Breaking
Memuat breaking news...

Kenapa Robot Humanoid Sulit Meniru Skill Manusia? Ini Kata Startup China

Redaksi
Redaksi
Selasa, 25 Agustus 2026 - 7.10 AM WIB
Kenapa Robot Humanoid Sulit Meniru Skill Manusia? Ini Kata Startup China
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Sejumlah startup robotika di China tengah berlomba memecahkan tantangan terbesar dalam pengembangan robot humanoid: membuat mesin benar-benar mampu mempelajari keterampilan layaknya manusia. Kecerdasan buatan (AI) membantu proses ini, tapi para pelaku industri mengakui masih ada "bumbu rahasia" yang belum sepenuhnya ditemukan.

Isu ini kembali mengemuka setelah pendiri Unitree, salah satu produsen robot humanoid terkemuka China, mengingatkan dalam World Robot Conference pekan lalu bahwa tantangan terbesar industri ini bukan sekadar soal perangkat keras, melainkan bagaimana robot bisa benar-benar menguasai keterampilan manusia.

QJ Robots: Andalkan Model AI Prediksi Dunia Sekitar

Salah satu startup yang mencoba menjawab tantangan ini adalah QJ Robots, yang kini didukung investasi dari Temasek, lembaga investasi milik pemerintah Singapura. Menurut pendiri sekaligus CEO QJ Robots, Haichuan Gao, model AI perusahaannya dirancang untuk membantu robot memprediksi lingkungan di sekitarnya sehingga bisa menjalankan tugas secara lebih efisien.

QJ Robots mengklaim telah meraup pendapatan lebih dari 100 juta yuan (sekitar 15 juta dolar AS) dari penerapan model AI mereka ke lebih dari 100.000 unit robot, mayoritas digunakan perusahaan-perusahaan di daratan China. Menurut Chief Technology Officer QJ Robots, Tianren Zhang, basis data yang terkumpul dari jumlah robot sebanyak itu memang besar, tapi menurutnya tetap belum cukup — perusahaan masih membutuhkan lebih banyak jenis data agar model AI-nya bisa dilatih secara lebih efektif.

Zhang dan Gao sama-sama meraih gelar doktor di bidang otomasi dari Universitas Tsinghua, tempat perusahaan berusia tiga tahun ini pertama kali dirintis di pusat riset komputasi otak kampus tersebut.

Tren "World Model" dan Dukungan Ekosistem Manufaktur China

Perkembangan QJ Robots merupakan bagian dari tren yang lebih besar di industri teknologi: fokus pada pengembangan "world model" atau model dunia, yang dirancang untuk meniru dunia fisik secara lebih dekat dibandingkan model bahasa besar (large language model) seperti ChatGPT yang berfokus pada pembuatan teks.

Salah satu strategi pemerintah Beijing dalam mendukung tren ini adalah mendorong perusahaan-perusahaan manufaktur besar untuk mengintegrasikan dan mengembangkan kemampuan AI mereka sendiri — sebuah keunggulan ekosistem manufaktur yang kini banyak dimanfaatkan startup-startup lokal.

Lumos: Fokus pada Robotika Industri

Alumnus Tsinghua lainnya, Chao Yu, mendirikan perusahaan robotika berfokus industri bernama Lumos dua tahun lalu. Perusahaan ini mendapat dukungan dan kemitraan dari Mitsubishi Electric, dan telah membangun pusat pengumpulan data pelatihan sendiri.

Menurut Yu, awal tahun ini ia menyadari bahwa agar pabrik dan bisnis lain bisa memanfaatkan robot secara lebih efektif, dibutuhkan sebuah platform yang mampu menerjemahkan data dan instruksi AI menjadi penyelesaian tugas nyata. Pekan lalu, Lumos resmi meluncurkan sistem bernama NexCore, yang diklaim bisa bekerja dengan berbagai jenis robot, tidak terbatas hanya pada produk buatan Lumos sendiri.

