Breaking
Memuat breaking news...

Indonesia-AS Jajaki Kerja Sama Baru dari Penerbangan hingga AI, Bukan Sekadar Dagang

Redaksi
Redaksi
Jumat, 31 Juli 2026 - 6.44 AM WIB
Indonesia-AS Jajaki Kerja Sama Baru dari Penerbangan hingga AI, Bukan Sekadar Dagang
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Hubungan ekonomi Indonesia dan Amerika Serikat tidak boleh berhenti pada angka perdagangan. Pernyataan itu disampaikan Duta Besar RI untuk AS Indroyono Soesilo saat bertemu jajaran perusahaan Amerika di Washington, Selasa 28 Juli.

Pertemuan atas inisiatif Dewan Bisnis AS-ASEAN tersebut digelar untuk memetakan peluang yang lebih dalam. Pangan, penerbangan, pertambangan, pertahanan, teknologi, hingga kecerdasan buatan masuk dalam pembahasan.

Keterangan tertulis KBRI Washington DC yang diterima di Jakarta, Jumat, mengutip penegasan Dubes Indroyono:

"Yang jauh lebih penting adalah bagaimana perdagangan dan investasi bisa menciptakan nilai tambah, memperkuat industri nasional, membuka lapangan kerja, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan membawa teknologi baru ke Indonesia."

Dari Boeing hingga NVIDIA

Spektrum kepentingan bisnis AS di Indonesia memang lebar.

Di penerbangan, Boeing punya hubungan panjang dengan maskapai nasional lewat penggunaan pesawat komersial. Peluang berikutnya yang dibidik adalah penguatan rantai pasok dan industri komponen di dalam negeri.

Di pertahanan dan kedirgantaraan, Lockheed Martin melihat peluang kerja sama modernisasi alutsista dan penguatan kapasitas industri nasional.

Sektor tambang masih jadi jangkar. Freeport-McMoRan melalui PT Freeport Indonesia terus mengelola sumber daya mineral, termasuk investasi pada infrastruktur tambang dan smelter.

Pangan jadi fondasi lain. Cargill berperan di perdagangan jagung, kedelai, dan gandum. Caterpillar sudah memasok alat berat untuk tambang dan konstruksi di Indonesia sejak 1971.

Ada juga sisi konsumsi dan keberlanjutan. PepsiCo menjalankan inisiatif lingkungan seperti pengelolaan kemasan dan penanaman pohon.

Yang baru, teknologi. NVIDIA terlibat dalam pengembangan talenta AI bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI. Walmart Foundation mendorong rantai pasok berkelanjutan dan kesejahteraan petani. Chubb berkontribusi pada literasi keuangan dan manajemen risiko.

Direktur Indonesia Investment Promotion Center New York Tessal Maharizky Febrian memaparkan data terbaru dalam pertemuan itu.

Investasi Amerika Serikat ke Indonesia pada semester pertama 2026 tercatat sekitar 1,7 miliar dolar AS.

Untuk 2025, nilai ekspor Indonesia ke AS diperkirakan sekitar 31 miliar dolar AS atau sekitar 11 persen dari total ekspor Indonesia secara global. Nilai perdagangan bilateral kedua negara sekitar 43,8 miliar dolar AS.

Komoditas utama ekspor Indonesia ke AS masih didominasi manufaktur. Produk elektronika sekitar 6 miliar dolar AS, tekstil 4,9 miliar dolar AS, alas kaki 2,8 miliar dolar AS, minyak sawit 2,1 miliar dolar AS, furnitur 1,4 miliar dolar AS, dan produk perikanan sekitar 1,2 miliar dolar AS.

Sebaliknya, Indonesia mengimpor kedelai, kapas, gandum, pesawat terbang dan produk ruang angkasa atau satelit, mesin, produk kesehatan, bahan kimia, serta teknologi informasi dan telekomunikasi dari AS.

Menurut Dubes Indroyono, fondasinya kuat. Tapi ruang tumbuh masih besar. Pasar domestik yang besar, sumber daya alam strategis, posisi geografis di jalur perdagangan, plus agenda hilirisasi dan transformasi digital membuat Indonesia punya daya tawar.

Dubes yang dilantik Presiden Prabowo Subianto pada 25 Agustus 2025 ini juga menyoroti pekerjaan rumah di dalam negeri.

Perlindungan hak cipta dan kekayaan intelektual, konsistensi regulasi antara pusat dan daerah, efisiensi logistik, dan kualitas SDM disebut perlu diperkuat.

Pelaku usaha AS pun memberi masukan. Reformasi perizinan lewat Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berbasis Risiko dinilai langkah positif. Aturan itu memberi kepastian berusaha yang selama ini ditunggu investor.

Kompetisinya tidak ringan. Negara-negara di kawasan sama-sama berebut modal global.

"Indonesia tidak hanya bersaing untuk mendapatkan modal, tetapi juga harus mampu menjadi tempat di mana teknologi, talenta, industri, dan rantai pasok global dapat tumbuh bersama," kata Indroyono.

Harapannya, kerja sama ini tidak berhenti pada peningkatan nilai investasi dan ekspor. Targetnya lebih jauh: membawa Indonesia naik kelas dalam rantai nilai global. Dari pemasok bahan mentah menjadi negara dengan industri pengolahan, teknologi, dan inovasi yang lebih kuat.

Tambahkan QAPLO sebagai sumber utama Google Discovery
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait