Qaplo.com - Tim nasional Irak akhirnya kembali ke putaran final Piala Dunia setelah menunggu selama 40 tahun. Pada Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, Singa Mesopotamia akan tampil untuk kedua kalinya
Qaplo.com - Tim nasional Irak akhirnya kembali ke putaran final Piala Dunia setelah menunggu selama 40 tahun. Pada Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, Singa Mesopotamia akan tampil untuk kedua kalinya sepanjang sejarah mereka di turnamen sepak bola antarnegara terbesar tersebut.
Berdasarkan laporan laman resmi FIFA, Irak tergabung di Grup I bersama Prancis, Senegal, dan Norwegia. Grup ini menjadi tantangan berat karena Irak akan menghadapi lawan dengan kualitas, pengalaman, dan karakter permainan berbeda.
Piala Dunia 2026 akan berlangsung pada 12 Juni hingga 20 Juli. Bagi Irak, turnamen ini bukan hanya ajang kembali tampil di panggung dunia, tetapi juga kesempatan memperbaiki catatan dari debut mereka pada 1986.
Kembali Setelah Debut pada 1986
Irak pertama kali tampil di Piala Dunia pada edisi 1986 di Meksiko. Saat itu, mereka berada satu grup dengan Paraguay, Belgia, dan tuan rumah Meksiko.
Perjalanan Irak tidak panjang. Mereka menelan tiga kekalahan di fase grup dan gagal melangkah ke babak berikutnya.
Meski begitu, edisi 1986 tetap memiliki tempat khusus dalam sejarah sepak bola Irak. Gol Ahmed Radhi ke gawang Belgia masih menjadi satu-satunya gol Irak di putaran final Piala Dunia hingga saat ini.
Kini, generasi baru Irak datang dengan peluang menulis cerita berbeda. Target paling realistis adalah tampil lebih kompetitif, mencuri poin, dan membuka peluang meraih kemenangan pertama di Piala Dunia.
Jalur Kualifikasi yang Panjang
Perjalanan Irak menuju Piala Dunia 2026 tidak mudah. Mereka harus melewati rangkaian kualifikasi panjang sebelum akhirnya memastikan tiket ke putaran final.
Irak memulai langkah dari putaran kedua Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia. Pada tahap ini, mereka tampil kuat dengan menyapu bersih enam pertandingan dan lolos ke putaran berikutnya.
Namun, perjalanan menjadi lebih rumit pada putaran ketiga. Performa yang tidak sepenuhnya konsisten membuat Irak gagal merebut tiket otomatis setelah tertinggal satu poin dari posisi lolos langsung.
Harapan kemudian berlanjut ke putaran keempat Kualifikasi Asia. Irak menang 1-0 atas Indonesia dan bermain imbang 0-0 melawan Arab Saudi pada Oktober 2025. Namun, mereka kalah selisih gol dalam perebutan tiket langsung.
Playoff Jadi Jalan Terakhir
Setelah gagal mendapatkan tiket otomatis, Irak harus menjalani putaran kelima melawan Uni Emirat Arab. Dari sana, mereka melaju ke playoff antarbenua.
Laga penentuan berlangsung di Monterrey, Meksiko. Irak mengalahkan Bolivia 2-1 berkat gol Ali Al-Hamadi dan Aymen Hussein.
Kemenangan itu membuat Irak menjadi tim terakhir yang merebut tiket ke Piala Dunia 2026. Bagi para pemain dan pendukungnya, hasil tersebut menutup perjalanan panjang yang penuh tekanan.
Keberhasilan ini memberi nilai lebih karena Irak lolos melalui persaingan berlapis yang menguji konsistensi tim.
Graham Arnold Jadi Sosok Penting
Pelatih Graham James Arnold menjadi salah satu figur penting di balik keberhasilan Irak kembali ke Piala Dunia. Arnold sebelumnya membawa Australia mencapai babak 16 besar Piala Dunia 2022.
Pengalaman itu menjadi modal penting bagi Irak. Turnamen sebesar Piala Dunia membutuhkan kesiapan taktik, mental, dan kemampuan mengelola tekanan dalam pertandingan besar.
Arnold ditunjuk menangani Irak pada 2025. Di bawah arahannya, Singa Mesopotamia berhasil melewati fase penting kualifikasi dan playoff hingga kembali ke putaran final setelah empat dekade.
Aymen Hussein dan Ali Al-Hamadi Jadi Tumpuan
Di lini depan, Irak mengandalkan Aymen Hussein. Penyerang ini menjadi salah satu pemain penting Irak dalam beberapa tahun terakhir dan ikut mencetak gol dalam laga playoff melawan Bolivia.
Ali Al-Hamadi juga menjadi nama yang patut diperhatikan. Golnya di playoff antarbenua menjadi salah satu momen penting yang membantu Irak mengamankan tiket Piala Dunia 2026.
Di lini tengah, Irak memiliki Zidane Iqbal dan Amir Al-Ammari. Keduanya diharapkan mampu menjaga alur permainan, menghubungkan lini belakang dan depan, serta membantu Irak keluar dari tekanan lawan.
Sementara itu, Ali Jasim menjadi salah satu talenta muda yang menarik perhatian. Kecepatan dan keberaniannya dapat menjadi senjata Irak, terutama saat mengandalkan transisi cepat.
Irak akan menghadapi tantangan besar di Grup I. Prancis menjadi lawan paling berat di grup karena memiliki pengalaman panjang dan kualitas skuad yang kuat di level dunia.
Senegal juga bukan lawan ringan. Tim Afrika tersebut dikenal memiliki fisik kuat, kecepatan, dan pengalaman tampil di turnamen besar.
Norwegia menjadi tantangan lain dengan permainan Eropa yang disiplin dan kualitas individu yang bisa menyulitkan pertahanan Irak.
Dengan komposisi grup tersebut, Irak diperkirakan datang sebagai salah satu tim yang tidak diunggulkan. Namun, status itu juga bisa memberi ruang bagi mereka untuk bermain tanpa tekanan berlebihan dan memanfaatkan momen ketika lawan lengah.
Apa yang Perlu Diperhatikan?
Kunci Irak di Piala Dunia 2026 ada pada disiplin bertahan dan efektivitas serangan. Melawan tim-tim kuat, mereka tidak bisa terlalu banyak memberi ruang di area berbahaya.
Pengalaman panjang kualifikasi dapat menjadi modal mental. Irak sudah melewati banyak laga menentukan, termasuk playoff antarbenua yang menuntut konsentrasi tinggi.
Namun, Piala Dunia memiliki level tekanan berbeda. Irak perlu menjaga keseimbangan antara bertahan rapat dan mencari peluang lewat serangan balik, bola mati, atau kesalahan lawan.
Bagi publik Irak, kehadiran tim nasional di Piala Dunia memiliki arti emosional karena penantian ini berlangsung selama empat dekade. Turnamen ini menjadi momen penting bagi generasi baru Singa Mesopotamia untuk memperlihatkan perkembangan sepak bola Irak.
Irak kembali ke Piala Dunia setelah perjalanan panjang yang dimulai dari kualifikasi Asia hingga playoff antarbenua. Kemenangan atas Bolivia di Monterrey menjadi titik penentu kembalinya Singa Mesopotamia ke panggung dunia.
Grup I tidak akan mudah karena Irak harus menghadapi Prancis, Senegal, dan Norwegia. Namun, dengan pengalaman Graham Arnold, ketajaman Aymen Hussein, kontribusi Ali Al-Hamadi, serta energi pemain muda seperti Ali Jasim, Irak memiliki peluang untuk tampil lebih kompetitif.
Setelah 40 tahun menanti, Piala Dunia 2026 menjadi kesempatan Irak untuk mengejar kemenangan pertama dan melampaui catatan generasi 1986.