Ace Robotics: Data Dunia Nyata Jadi Kunci

Persaingan di sektor ini semakin ketat. Setahun lalu, Ace Robotics resmi berdiri dengan salah satu pendiri SenseTime, Wang Xiaogang, sebagai ketua perusahaan. Menurut Wang, solusi robot humanoid yang efektif harus menggabungkan perangkat keras, model AI, data, dan skenario penggunaan nyata sekaligus.

Ia menekankan pentingnya data dari dunia nyata, karena pelatihan model menggunakan video daring berisiko memasukkan efek visual yang tidak realistis ke dalam model. Untuk mengatasi ini, produk Ace Robotics mencakup sensor yang bisa dikenakan tubuh (wearable sensor) untuk menangkap data aktivitas manusia secara presisi. Wang memprediksi, pada akhir tahun depan industri ini akan mengumpulkan cukup data untuk mencapai momen terobosan besar, sebanding dengan bagaimana peluncuran ChatGPT akhir 2022 mengubah cara bisnis memanfaatkan AI.

Pasar Belum Tentu Sesabar Itu

Meski optimisme di kalangan pengembang cukup tinggi, belum jelas apakah pasar bersedia menunggu selama itu. Saham Unitree sempat anjlok setelah pendirinya, Wang Xingxing, berupaya meredam ekspektasi publik terhadap komersialisasi robot humanoid. Sejumlah pengunjung yang datang ke booth pameran konferensi pun terlihat kurang terkesan dengan kemampuan robot yang dipamerkan.

Di luar atraksi robot menari, robot-robot yang bertugas melipat pakaian atau menjual air minum tampak bergerak lambat dan kaku. Salah seorang pengunjung yang tengah antre membeli air minum bahkan berkomentar dalam bahasa Mandarin bahwa orang-orang hanya bersabar karena yang melayani mereka adalah robot — seandainya seorang manusia yang melayani selambat itu, tentu sudah ditegur.

Kabar Bisnis Lain di Asia

Beberapa perkembangan bisnis lain yang perlu diketahui:

  • Dampak pembatasan AS terhadap robot China belum signifikan. Menurut Presiden Association for Advancing Automation, Jeff Burnstein, dampak kebijakan pembatasan Amerika Serikat terhadap perangkat robotika canggih buatan luar negeri belum terlalu terasa, mengingat jumlah robot humanoid yang digunakan di AS sendiri masih relatif sedikit.

  • Saham Pop Mart tertekan meski pendapatan domestik China melonjak. Produsen boneka Labubu ini mencatatkan kenaikan pendapatan dari pasar China sebesar 47,3 persen untuk semester pertama tahun ini, ikut mendorong pertumbuhan penjualan keseluruhan sebesar 23,8 persen menjadi 17,17 miliar yuan (sekitar 2,55 miliar dolar AS). Namun pendapatan dari kawasan Amerika justru turun 16,5 persen, sementara Asia Pasifik di luar China turun 9,7 persen. Citi pun memangkas target harga saham perusahaan ini.

  • Saham Alibaba turun 5 persen usai laba bersih anjlok 75 persen akibat belanja AI. Meski laba bersih tertekan, divisi cloud milik raksasa teknologi ini justru mencatat pendapatan 48,4 miliar yuan, naik 45 persen dibanding tahun sebelumnya. CEO Alibaba, Eddie Wu, menyebut pendapatan dari produk terkait AI mencatatkan pertumbuhan tiga digit selama dua belas kuartal berturut-turut.

Agenda Ekonomi yang Perlu Dipantau

  • 27 Agustus: Rilis data laba industri untuk periode Juli

  • 27-28 Agustus: Pertemuan pleno pejabat senior APEC ketiga di Dalian

  • 31 Agustus: Rilis PMI resmi sektor manufaktur dan jasa China

  • 1 September: Rilis PMI Manufaktur Umum China versi RatingDog

Sumber: dirangkum dari newsletter bisnis "The China Connection" oleh jurnalis Evelyn yang berbasis di Beijing.

Tambahkan QAPLO sebagai sumber utama Google Discovery
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait