JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup pekan lalu dengan rekor buruk. Indeks longsor 11,57 persen ke level 5.185,11 pada perdagangan Jumat, mencatatkan penurunan harian terdalam sejak krisis 1998 sekaligus menyentuh posisi terendah tahun ini. Dalam sepekan, IHSG kehilangan 14,91 persen atau 908,65 poin dari 6.093,76.
Pemicu utama guncangan adalah pengumuman MSCI yang membuka konsultasi perubahan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Begitu perdagangan Jumat dibuka, IHSG langsung jatuh 8,01 persen ke 5.393,92 sehingga Bursa Efek Indonesia (BEI) memberlakukan penghentian sementara perdagangan (trading halt) selama 30 menit. Sesi pertama ditutup melemah 10,76 persen ke 5.233, lalu sesi kedua melanjutkan koreksi hingga 5.185,11.
Tekanan berlangsung merata ke seluruh sektor. Sektor barang baku menjadi yang paling tertekan dengan koreksi 13,37 persen, disusul kesehatan 13,16 persen dan infrastruktur 13,00 persen. Indeks LQ45 ikut tergerus 13,82 persen ke 508,56. Sebanyak 812 saham melemah berbanding hanya 11 saham yang menguat, dengan nilai transaksi sekitar Rp32 triliun pada perdagangan Jumat.
“Investor asing mencatatkan net sell Rp2,92 triliun di sesi I yang dipimpin BBCA Rp1,98 triliun, BBRI Rp631 miliar, BMRI Rp485 miliar. Total net sell asing dalam sepekan mencapai Rp3,34 triliun dan YTD Rp88,19 triliun,” tegas Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Ardy Irianto Subekti, Senin (19/10).
Sentimen Global dan Domestik Membebani
Menurut Ardy, pelemahan IHSG dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik. Dari pasar global, kekhawatiran inflasi Amerika Serikat menjadi fokus utama karena menentukan arah suku bunga The Fed. Inflasi CPI AS September tercatat 3,7 persen secara tahunan, di atas ekspektasi pasar 3,6 persen, sementara inflasi di tingkat produsen (PPI) melonjak 6,3 persen tahunan. Kondisi ini memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama, bahkan membuka peluang kenaikan lanjutan.
Eskalasi geopolitik di Timur Tengah turut menambah beban. Harga minyak Brent menyentuh US$110 per barel pada Jumat setelah meningkatnya serangan di sekitar Selat Hormuz. Arus minyak melalui selat itu turun ke 11,6 juta barel per hari, hanya 68 persen dari kondisi normal 17,1 juta barel per hari.
Dari dalam negeri, sorotan MSCI tertuju pada Indonesia. MSCI menilai klasifikasi Emerging Market tidak lagi tepat, dengan catatan pada struktur kepemilikan yang kurang transparan, dugaan perdagangan terkoordinasi, serta reformasi yang dinilai belum konsisten. Proses masih berada pada tahap konsultasi dengan masukan hingga 30 April 2027 dan keputusan final paling lambat 30 Juni 2027.
Ardy memperkirakan potensi dana asing yang keluar mencapai Rp105–132 triliun atau setara US$5,8–7,3 miliar jika reklasifikasi benar-benar terjadi, dengan saham BBCA, BBRI, BMRI, TLKM, dan ASII paling rentan terdampak.
Respons Otoritas dan Skenario IPOT
Menanggapi kekhawatiran pasar, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menjatuhkan denda total Rp2,1 triliun kepada pihak-pihak terkait perdagangan saham DSSA, BREN, dan CUAN, serta menegaskan komitmen melanjutkan reformasi. Sejak Januari 2026, OJK telah menindak 835 pihak dengan sanksi lebih dari Rp390 miliar. BEI menyatakan akan meminta klarifikasi kepada MSCI dan mengimbau investor tetap rasional, sementara Danantara menyatakan siap melakukan akumulasi pada saham-saham berfundamental kuat.
Secara teknikal, IHSG sudah menembus support 5.342 dan neckline 6.000 dari pola Head and Shoulders, sehingga bias pasar masih bearish. Gap turun dari 5.863,78 ke area 5.404 akan menjadi tahanan (resistance) apabila terjadi pemulihan.
“Penurunan yang dalam membuka peluang technical rebound, namun arah selanjutnya bergantung pada arus dana asing dan respons otoritas terhadap isu MSCI serta stabilitas harga minyak,” ujar Ardy.
Dalam skenario moderat, IPOT memproyeksikan IHSG bergerak konsolidatif mencari titik terendah di rentang 5.180–5.450. Skenario optimistis membawa indeks rebound menuju 5.600 hingga 5.800 apabila klarifikasi otoritas kepada MSCI berjalan meyakinkan. Sebaliknya, skenario pesimistis membuka risiko penurunan lanjutan menuju 4.950–5.000 apabila arus keluar dana asing terealisasi dan Rupiah menembus Rp18.100 per dolar AS.
Rekomendasi Saham Pekan Ini
Menghadapi pasar yang bergejolak, IPOT menyarankan strategi defensif dan selektif dengan alokasi kas 30–40 persen untuk akumulasi bertahap, serta buy on breakout dengan disiplin stop loss ketat pada sejumlah saham berikut:
1. BBCA — Entry di atas 5.950, target 6.225, stop loss di bawah 5.850. Bank besar cenderung pulih lebih cepat berkat likuiditas paling dalam dan menjadi incaran utama investor asing saat kembali masuk.
2. ASII — Entry di atas 4.490, target 5.200, stop loss di bawah 4.470. Konglomerat defensif dengan katalis dividen interim Rp98 per saham dan rencana buyback Rp8 triliun dalam 12 bulan. Arus kas stabil dengan net buy asing Rp134,4 miliar sepekan.
3. EMAS — Entry di atas 7.620, target 8.500, stop loss di bawah 7.400. Pilihan lindung nilai yang rasional di tengah pelemahan Rupiah dan kenaikan harga emas global, serta tidak terkait isu tata kelola bursa domestik.
4. XGLD (Premier ETF Gold Sharia Indonesia) — Reksa dana ETF emas berbasis syariah yang kembali membuktikan kinerjanya sebagai jangkar pelindung nilai portofolio saat Rupiah melemah tajam.
Sumber: Waspada.id


Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda