JAKARTA – Transisi otomotif Indonesia tidak bisa hanya bertumpu pada kendaraan listrik. Guru Besar Teknik Mesin Universitas Pertamina (UPER), Prof. Iman Kartolaksono Reksowardojo, menilai Indonesia perlu menerapkan pendekatan multi-pathway, yakni memadukan berbagai pilihan teknologi dan sumber energi yang disesuaikan dengan karakteristik serta kebutuhan masing-masing sektor.
“Meskipun kendaraan listrik memiliki peluang besar untuk berkembang di Indonesia, terutama dengan dukungan sumber daya mineral seperti nikel, Indonesia perlu memastikan agar pengembangan tersebut tidak berhenti sebagai pemasok bahan mentah. Nilai tambah dari pengolahan dan pengembangan teknologinya juga perlu dibangun di dalam negeri,” ujar Prof. Iman saat ditemui di Universitas Pertamina, Kamis (15/10/2026).
Sebagai contoh, kendaraan penumpang dan sepeda motor di perkotaan dinilai lebih cocok menggunakan tenaga listrik karena jarak tempuhnya relatif pendek dan infrastruktur pengisian daya lebih mudah dijangkau. Sebaliknya, truk, bus, dan alat berat bermesin diesel yang beroperasi jarak jauh atau di wilayah dengan infrastruktur pengisian daya terbatas dapat memanfaatkan biodiesel, karena didukung mesin dan jaringan distribusi bahan bakar yang sudah tersedia.
Bahan Bakar Nabati Selain Sawit
Untuk memenuhi kebutuhan energi yang beragam, Indonesia juga perlu mengembangkan bahan bakar nabati selain sawit, seperti jarak pagar, nyamplung, dan kemiri sunan. Namun, setiap pilihan teknologi dan sumber energi harus mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan, bukan hanya ketersediaan bahan baku atau infrastrukturnya.
“Diperlukan pendekatan Life Cycle Assessment (LCA) untuk menilai dampak lingkungan mulai dari penyediaan bahan baku, proses produksi, hingga penggunaannya,” jelas Prof. Iman.
Penjualan kendaraan listrik sendiri terus naik, dari 99.111 unit pada 2024 menjadi 150.452 unit pada 2025 (Goodstat, 2026). Meski demikian, jalur listrik bukan satu-satunya opsi. Indonesia juga mengembangkan biodiesel B50, yaitu campuran 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit mentah (CPO) dan 50 persen solar.
“Penggunaan B50 membutuhkan pengujian dan penyesuaian pada mesin kendaraan agar dapat bekerja dengan baik. Begitu pula dengan bahan bakarnya, yang harus memenuhi standar dan kebutuhan mesin. Karena itu, penerapan B50 memerlukan kerja sama antara produsen kendaraan, produsen bahan bakar, masyarakat, dan pemerintah,” jelas Prof. Iman.
Talenta Jadi Tantangan
Menanggapi hal itu, Rektor UPER, Prof. Ichsan Setya Putra, menyebut tantangan Indonesia bukan sekadar mengelola sumber daya energinya, tetapi juga kapabilitas talenta untuk mengembangkannya.
“Memastikan generasi yang akan datang memiliki kompetensi dalam mengembangkan teknologi, meningkatkan nilai tambah sumber daya, serta membangun industri energi yang berkelanjutan menjadi hal yang krusial,” ujar Prof. Ichsan.
Ia menambahkan, penguatan peminatan Renewable Energy pada Program Studi Teknik Mesin UPER diharapkan semakin memperkuat kapasitas talenta dalam memahami, mengembangkan, dan mengimplementasikan teknologi energi terbarukan sesuai kebutuhan Indonesia.
Sumber: Waspada.id


Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda