Indonesia dan India Sepakat Bangun Kemitraan AI, Tak Mau Hanya Jadi Pasar

Indonesia dan India membuka babak baru kerja sama digital. Fokusnya langsung ke inti: riset, talenta, infrastruktur, hingga pengembangan kecerdasan buatan (AI).
Sinyal itu disampaikan Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria. Keterangan tertulisnya diterima di Jakarta, Sabtu, 1 Agustus 2026. Sehari sebelumnya, Nezar berbicara di acara An Overview of the AI Roadmap of Indonesia di Jakarta Selatan.
Pesan utamanya jelas. Hubungan kedua negara yang sudah terjalin sejak era jalur rempah berabad-abad lalu kini harus naik kelas. Bukan sekadar perdagangan, tapi kolaborasi teknologi yang manfaatnya dirasakan warga.
"Karena India dan Indonesia bukanlah pesaing yang mengejar jalur sempit yang sama di bidang AI. Kita saling melengkapi," ujar Nezar.
Nezar punya alasan. India sudah lebih dulu membangun infrastruktur publik digital dalam skala besar. Sistem identitas Aadhaar, pembayaran UPI, hingga Misi IndiaAI menjadi rujukan.
Pendekatan India dinilai demokratis. Akses komputasi dan data tidak dikunci untuk segelintir korporasi. Startup, peneliti, bahkan talenta dari daerah bisa ikut membangun. Model ini yang menurut Nezar relevan untuk Indonesia.
Berdasarkan siaran pers Kementerian Komunikasi dan Digital, Indonesia menyiapkan Peta Jalan Nasional Kecerdasan Artifisial. Dokumen ini menempatkan etika, desain yang berpusat pada manusia, dan pengembangan talenta sebagai prioritas menuju Indonesia Emas 2045. Peta jalan inilah yang akan jadi pijakan membawa kerja sama dengan India ke tahap implementasi.
Ini bagian paling tegas dari pernyataan Nezar.
Indonesia tidak ingin terus diposisikan sebagai pasar bagi produk AI global. Tempat untuk menjual, bukan tempat membangun.
"Selama ini, persaingan global untuk AI telah memperlakukan negara-negara seperti Indonesia sebagai pasar. Tempat untuk menjual produk AI, bukan tempat di mana AI dibangun. Saya ingin menolak kerangka berpikir tersebut malam ini, dengan hormat namun tegas," katanya.
Pasar saja tidak cukup. Pemerintah mendorong penguatan di empat lapis sekaligus: perangkat lunak, komputasi, pusat data, dan talenta digital.
Modalnya ada. Nezar menyebut tiga. Pertama, cadangan nikel dan mineral kritis yang menjadi bahan baku semikonduktor. Kedua, populasi muda dalam jumlah besar sebagai bonus demografi. Ketiga, posisi strategis Indonesia di persimpangan Indo-Pasifik.
Kombinasi ini yang membuat Indonesia dan India saling mengunci. Dalam pertemuan bilateral sebelumnya di sela AI Impact Summit di New Delhi, Rabu 18 Februari 2026, Nezar dan Sekretaris Kementerian Elektronika dan Teknologi Informasi India S.Krishnan menyepakati lima area prioritas: AI dan teknologi baru, Infrastruktur Publik Digital, desain chip dan rantai pasok semikonduktor, keamanan siber dan tanggap darurat, serta peningkatan kapasitas talenta.
Momentum kemitraan menguat setelah kunjungan kenegaraan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Jakarta. Pada 7 Juli 2026 di Istana Merdeka, Presiden Prabowo Subianto dan PM Modi menyaksikan penandatanganan 16 dokumen kerja sama strategis, mulai dari pertahanan, kesehatan, hingga telekomunikasi.
Kerja sama ekonomi digital menjadi salah satu turunannya. Termasuk penjajakan integrasi sistem pembayaran digital dan pengembangan Indonesia Open Network sebagai fondasi kolaborasi AI. Rincian teknis Open Network belum dibuka secara resmi.
Tindak lanjutnya lebih konkret. Nezar mendorong tiga langkah: pertukaran peneliti AI, pengembangan startup lintas negara, dan peningkatan investasi riset dan pengembangan perusahaan teknologi India di Indonesia.
Ia bahkan mengajak kamar dagang India-Indonesia, Indcham, untuk lebih selektif.
"Saya mengajak Indcham untuk membantu kami mengidentifikasi perusahaan-perusahaan India, mulai dari pemimpin layanan TI hingga perusahaan rintisan berbasis AI, yang siap membangun kehadiran riset dan pengembangan yang nyata di Indonesia, bukan hanya kantor penjualan," tambah Nezar.
Komitmen akhirnya tetap sama. Setiap kolaborasi harus memberikan manfaat nyata, bukan sekadar seremoni penandatanganan. Tujuannya, memperluas akses teknologi bagi UMKM, pekerja informal, dan layanan publik, sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045.
Kalau peta jalan ini berjalan, masa depan AI di Asia memang tidak hanya ditulis di Silicon Valley. Jakarta dan New Delhi ingin ikut memegang penanya.
Pernyataan Wamenkomdigi Nezar Patria diverifikasi dari keterangan resmi Kementerian Komunikasi dan Digital (portal.komdigi.go.id) dan laporan pertemuan bilateral 18 Februari 2026. Data 16 kerja sama Indonesia-India merujuk pada agenda kenegaraan di Istana Merdeka, 7 Juli 2026. Penyebutan tanggal acara "31/8" dalam bahan awal kami sesuaikan menjadi 31 Juli 2026, yang secara kalender jatuh pada hari Jumat dan berdekatan dengan keterangan 1 Agustus 2026.
Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda