Fotografer veteran Amerika Serikat, Heidi Levine (63), harus dirawat di rumah sakit setelah dikeroyok pemukim Israel saat meliput panen zaitun di desa Abu Falah, Tepi Barat, pada Jumat, 16 Oktober 2026. Insiden brutal itu memicu kecaman keras dari pemerintah Amerika Serikat.
Levine yang bertugas untuk The Washington Post menuturkan, puluhan pemukim bertopeng turun dari puncak bukit sambil membakar ladang dan pohon-pohon zaitun, melempari batu, bahkan melepaskan tembakan. Ia dikelilingi lima hingga enam orang, dijatuhkan ke tanah, lalu ditendang berulang kali selama sekitar 10 menit. Kamera, tas, paspor, dan ponselnya dirampas.
Ia dilarikan ke Rumah Sakit Pemerintah Ramallah dalam kondisi patah tulang rusuk dan ruas tulang belakang, serta cedera parah di jari yang harus menjalani operasi. Saat kejadian, ia mengenakan helm dan rompi bertanda pers yang jelas terlihat.
Saksi: Para Penyerang Sudah Bersiap
Jurnalis Jasper Nathaniel yang menyaksikan serangan itu menuturkan, ia melihat para pemukim memakai topeng dan mengambil pentungan di puncak bukit sebelum menyerbu ke bawah. Tentara Israel yang tiba di lokasi justru menembakkan gas air mata ke arah warga Palestina.
"Saya khawatir dia akan dibunuh," kata Nathaniel, yang membantu menyelamatkan Levine. Ia menyebut sejumlah pemuda Palestina memberi perlindungan hingga ia bisa menjangkau Levine.
Bulan Sabit Merah Palestina menyebut pihaknya merawat dua korban pemukulan pemukim, termasuk perempuan berusia 63 tahun.
Washington Mengecam Keras
Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, mengecam keras serangan itu sebagai "tindakan teror keji yang dilakukan para pengecut bertopeng" dan menuntut penyelidikan penuh, penangkapan, serta penuntutan seberat-beratnya.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut pemerintah Washington "sangat terganggu" dengan kejadian tersebut dan mendesak Israel menindak tegas kekerasan pemukim.
Sepuluh Tersangka Ditangkap
Polisi Israel menggelar operasi bernama "Olive Leaf" dan menangkap sedikitnya 10 tersangka. Penangkapan itu juga berkaitan dengan serangan terhadap rombongan diplomat Eropa di kota Kristen Taybeh sehari setelah kejadian.
Kelompok hak asasi Israel, Yesh Din, mencatat lebih dari 530 insiden kekerasan pemukim sejak musim panen dimulai akhir September — rata-rata 27 insiden per hari.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu justru mencoba meragukan kejadian tersebut dengan menyebut "serious questions remain" di media sosial X. Sebaliknya, rival politiknya Gadi Eisenkot menyebut serangan itu "tidak dapat diterima", dan Presiden Isaac Herzog menelepon Levine langsung untuk meminta maaf.
Sumber: CNN Indonesia


Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda