Kebakaran Prancis-Spanyol Hanguskan 121.000 Hektare, Ekonom Eropa: Panas Ekstrem Kini Jadi Risiko Ekonomi

Kebakaran hutan di Prancis dan Spanyol beberapa pekan terakhir meninggalkan lebih dari lanskap hitam. Bagi ekonom Eropa, ini bukti bahwa gelombang panas sudah berubah wujud.
Bukan lagi sekadar cuaca buruk tahunan. Tapi risiko yang langsung memukul pertumbuhan.
Mengutip CNBC Minggu (2/8/2026), kebakaran di kedua negara telah menghanguskan sekitar 300.000 ekar atau sekitar 121.000 hektare lahan. Sekitar 300.000 orang terpaksa mengungsi di puncak musim liburan. Skalanya sampai dibandingkan media internasional dengan kebakaran besar Los Angeles.
Di Prancis barat daya, di sekitar Bordeaux, api bergerak cepat lewat hutan pinus. Lebih dari 100.000 ekar terbakar di area itu saja dan 220.000 warga serta turis dievakuasi. Di Spanyol, pemerintah bahkan untuk pertama kalinya mendeklarasikan status darurat nasional karena kebakaran hutan.
World Meteorological Organization (WMO) dalam laporan kondisi Eropa 2025 mencatat tren yang jelas: risiko kebakaran hutan terus naik, jumlah kebakaran besar bertambah dan durasi musim kebakaran makin panjang.
Terpisah dari tren itu, WMO juga mencatat Eropa Barat baru saja mengalami Juni terpanas sepanjang sejarah pengamatan pada tahun ini. Musim panas 2026 memang tidak biasa.
Menteri Ekonomi dan Keuangan Prancis Roland Lescure menyebut kebakaran terbaru ini sebagai pukulan keras bagi ekonomi lokal. Dalam pemberitaan Wall Street Journal, ia bahkan menggambarkan kebakaran itu sebagai "economic thunderbolt". Pernyataan yang masuk akal. Kebakaran sebesar ini langsung memukul pariwisata, hotel, restoran, dan aktivitas bisnis di wilayah terdampak.
Yang bikin isu ini lebih besar dari bencana hutan adalah rambatannya.
Suhu ekstrem membebani layanan kesehatan, kebutuhan listrik untuk pendingin, transportasi, pertanian, industri asuransi, sampai kas negara. Sejumlah ekonom memperingatkan Eropa sudah mengalami tiga gelombang panas dalam enam pekan terakhir, dan itu berpotensi menekan produktivitas tenaga kerja, mengganggu rantai pasok, melemahkan pariwisata, sekaligus mendorong harga pangan naik.
Georg Zachmann, peneliti senior di Bruegel, lembaga riset kebijakan energi dan iklim, menyebut situasi ini sebagai "tantangan ekonomi yang sangat besar" dalam program Squawk Box Europe milik CNBC. Menurutnya sistem yang ada harus beradaptasi secepat mungkin, sementara laju perubahan iklim juga harus diperlambat agar tidak sampai di titik yang tidak bisa ditangani lagi. Ini pandangan pakar kebijakan, bukan pernyataan resmi lembaga.
Carsten Brzeski, Kepala Riset Makro Global ING, punya istilah yang banyak dikutip. Dalam analisisnya awal Juni lalu, ia menyebut gelombang panas kini telah berubah menjadi "variabel makro" yang harus diperhitungkan seperti data inflasi atau pengangguran.
Riset bersama Universitas Mannheim dan Bank Sentral Eropa (ECB) yang menganalisis musim panas 2025 menemukan gelombang panas, kekeringan, dan banjir menyebabkan hilangnya sekitar 0,3% dari total output ekonomi kawasan, setara sekitar 43 miliar euro. Studi yang sama memproyeksikan kerugian itu bisa membengkak jadi akumulasi 0,8% output, atau sekitar 126 miliar euro, pada 2029 kalau penurunan produktivitas, gangguan pasok, dan pelemahan pariwisata terus berulang.
Perlu digarisbawahi: ini hasil pemodelan ekonomi, bukan kepastian yang sudah terjadi. Peneliti sendiri menyebut estimasi ini cenderung konservatif karena belum memasukkan kebakaran hutan, hujan es, dan badai ke dalam hitungan.
Dari sisi komoditas, kakao, kopi, dan gandum disebut paling rentan. Panen terancam, harga di pasar global berpotensi naik.
Zachmann menyoroti sisi yang sering luput: anggaran negara.
Evakuasi, operasi pemadaman, dan pembangunan kembali infrastruktur rusak membebani kas. Sebagai ilustrasi skala biaya, ia menyinggung kebakaran California 2025 yang menurut perkiraannya menelan biaya langsung US$40-60 miliar dengan biaya tidak langsung bisa mencapai US$300 miliar. Angka itu ia sampaikan sebagai ilustrasi, bukan audit resmi untuk kebakaran Eropa saat ini.
Bencana yang datang tiba-tiba juga bisa memicu inflasi. Biaya hidup naik, premi risiko untuk membangun properti di wilayah rawan bencana ikut terkerek.
Tren jangka panjangnya terlihat di asuransi. Laporan Allianz Commercial mencatat klaim kerugian akibat cuaca ekstrem global senilai US$56,3 miliar pada 2010, melonjak sekitar enam kali lipat dari US$8,7 miliar pada 2000. Sektor paling terdampak meliputi utilitas dan energi, properti, konstruksi, pertanian, dan transportasi. Ini data tren satu dekade, bukan angka musim panas tahun ini.
Di tengah proyeksi kelam, Brzeski memberi catatan yang lebih berimbang. Seperti bencana besar pada umumnya, kebakaran di Prancis dan Spanyol juga bisa memunculkan aktivitas ekonomi baru lewat rekonstruksi.
Tukang bangunan, pemasok material, dan sektor konstruksi akan bergerak. Tapi itu tidak menghapus inti persoalan.
Gelombang panas yang datang tiap tahun membuat cuaca ekstrem tidak bisa lagi diperlakukan sebagai kejadian luar biasa yang sesekali terjadi. Ia kini masuk ke dalam kalkulasi risiko yang harus diantisipasi pemerintah, pengusaha, dan industri asuransi setiap musim panas.
Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda