Breaking
Memuat breaking news...

Iran Klaim Pasang Ranjau di Selat Hormuz, Trump Ancam Hancurkan Infrastruktur Iran

Qaplo
Qaplo
Kamis, 23 Juli 2026 - 9.08 AM WIB
Iran Klaim Pasang Ranjau di Selat Hormuz, Trump Ancam Hancurkan Infrastruktur Iran
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

TEHERAN - Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, Hossein Mohebbi, mengklaim jalur selatan Selat Hormuz telah dipasangi ranjau, Rabu (22/7). Klaim ini muncul pada hari yang sama dengan ancaman Presiden AS Donald Trump untuk menghancurkan jembatan atau pembangkit listrik di Iran, termasuk di Teheran, setiap kali Iran menyerang kapal yang melintasi selat tersebut.

"Jalur selatan Selat Hormuz yang telah dipasangi ranjau akan menghancurkan investasi Anda. Jangan terjebak oleh tipu daya Amerika Serikat," kata Mohebbi.

Klaim semacam ini bukan yang pertama dari pihak Iran — pekan lalu, IRGC juga menuding dua kapal tanker meledak akibat ranjau di jalur yang sama, namun militer AS langsung membantahnya. Pola ini menegaskan bahwa klaim dari kedua pihak dalam konflik — baik soal ranjau dari Iran maupun ancaman infrastruktur dari AS — sejauh ini sulit diverifikasi secara independen dan kerap menjadi bagian dari perang informasi antarnegara.

Terkait jalur selatan ini, anggota Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ahmad Bakhshayesh Ardestani, menyampaikan kepada RIA Novosti bahwa upaya AS mengalihkan lalu lintas kapal lewat jalur menuju Oman itulah yang justru memicu eskalasi saat ini — versi Iran menyebut Teheran menginginkan seluruh kapal tetap transit melalui jalur yang dikuasainya.

Sejalan dengan itu, Komando Pusat Khatam al-Anbiya Iran kembali menyatakan bahwa, menurut pihak Iran, Selat Hormuz masih tertutup bagi pelayaran, dan setiap kapal yang melintas nantinya wajib melalui rute yang ditetapkan Iran — bukan rute alternatif yang didorong AS.

Ketegangan di selat ini sempat mereda. Pada malam menuju 18 Juni, Iran dan AS menandatangani memorandum penghentian perang yang bermula sejak 28 Februari. Namun sejak 8 Juli, pasukan AS kembali melancarkan serangan yang menurut Komando Pusat AS (CENTCOM) merupakan respons atas tindakan Iran terhadap kapal komersial di Hormuz. Iran membalas dengan menyerang sejumlah pangkalan militer AS di Timur Tengah, hingga Trump menyatakan gencatan senjata AS-Iran tidak lagi berlaku.

Perang AS-Israel melawan Iran ini meletus akhir Februari 2026, dipicu serangan udara AS dan Israel ke sasaran militer Iran. Sejak itu, Selat Hormuz — jalur yang dilalui sekitar seperempat perdagangan minyak dan seperlima pasokan gas alam cair dunia — berulang kali ditutup-buka mengikuti eskalasi di lapangan. Gencatan senjata pertengahan Juni sempat memunculkan harapan penyelesaian damai, tapi bentrokan baru pecah awal Juli setelah AS kembali memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran. Ancaman Trump pada 22 Juli sendiri muncul di tengah eskalasi terpisah di Laut Merah, setelah kelompok Houthi yang berafiliasi dengan Iran mengancam memblokade Selat Bab-el-Mandeb — rute energi penting lain yang membuat sejumlah kapal tanker mengubah arah pelayarannya.

Selat Hormuz adalah satu-satunya jalur laut yang menghubungkan Teluk Persia dengan lautan lepas, dan menjadi rute ekspor utama minyak dari Arab Saudi, Irak, hingga Uni Emirat Arab. Sinyal bahwa jalurnya dipasangi ranjau — terlepas dari benar-tidaknya klaim tersebut — sudah cukup membuat perusahaan pelayaran menghindari rute ini, dan itu sendiri berkontribusi pada lonjakan harga minyak dunia sejak konflik ini pecah.

Sebagai negara yang sebagian kebutuhan energinya bergantung pada impor, Indonesia turut merasakan dampak tidak langsung dari gangguan di Hormuz lewat kenaikan harga minyak dan biaya logistik global. Ketidakpastian di jalur pelayaran strategis ini juga berisiko memperlambat arus perdagangan dan menaikkan biaya asuransi kapal, yang pada akhirnya bisa terasa di harga barang impor dalam negeri.

Selama Trump dan IRGC sama-sama memakai ancaman infrastruktur sebagai alat tekan, risiko salah perhitungan di lapangan tetap tinggi — terutama karena eskalasi di Bab-el-Mandeb kini menambah tekanan pada jalur energi lain di luar Hormuz. Upaya mediasi, termasuk yang sempat dijembatani Pakistan, masih berjalan, tapi belum ada tanda kedua pihak bersedia melonggarkan klaim kontrolnya atas selat tersebut dalam waktu dekat. (sputnik)

Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait