Indonesia dan Prancis Perkuat Kerja Sama Perfilman, Fokus Kembangkan Talenta dan PendanaanIndonesia dan Prancis Perkuat Kerja Sama Perfilman, Fokus Kembangkan Talenta dan Pendanaan

JAKARTA - Indonesia dan Prancis memperluas kemitraan di sektor perfilman melalui sejumlah program yang mencakup pengembangan talenta, produksi film bersama (co-production), pelestarian arsip sinema, hingga penyusunan skema pendanaan jangka panjang. Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat ekosistem perfilman nasional agar lebih kompetitif di tingkat internasional.
Komitmen tersebut dibahas dalam pertemuan Menteri Kebudayaan Fadli Zon dengan Duta Besar Prancis untuk Indonesia Fabien Penone serta perwakilan Centre national du cinéma et de l'image animée (CNC) di Jakarta, Jumat (10/7).
Menurut Fadli, sektor film dan audiovisual menjadi salah satu bidang strategis dalam hubungan budaya Indonesia dan Prancis. Karena itu, kedua negara ingin memastikan kolaborasi yang dibangun tidak berhenti pada kerja sama seremonial, melainkan menghasilkan program yang memberi dampak nyata bagi pelaku industri.
"Kami berkomitmen memperkuat ekosistem perfilman dengan menjaga warisan sinema melalui pengarsipan dan restorasi, sekaligus menyiapkan talenta-talenta baru melalui program inkubasi," ujar Fadli.
Pertemuan tersebut membahas penguatan tata kelola perfilman, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pengembangan animasi, perlindungan hak kekayaan intelektual, hingga peluang produksi film bersama antara Indonesia dan Prancis.
Selain itu, kedua pihak juga menaruh perhatian pada pelestarian warisan sinema melalui program pengarsipan dan restorasi agar karya-karya penting tetap terjaga untuk generasi mendatang.
Fadli mengatakan pemerintah juga terus memperkuat kelembagaan perfilman nasional, termasuk melalui kepengurusan baru Badan Perfilman Indonesia (BPI), sebagai bagian dari upaya membangun industri yang lebih profesional.
Salah satu fokus pembahasan adalah pengembangan mekanisme pembiayaan yang tidak hanya bergantung pada dukungan jangka pendek.
Pemerintah tengah menjajaki pembentukan dana abadi (endowment fund) serta berbagai skema pendanaan jangka panjang lainnya untuk mendukung keberlanjutan industri film nasional.
Dana abadi merupakan skema pembiayaan yang hasil pengelolaan investasinya dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan, sehingga diharapkan mampu menjadi salah satu sumber pendanaan yang lebih stabil bagi pengembangan perfilman Indonesia.
Menurut Fadli, pengalaman CNC dalam membangun ekosistem perfilman Prancis dapat menjadi referensi penting bagi Indonesia dalam memperkuat tata kelola industri dan sistem pembiayaannya.
Kolaborasi kedua negara akan berlanjut melalui penyelenggaraan Indonesia-France Film Lab ketiga di Yogyakarta pada November 2026.
Program tersebut menghadirkan lokakarya penulisan skenario dan pendampingan dari La Fémis, salah satu sekolah film terkemuka di Prancis, untuk membantu meningkatkan kualitas karya para sineas muda Indonesia.
Selanjutnya, pada Desember 2026, CNC akan menjadi tuan rumah forum co-production Indonesia-Prancis di Paris. Forum ini diharapkan membuka peluang lahirnya proyek film bersama sekaligus mempertemukan rumah produksi, investor, dan pelaku industri dari kedua negara.
Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Fabien Penone, menyambut baik komitmen Indonesia dalam memperluas kemitraan budaya melalui sektor perfilman.
Menurutnya, Prancis siap mendukung pengembangan talenta, mempererat kolaborasi industri, serta memperluas pertukaran pengetahuan sebagai bagian dari penguatan hubungan budaya kedua negara.
Kerja sama internasional di sektor perfilman tidak hanya membuka peluang produksi film bersama, tetapi juga memperluas akses sineas Indonesia terhadap jaringan industri global, teknologi produksi, dan pasar internasional.
Di sisi lain, penguatan kelembagaan serta pengembangan skema pendanaan yang lebih berkelanjutan diharapkan memberi ruang yang lebih besar bagi lahirnya karya-karya baru. Jika program-program tersebut berjalan sesuai rencana, pelaku industri film Indonesia berpeluang memperoleh dukungan yang lebih kuat untuk meningkatkan kualitas produksi sekaligus memperluas daya saing di pasar global.
Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda