Kasus Pencurian Rahasia AI Google: Vonis Espionase Ding Dibatalkan Sebagian Hakim

Hakim Federal AS Batalkan Sebagian Vonis Mantan Insinyur Google dalam Kasus Pencurian Rahasia Dagang AI.
Seorang hakim federal Amerika Serikat, Kamis (20/8), membatalkan sebagian vonis terhadap Linwei Ding, mantan insinyur perangkat lunak Google yang sebelumnya dinyatakan bersalah mencuri rahasia dagang teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk kepentingan dua perusahaan asal China.
Hakim Distrik AS Vince Chhabria, yang menangani perkara ini di San Francisco, menilai bukti yang diajukan jaksa tidak cukup kuat untuk membuktikan bahwa Ding mengetahui atau berniat agar perbuatannya menguntungkan pemerintah China — sebuah unsur yang wajib dipenuhi untuk menjerat seseorang dengan tujuh dakwaan spionase ekonomi. Meski begitu, Chhabria menegaskan bukti tetap mendukung vonis bersalah atas pencurian rahasia dagangnya.
Berikut ini yang perlu Anda ketahui soal duduk perkaranya:
Ding, warga negara China, dinyatakan bersalah pada Januari lalu setelah persidangan yang berlangsung 11 hari. Ia terjerat tujuh dakwaan spionase ekonomi dan tujuh dakwaan pencurian rahasia dagang atas tindakannya mencuri ribuan halaman dokumen rahasia.
Tiga pekan setelah putusan bersalah dijatuhkan, tim kuasa hukum Ding mengajukan permohonan pembebasan, dengan argumen bahwa Departemen Kehakiman AS gagal membuktikan dakwaan secara meyakinkan.
Setiap dakwaan spionase ekonomi membawa ancaman maksimal 15 tahun penjara dan denda 5 juta dolar AS, sementara setiap dakwaan pencurian rahasia dagang mengancam maksimal 10 tahun penjara dan denda 250 ribu dolar AS.
Ding dijadwalkan menjalani sidang vonis pada 1 September mendatang, menurut catatan pengadilan.
Kuasa hukum Ding — yang juga dikenal dengan nama Leon Ding — menyatakan kliennya lega dengan putusan ini. Departemen Kehakiman AS belum memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi.
Kasus ini bermula dari dakwaan awal pada Maret 2024, yang kemudian diperluas lewat dakwaan pengganti pada Februari 2025. Menurut jaksa, Ding mencuri informasi terkait infrastruktur perangkat keras dan platform perangkat lunak yang memungkinkan pusat data superkomputer Google melatih model-model AI berskala besar.
Sebagian cetak biru chip yang diduga dicuri itu disebut-sebut dirancang untuk memberi Google — yang berada di bawah Alphabet — keunggulan atas pesaingnya di bisnis komputasi awan, Amazon dan Microsoft, sekaligus mengurangi ketergantungan Google pada chip buatan Nvidia.
Jaksa menyebut Ding bergabung dengan Google sejak Mei 2019, dan mulai melakukan pencurian data tiga tahun kemudian — bertepatan dengan masa ketika ia tengah didekati oleh sebuah perusahaan teknologi rintisan asal China untuk bergabung.
Google sendiri tidak didakwa dalam kasus ini. Perusahaan itu menyatakan telah bekerja sama dengan aparat penegak hukum, namun belum memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi terbaru.

Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda