjelang perundingan. Sebagai balasan atas serangan AS, Iran melancarkan serangan ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Perlu digarisbawahi bahwa seluruh analisis soal motif Amerika Serikat dalam artikel ini berasal dari satu sumber: pandangan seorang anggota parlemen Iran yang disampaikan lewat media Rusia, bukan pernyataan resmi pemerintah Iran maupun AS. Kedua versi — klaim Ardestani soal strategi negosiasi dan pernyataan resmi CENTCOM soal insiden di Selat Hormuz — mencerminkan kepentingan masing-masing pihak dalam konflik ini, sehingga sebaiknya ditempatkan sebagai klaim yang saling bertolak belakang, bukan fakta yang sudah terverifikasi secara independen.
Yang jelas secara faktual, konflik AS-Iran memang kembali memanas setelah sempat ada nota kesepahaman pada 18 Juni. Eskalasi ini penting diikuti karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran minyak tersibuk di dunia — gangguan keamanan di jalur ini berpotensi berdampak pada harga minyak global, termasuk pada akhirnya harga bahan bakar di dalam negeri. (sputnik)
Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda