Breaking
Memuat breaking news...

Investor Global Bidik Data Center 1,3 GW di Indonesia, Nilai Investasi Diperkirakan Capai Rp325 Triliun

Qaplo
Qaplo
Sabtu, 11 Juli 2026 - 5.51 AM WIB
Investor Global Bidik Data Center 1,3 GW di Indonesia, Nilai Investasi Diperkirakan Capai Rp325 Triliun
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA - Indonesia berpeluang menarik investasi baru di sektor infrastruktur digital senilai hingga US$20 miliar atau sekitar Rp325 triliun. Peluang tersebut muncul setelah sejumlah investor global menyatakan minat membangun pusat data (data center) dengan total kapasitas mencapai 1,3 gigawatt (GW), seiring meningkatnya kebutuhan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan layanan digital.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, kapasitas pusat data yang direncanakan para investor itu jauh melampaui kapasitas data center yang saat ini telah beroperasi di Indonesia, yakni sekitar 580 megawatt (MW). Dengan kata lain, tambahan investasi tersebut berpotensi lebih dari dua kali lipat memperbesar kapasitas pusat data nasional.

Airlangga mengungkapkan perusahaan teknologi asal Amerika Serikat, Nvidia, menjadi salah satu calon investor yang berminat mengembangkan pusat data di Indonesia melalui kerja sama dengan mitra dari Australia.

Selain Nvidia, PT Telkom Indonesia juga disebut melakukan investasi di sektor yang sama. Sementara itu, Airlangga mengatakan kawasan Karawang, Jawa Barat, diproyeksikan menjadi salah satu lokasi ekspansi sejumlah perusahaan teknologi global atau Big Tech.

Menurut Airlangga, kebutuhan terhadap pusat data terus meningkat karena menjadi infrastruktur utama yang menopang perkembangan teknologi AI.

"Selain itu, ada investasi langsung dari Telkom. Kemudian di Karawang, hampir seluruh perusahaan Big Tech akan mengembangkan dan memperluas pusat data mereka. Hal ini karena data center saat ini menjadi kunci utama pengembangan kecerdasan buatan (AI), yang sangat bergantung pada komputasi kuantum," ujar Airlangga.

Pusat data merupakan fasilitas yang berfungsi menyimpan, mengelola, dan memproses data dalam jumlah sangat besar. Infrastruktur ini menjadi fondasi berbagai layanan digital, seperti komputasi awan (cloud computing), transaksi keuangan digital, perdagangan elektronik, media sosial, hingga pengembangan aplikasi berbasis AI.

Bertambahnya kapasitas pusat data memungkinkan lebih banyak data diproses secara cepat dan stabil. Kondisi ini penting untuk mendukung kebutuhan komputasi perusahaan teknologi, layanan publik digital, serta berbagai inovasi yang memanfaatkan kecerdasan buatan.

Dengan kapasitas tambahan sebesar 1,3 GW, Indonesia juga berpeluang memperkuat posisinya sebagai salah satu tujuan investasi pusat data di Asia Tenggara yang pertumbuhan ekonomi digitalnya termasuk paling pesat.

Pemerintah menilai pembangunan pusat data harus diimbangi dengan ketersediaan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi di bidang teknologi informasi, semikonduktor, dan kecerdasan buatan.

Karena itu, pemerintah terus mempercepat berbagai program pengembangan talenta digital agar kebutuhan industri dapat terpenuhi dalam beberapa tahun ke depan.

Sebagai bagian dari strategi tersebut, Indonesia telah menjalin kemitraan dengan perusahaan semikonduktor asal Inggris, Arm Ltd., untuk memperkuat ekosistem industri digital dari sisi hulu.

Melalui kerja sama itu, pemerintah menargetkan sekitar 15.000 insinyur Indonesia dapat bergabung dalam ekosistem global Arm sehingga memperoleh pengalaman dan akses terhadap pengembangan teknologi semikonduktor yang digunakan di berbagai perangkat digital modern.

Airlangga menjelaskan strategi pemerintah di sektor digital berbeda dengan kebijakan hilirisasi yang diterapkan pada sektor mineral.

Menurut dia, pemerintah lebih dahulu memperkuat sektor hulu melalui pengembangan teknologi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Langkah tersebut diharapkan menjadi fondasi bagi tumbuhnya industri digital yang memiliki nilai tambah lebih tinggi di dalam negeri.

"Kalau di sektor mineral kita memiliki kebijakan hilirisasi, maka di sektor digital kita justru bergerak ke hulu. Setelah sektor hulunya kuat, pada akhirnya kita akan kembali bergerak ke hilir. Namun, kunci dari seluruh proses itu adalah sumber daya manusia," kata Airlangga.

Masuknya investasi pusat data dalam skala besar diperkirakan tidak hanya memperkuat infrastruktur digital nasional, tetapi juga membuka peluang investasi lanjutan di sektor teknologi, komputasi awan, layanan AI, dan industri semikonduktor.

Di sisi lain, kebutuhan terhadap tenaga kerja berkeahlian tinggi juga diperkirakan akan terus meningkat. Karena itu, keberhasilan Indonesia memanfaatkan peluang investasi ini tidak hanya bergantung pada pembangunan pusat data, tetapi juga pada kesiapan menghasilkan talenta digital yang mampu mengembangkan dan mengoperasikan teknologi tersebut secara berkelanjutan. (ant)

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait