Iran Luncurkan Rudal Balistik ke Pasukan AS, Konflik Timur Tengah Kembali Memanas

Iran meluncurkan beberapa rudal balistik ke arah pasukan Amerika Serikat di Timur Tengah, Rabu. Militer AS menyebutnya sebagai upaya serangan kejutan. Semuanya berhasil dicegat.
Komando Pusat AS, CENTCOM, mengatakan serangan terjadi pada pukul 17.45 ET. Pelakunya adalah pasukan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Tidak ada laporan korban atau kerusakan di pihak AS.
Ini bukan insiden tunggal. Menurut CENTCOM, Iran kini telah melakukan lebih dari 600 percobaan serangan terhadap personel AS di Irak. Rentetan rudal terbaru ini terjadi sekitar seminggu setelah empat tentara AS tewas dalam pertempuran sebelumnya.
Serangan balasan AS-Saudi di Irak timur
Hampir bersamaan, AS dan Arab Saudi melancarkan serangan udara bersama di Irak timur. Targetnya adalah situs logistik dan senjata milik milisi yang didukung Iran.
Serangan itu disebut sebagai respons atas lebih dari 30 serangan drone dalam 72 jam terakhir yang ditujukan ke Arab Saudi.
Kelompok Iraqi Popular Mobilization Forces (PMF) mengatakan sedikitnya 20 anggotanya tewas dan 32 terluka dalam serangan semalam. PMF adalah koalisi kelompok bersenjata Syiah yang didukung Iran, namun secara resmi berada di bawah komando militer Irak.
Seorang pejabat AS mengatakan kepada Associated Press bahwa serangan AS-Saudi tersebut tidak terkait dengan rentetan rudal Iran ke pasukan AS.
Kantor Presiden Irak Nizar Amidi mengecam serangan itu. Ia menyebutnya sebagai "serangan yang tidak dapat diterima dan pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan Irak, menargetkan institusi keamanan resminya."
Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyatakan pihaknya "tidak mencari eskalasi tetapi akan merespons setiap agresi."
Yordania cegat lima rudal
IRGC dalam pernyataan yang dikutip kantor berita negara IRNA mengatakan rudal mereka ditujukan ke Pangkalan Udara Muwaffaq Salti dan markas CENTCOM di Yordania.
Militer Yordania mengonfirmasi lima rudal Iran telah dicegat dan dihancurkan. Tidak ada laporan korban.
Pangkalan Muwaffaq Salti merupakan salah satu pangkalan utama operasi AS di kawasan.
Tiga tanker dihentikan di Selat Hormuz
Di jalur pelayaran paling sensitif, Selat Hormuz, Garda Revolusi Iran mengatakan pihaknya menghentikan tiga kapal tanker minyak karena mengabaikan peringatan dan menggunakan rute yang dianggap tidak aman dan ilegal.
IRGC memperingatkan bahwa setiap perintah militer AS kepada kapal-kapal di kawasan itu "tidak akan dibiarkan tanpa jawaban."
Selat Hormuz menjadi titik panas konflik. Sekitar seperlima minyak dan gas alam cair global mengalir lewat selat ini sebelum perang.
Ketegangan di selat juga memicu manuver diplomatik. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan Teheran menolak proposal Oman untuk mengelola lalu lintas kapal bersama. Proposal Oman membagi selat menjadi dua rute, masing-masing 50% pelayaran.
Iran mengajukan kontra-proposal berupa rencana sementara transit kapal melalui perairan teritorialnya. Gharibabadi menegaskan kebijakan Iran adalah selat "tidak akan pernah kembali ke situasi sebelum perang," ketika kapal melintas bebas. Oman berada di sisi lain Selat Hormuz.
Pertemuan Trump dengan Netanyahu dan Zelenskyy
Eskalasi ini terjadi kurang dari 24 jam setelah Presiden AS Donald Trump bertemu terpisah dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di Gedung Putih.
Pertemuan Trump-Netanyahu adalah pertemuan tatap muka pertama sejak perang dimulai, berlangsung sekitar 90 menit. Gedung Putih menyebutnya "positif dan produktif."
Saat ditanya langkah selanjutnya terkait Iran, Trump menyinggung risiko serangan terhadap infrastruktur.
"Saya memikirkan sekitar 91 juta orang tanpa listrik, tanpa jembatan, untuk hidup. Dan itu keseimbangan yang sangat, sangat rapuh. Jadi, saya pikir kita punya posisi yang sangat kuat sekarang," kata Trump.
Belum ada informasi resmi mengenai apakah jeda diplomasi yang sempat dijaga pekan lalu masih akan berlanjut setelah rentetan serangan Rabu ini.
Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda