Breaking
Memuat breaking news...

Indonesia-China Percepat Program TCTP, Kawasan Industri Batang Jadi Prioritas

Qaplo
Qaplo
Kamis, 23 Juli 2026 - 8.37 AM WIB
Indonesia-China Percepat Program TCTP, Kawasan Industri Batang Jadi Prioritas
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA - Indonesia dan China sepakat mempercepat pelaksanaan program Two Countries Twin Parks (TCTP) dengan menyusun daftar prioritas proyek-proyek industri strategis. Langkah ini diambil untuk mendorong perdagangan, investasi, dan kolaborasi lintas negara yang selama ini berjalan lewat skema TCTP tersebut.

Kesepakatan ini muncul dari pertemuan bilateral antara Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Wakil Gubernur Provinsi Fujian Zhao Zenglian di Jakarta, Rabu (22/7). Pertemuan ini membahas sejumlah agenda kolaborasi ekonomi, dengan fokus utama pada percepatan pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Batang Industropolis.

Batang mendapat sorotan khusus karena statusnya yang disematkan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai "Shenzhen-nya Indonesia" saat meresmikan kawasan ini pada Maret 2025 — merujuk pada kota pelabuhan China yang berkembang pesat menjadi pusat manufaktur dan teknologi global sejak resmi ditetapkan sebagai zona ekonomi khusus pada 1980. Perbandingan ini bisa dibaca sebagai gambaran ambisi pemerintah menjadikan Batang motor baru industrialisasi di Jawa Tengah, meski pembuktiannya baru akan terlihat dari seberapa cepat proyek-proyek di kawasan ini benar-benar berjalan.

"Salah satu caranya adalah dengan mempercepat implementasi berbagai proyek konkret dalam kerangka program TCTP," kata Airlangga dalam pernyataannya.

Sejauh ini, skema TCTP antara Indonesia dan China telah menghasilkan 30 nota kesepahaman (MoU) yang melibatkan kawasan ekonomi, pemerintah daerah, hingga pelaku usaha. Nilai investasi yang diperkirakan dari kerja sama ini mencapai sekitar Rp37,1 triliun, atau setara US$2,3 miliar.

Dari pihak Fujian, Zhao Zenglian memaparkan sejumlah langkah strategis untuk mengoptimalkan kemitraan ini, mulai dari memperkuat koordinasi antarpemangku kepentingan, mengidentifikasi sektor-sektor bernilai tinggi, hingga membangun mekanisme tindak lanjut yang lebih terstruktur.

"Kami siap bekerja sama dengan pemerintah Indonesia untuk mendorong pembangunan kawasan dalam program TCTP," tegas Zhao, seraya menambahkan bahwa Pemerintah Provinsi Fujian berkomitmen penuh membangun ekosistem bersama ini.

Untuk mendukung ekosistem bisnis, kedua pihak juga menyoroti fasilitasi perdagangan, koordinasi kepabeanan, dan perluasan akses pasar — tiga hal yang menentukan seberapa lancar rantai pasok bisa berjalan dan seberapa menarik kawasan ini di mata investor.

Hasil pertemuan ini akan diintegrasikan pemerintah Indonesia ke dalam rencana induk (master plan) yang menjadi acuan teknis pelaksanaan TCTP ke depan. Sebagai penutup pertemuan, Zhao secara resmi mengundang Airlangga mewakili Indonesia dalam China International Fair for Investment and Trade (CIFIT), salah satu forum investasi dan perdagangan global terbesar, yang akan digelar 8 September 2026 di Kota Xiamen.

Two Countries Twin Parks adalah skema yang memasangkan kawasan industri di Indonesia dengan kawasan mitra di China, sehingga investasi, teknologi, dan rantai pasok bisa mengalir lebih mudah di antara keduanya. Batang Industropolis dipilih sebagai proyek unggulan karena lokasinya strategis di jalur Pantura Jawa Tengah dan statusnya sebagai KEK yang mendapat berbagai insentif fiskal untuk menarik investor asing.

Nilai investasi Rp37,1 triliun dari 30 MoU memang belum seluruhnya terealisasi — nota kesepahaman baru menandai komitmen awal, bukan dana yang sudah cair. Meski begitu, angka ini menjadi indikator seberapa besar minat pelaku usaha China terhadap kawasan industri Indonesia, terutama dari provinsi Fujian yang dikenal sebagai basis manufaktur dan pelabuhan penting di China selatan.

Percepatan proyek semacam ini biasanya berimbas langsung pada penyerapan tenaga kerja lokal, pertumbuhan sektor pendukung seperti logistik dan properti, serta peningkatan pendapatan daerah dari pajak dan retribusi. Namun realisasinya sangat bergantung pada seberapa cepat proyek-proyek dalam daftar prioritas ini benar-benar berjalan, bukan sekadar tertuang di atas kertas kesepakatan.

Undangan bagi Airlangga untuk hadir di CIFIT September mendatang menjadi penanda bahwa kemitraan ini akan berlanjut ke tahap presentasi proyek-proyek konkret di hadapan investor global. Publik dan pelaku usaha bisa menjadikan forum tersebut sebagai titik untuk melihat apakah komitmen-komitmen yang dibahas dalam pertemuan Jakarta ini benar-benar berlanjut menjadi investasi nyata. (ant)

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait