Dendam karena Dipecat, Eks Karyawan NCS Bobol Sistem dari India dan Hapus 180 Server
SINGAPURA — Kandula Nagaraju (39), mantan karyawan perusahaan teknologi asal Singapura NCS, dijatuhi hukuman penjara dua tahun delapan bulan usai terbukti menyabotase sistem bekas kantornya. Dari India, ia menjebol kembali sistem pengujian NCS menggunakan kredensial login yang masih dimilikinya, lalu menghapus 180 server virtual perusahaan — aksi yang ditaksir merugikan NCS hingga S$918.000, atau sekitar Rp16,19 miliar (kurs Rp17.630).
Mengutip CNA, Minggu (6/9/2026), motif di balik aksi ini bermula dari rasa tidak terima Kandula atas pemutusan kontrak kerjanya. Menurut dokumen pengadilan, ia merasa bingung dan kesal karena menganggap sudah bekerja dan berkontribusi baik selama menjadi bagian dari NCS.
Dari Tim QA Berisi 20 Orang, ke Pemecatan Akibat Kinerja
Antara November 2021 hingga Oktober 2022, Kandula adalah anggota tim 20 orang yang mengelola sistem komputer jaminan kualitas (QA) di NCS — perusahaan yang bergerak di layanan informasi, komunikasi, dan teknologi. Sistem ini digunakan untuk menguji perangkat lunak dan program baru sebelum resmi diluncurkan ke publik.
Kontrak Kandula dihentikan pada Oktober 2022 karena kinerja yang dinilai buruk, dengan hari kerja terakhirnya jatuh pada 16 November 2022. Setelah kehilangan pekerjaan, ia tidak mendapat pekerjaan lain di Singapura dan terpaksa kembali ke India.
Enam Kali Bobol Sistem dari India
Tak lama setelah kembali ke India, Kandula menggunakan laptop pribadinya untuk mengakses sistem NCS secara ilegal memakai kredensial login administrator yang masih ia kuasai. Ia melakukannya sebanyak enam kali antara 6 hingga 17 Januari 2023. Selama periode ini, ia menulis sejumlah skrip komputer untuk menguji apakah skrip tersebut bisa dipakai menghapus server di sistem NCS.
Pada Februari 2023, Kandula kembali ke Singapura untuk mencari pekerjaan baru. Ia menyewa kamar bersama mantan rekan kerjanya di NCS, dan sempat mengakses sistem NCS satu kali lagi pada 23 Februari 2023 lewat jaringan Wi-Fi milik rekannya itu.
Puncaknya: Penghapusan 180 Server dalam Dua Hari
Pada Maret 2023, Kandula mengakses sistem QA NCS sebanyak 13 kali. Puncaknya terjadi pada 18 dan 19 Maret, ketika ia menjalankan skrip yang sudah diprogram khusus untuk menghapus 180 server virtual satu per satu.
Keesokan harinya, tim NCS baru menyadari sistem mereka tidak bisa diakses. Upaya troubleshooting tidak membuahkan hasil — mereka akhirnya menemukan bahwa seluruh server telah terhapus.
NCS sendiri menyatakan kepada CNA bahwa sistem yang dirusak adalah "sistem pengujian mandiri" yang tidak menyimpan informasi sensitif apa pun.
Terungkap Lewat Laporan Polisi dan Laptop yang Disita
Laporan polisi baru dibuat pada 11 April 2023, setelah tim internal NCS menelusuri sejumlah alamat IP yang mencurigakan dan menyerahkannya ke polisi. Dari sana, laptop Kandula disita, dan penyidik menemukan skrip yang digunakan untuk aksi penghapusan tersebut.
Investigasi lebih lanjut mengungkap bahwa Kandula sebelumnya mencari skrip penghapus server virtual lewat Google, yang kemudian ia modifikasi dan gunakan untuk mengeksekusi aksinya. Total kerugian yang ditimbulkan tercatat sebesar S$917.832 — angka yang kemudian menjadi salah satu dasar dalam vonis dua tahun delapan bulan penjara terhadapnya.


Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda