Jepang Temukan Potensi Rare Earth di Dasar Laut, Bidik Kurangi Ketergantungan pada ChinaJepang Temukan Potensi Rare Earth di Dasar Laut, Bidik Kurangi Ketergantungan pada China

QAPLO - Jepang mengumumkan temuan potensi logam tanah jarang (*rare earth*) di dasar laut sekitar Pulau Minamitori, sebuah pulau terpencil di Samudra Pasifik. Penemuan ini dinilai penting karena dapat memperkuat pasokan mineral strategis dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan Jepang terhadap impor dari China yang selama ini mendominasi pasar global.
Hasil analisis pemerintah Jepang terhadap sampel lumpur dasar laut menunjukkan sekitar 54 persen kandungan mineral yang ditemukan terdiri atas logam tanah jarang kategori menengah dan berat. Kelompok mineral ini memiliki nilai ekonomi tinggi karena menjadi bahan baku berbagai industri berteknologi maju.
Meski hasil awal dinilai menjanjikan, pemerintah Jepang belum mengungkap estimasi total cadangan logam tanah jarang di lokasi tersebut. Alasannya, pengambilan sampel masih dilakukan dalam area dan periode penelitian yang terbatas sehingga data yang tersedia belum cukup untuk menghitung besarnya deposit secara menyeluruh.
Sampel diperoleh melalui misi kapal pengeboran ilmiah Chikyu yang berlangsung selama satu bulan dan berakhir pada Februari 2026. Lokasi pengeboran berada sekitar 1.900 kilometer di tenggara Tokyo dengan kedalaman sekitar enam kilometer di bawah permukaan laut.
Menurut pemerintah Jepang, misi tersebut menjadi yang pertama di dunia yang berhasil mengangkat lumpur dasar laut yang mengandung logam tanah jarang secara berkelanjutan dari kedalaman ekstrem. Keberhasilan itu juga menjadi uji awal bagi teknologi eksplorasi laut dalam yang selama ini menghadapi tantangan teknis dan biaya tinggi.
Logam tanah jarang merupakan sekelompok unsur kimia yang berperan penting dalam berbagai industri modern. Meski disebut "langka", unsur-unsur tersebut sebenarnya cukup banyak ditemukan di kerak bumi, namun jarang terkonsentrasi dalam jumlah yang ekonomis untuk ditambang.
Material ini menjadi komponen penting dalam pembuatan kendaraan listrik, semikonduktor, turbin angin, perangkat elektronik, sistem pertahanan, hingga peralatan medis.
Dari sekitar 50 ton lumpur yang berhasil diangkat, para peneliti mengidentifikasi beberapa unsur bernilai tinggi, antara lain:
Yttrium, yang banyak digunakan dalam industri kedirgantaraan, energi, serta semikonduktor.
Gadolinium, bahan penting untuk mesin magnetic resonance imaging (MRI) dan berbagai perangkat teknologi tinggi.
Dysprosium, unsur yang dibutuhkan untuk memproduksi magnet berkinerja tinggi pada kendaraan listrik dan sejumlah perangkat elektronik.
Keberadaan unsur-unsur tersebut membuat temuan ini dipandang memiliki nilai strategis bagi pengembangan industri berteknologi tinggi di Jepang.
Pemerintah Jepang berencana melanjutkan proyek ini melalui uji coba penambangan skala besar pada Februari 2027. Dalam tahap tersebut, target produksi mencapai sekitar 350 ton lumpur dasar laut per hari.
Material yang berhasil diangkat nantinya akan dikeringkan di Pulau Minamitori sebelum dikirim ke daratan utama Jepang untuk menjalani proses pemisahan, pemurnian, dan peleburan logam.
Hasil uji coba tersebut akan menjadi dasar untuk menilai apakah produksi logam tanah jarang dari dasar laut dapat dilakukan secara ekonomis dan berkelanjutan.
Manajer proyek dari Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology (JAMSTEC), Kazushige Kikuchi, menyatakan evaluasi terhadap kelayakan industrialisasi proyek ditargetkan selesai pada Maret 2028.
Temuan ini muncul di tengah meningkatnya persaingan global dalam menguasai mineral kritis yang dibutuhkan industri teknologi.
Dalam beberapa tahun terakhir, China memperketat kebijakan ekspor sejumlah logam tanah jarang berat beserta magnet terkait. Pembatasan yang dimulai pada April 2025 kemudian diperluas terhadap ekspor ke Jepang pada Januari 2026, termasuk kepada sejumlah perusahaan konglomerasi.
Kondisi tersebut mendorong Jepang mempercepat upaya diversifikasi sumber bahan baku strategis agar tidak terlalu bergantung pada satu negara pemasok.
Apabila penelitian dan uji coba penambangan berjalan sesuai rencana, Jepang berpeluang memperkuat ketahanan rantai pasok industri domestiknya. Namun demikian, proyek ini masih berada pada tahap pengujian sehingga potensi produksi komersial dan besarnya cadangan logam tanah jarang masih menunggu hasil evaluasi lebih lanjut.
Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda