Breaking
Memuat breaking news...

Impor RI Tembus US$137,24 Miliar di Semester I 2026, Migas Naik Paling Kencang

Redaksi
Redaksi
Senin, 3 Agustus 2026 - 8.41 PM WIB
Impor RI Tembus US$137,24 Miliar di Semester I 2026, Migas Naik Paling Kencang
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Nilai impor Indonesia melonjak di paruh pertama tahun ini. Badan Pusat Statistik mencatat total impor Januari-Juni 2026 mencapai US$137,24 miliar, naik 18,69 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Angka itu diumumkan BPS di Jakarta, Senin (3/8/2026). Kenaikannya terjadi di dua sektor sekaligus.

"Sepanjang Januari sampai dengan Juni 2026, total impor naik 18,69 persen jika dibandingkan periode yang sama di tahun yang lalu. Kenaikan impor terjadi baik pada sektor migas maupun nonmigas," ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono.

Secara persentase, migas yang naik paling tajam. Sepanjang semester I, impor migas tercatat US$22 miliar. Tumbuh 38,71 persen dibanding tahun lalu.

Porsi terbesar tetap dipegang nonmigas. Nilainya US$115,23 miliar, naik 15,50 persen. Karena basisnya jauh lebih besar, kenaikan di kelompok ini tetap memberi dampak signifikan terhadap total impor nasional.

Kalau dilihat dari golongan penggunaannya, semua kelompok naik. Tapi penopangnya jelas: bahan baku dan barang penolong.

Nilainya US$97,95 miliar sepanjang Januari-Juni 2026, tumbuh 18,38 persen. BPS menyebut kelompok ini sebagai penyumbang utama kenaikan impor, dengan andil 13,15 persen terhadap total peningkatan.

"Kelompok ini menjadi penyumbang utama kenaikan impor dengan andil 13,15 persen terhadap total peningkatan impor," kata Ateng.

Ada tiga komoditas yang paling mendorong kenaikan di kelompok ini. Pertama bahan bakar mineral dengan kode HS27, kedua mesin dan perlengkapan elektrik beserta bagiannya HS85, ketiga garam, belerang, batu, dan semen HS25.

Komposisinya menggambarkan kebutuhan yang masih tinggi untuk energi dan input industri. Bahan bakar mineral dan komponen elektrik banyak dipakai untuk pembangkit listrik dan lini produksi manufaktur.

Tren bulanan justru lebih kencang. Pada Juni 2026 saja, nilai impor tercatat US$25,91 miliar. Melonjak 34,27 persen dibanding Juni 2025.

Migas melompat lebih dari dua kali lipat. Naik 105,15 persen menjadi US$4,56 miliar. Nonmigas mencapai US$21,35 miliar, tumbuh 25,05 persen. BPS menyebut kenaikan tahunan di Juni terutama didorong oleh nonmigas.

Pola yang sama terlihat di golongan penggunaan. Barang konsumsi naik 17,46 persen. Bahan baku dan barang penolong lagi-lagi tertinggi, tumbuh 38,94 persen dengan andil 26,94 persen terhadap kenaikan total impor bulan itu. Barang modal ikut naik 26,53 persen.

Di sisi lain, ekspor bergerak lebih lambat.

BPS mencatat ekspor Juni 2026 sebesar US$25,46 miliar, naik 8,84 persen secara tahunan. Nonmigas menyumbang US$24,39 miliar, tumbuh 9,46 persen. Ekspor migas turun 3,78 persen menjadi US$1,07 miliar.

Secara kumulatif, ekspor Januari-Juni 2026 mencapai US$140,81 miliar. Tumbuh 4,13 persen dibanding semester pertama tahun lalu.

Selisihnya dengan impor masih menghasilkan surplus. Dari perhitungan angka ekspor dan impor kumulatif yang dirilis BPS, neraca semester I 2026 surplus sekitar US$3,57 miliar.

Tapi khusus Juni, ceritanya berbalik. Impor bulan itu US$25,91 miliar, sedikit di atas ekspor US$25,46 miliar. Hasilnya defisit tipis sekitar US$0,45 miliar. Perlu dicatat, angka surplus dan defisit ini merupakan hitungan dari selisih data ekspor-impor yang dipublikasikan, bukan angka neraca dagang resmi yang disebutkan langsung dalam keterangan BPS.

Lonjakan impor bahan baku dan barang modal biasanya dibaca sebagai sinyal industri dalam negeri sedang bekerja lebih kencang. Pabrik butuh input lebih banyak untuk produksi.

Risikonya ada di migas. Impor migas yang tumbuh hampir 39 persen di semester I dan lebih dari 100 persen di Juni menunjukkan ketergantungan energi impor masih tinggi. Ketika impor energi naik jauh lebih cepat dari ekspornya, tekanan ke neraca dagang bisa muncul, apalagi jika harga minyak dunia ikut menguat.

BPS belum merilis rincian proyeksi untuk bulan-bulan berikutnya. Arah tren baru akan terlihat dari rilis data selanjutnya.

Tambahkan QAPLO sebagai sumber utama Google Discovery
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait