Pasar keuangan Indonesia diguncang tekanan hebat pada perdagangan Jumat (16/10/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka terjun bebas hingga memicu trading halt, sementara nilai tukar rupiah ikut melemah hingga menembus level Rp18.070 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pemicunya adalah kabar dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membuka konsultasi atas usulan menurunkan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Reuters melaporkan, pada pembukaan perdagangan IHSG langsung anjlok 8 persen sehingga perdagangan dihentikan sementara selama 30 menit. Setelah dibuka kembali, penurunan indeks bahkan sempat menyentuh 11 persen — kejatuhan harian terdalam sejak Januari 1998. Sejak awal tahun, IHSG tercatat telah kehilangan hampir 40 persen nilainya dan menjadi pasar saham dengan kinerja terburuk di kawasan.
Pengamat ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, menilai sentimen negatif dari MSCI menjadi faktor utama yang menekan pasar domestik. MSCI menilai transparansi dan tata kelola pasar saham Indonesia belum menunjukkan perbaikan yang cukup, mulai dari struktur kepemilikan saham yang dinilai buram hingga dugaan praktik perdagangan terkoordinasi.
"Tekanan yang terjadi di pasar keuangan domestik saat ini tidak terlepas dari sentimen negatif terkait MSCI. Ketika muncul kemungkinan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia, pelaku pasar akan mencermati dampaknya terhadap minat investasi dan arus modal asing," ujar Gunawan, Jumat (16/10).
MSCI mengumumkan konsultasi tersebut pada Kamis (15/10). Dalam keterangannya, penyedia indeks global itu menilai status emerging market Indonesia sudah tidak lagi tepat. Keputusan final akan diumumkan pada akhir Juni 2027, dengan batas masukan peserta pasar hingga 30 April 2027. MSCI menyatakan akan tetap melanjutkan usulan tersebut kecuali konsultasi menunjukkan bukti jelas adanya perbaikan material pada tata kelola pasar.
Kekhawatiran pelaku pasar bukan tanpa alasan. Status standalone akan mengeluarkan saham-saham Indonesia dari indeks global yang menjadi acuan dana-dana pasif bernilai miliaran dolar, sehingga memaksa manajer dana yang mengikuti indeks itu untuk menjual kepemilikannya.
Rupiah ikut tertekan ke Rp18.070
Tekanan juga merembet ke pasar valuta. Rupiah pada perdagangan pagi melemah ke level Rp18.070 per dolar AS, titik terendah sejak awal Agustus dan mendekati rekor terlemah sepanjang masa di Rp18.190.
"Pelemahan rupiah saat ini berlangsung bersamaan dengan tekanan besar di pasar saham. Situasi tersebut membuat arah pergerakan pasar keuangan domestik sulit diproyeksikan secara pasti, terutama jika sentimen negatif masih mendominasi perdagangan," ungkap Gunawan.
Menurut Gunawan, pelaku pasar perlu mencermati perkembangan lanjutan terkait MSCI. Selama ketidakpastian belum mereda, IHSG tetap rentan terhadap tekanan jual, terutama jika investor memilih mengurangi risiko dengan melepas kepemilikan saham.
Dibayangi data ekonomi AS
Selain isu MSCI, data ekonomi Amerika Serikat juga membayangi pasar. Indeks harga produsen (PPI) AS pada September 2026 naik 1,3 persen secara bulanan, klaim pengangguran tercatat 199 ribu, dan penjualan ritel tumbuh 0,8 persen secara bulanan. Kombinasi data tersebut memengaruhi ekspektasi arah suku bunga bank sentral AS (The Fed) yang pada akhirnya menentukan pergerakan dolar dan aliran modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
Sumber: IHSG Kena Trading Halt Usai Kabar MSCI, Rupiah Tembus Rp18.070 per Dolar AS — Waspada.id


Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda