Breaking
Memuat breaking news...

IHSG dan Rupiah Tertekan, Pelaku Pasar Pasang Mode Wait and See Jelang Keputusan MSCI

Redaksi
Redaksi
Rabu, 12 Agustus 2026 - 4.28 PM WIB
IHSG dan Rupiah Tertekan, Pelaku Pasar Pasang Mode Wait and See Jelang Keputusan MSCI
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Pelaku pasar keuangan domestik hari ini memilih bersikap hati-hati, menunggu kepastian dari sejumlah agenda penting di dalam maupun luar negeri sebelum mengambil posisi lebih jauh di pasar saham maupun mata uang.

Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan salah satu perhatian utama pasar hari ini adalah hasil evaluasi indeks MSCI (Morgan Stanley Capital International) yang dijadwalkan terbit dini hari nanti. MSCI merupakan penyedia indeks global yang jadi acuan banyak investor institusional dalam menentukan alokasi investasi mereka ke suatu negara, termasuk Indonesia.

Yang jadi sorotan kali ini adalah apakah MSCI akan mencabut kebijakan pembekuan (freeze) penyesuaian Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS) untuk saham-saham Indonesia. Sederhananya, FIF dan NOS adalah dua faktor teknis yang menentukan seberapa besar bobot saham Indonesia dalam indeks global MSCI — dan itu ikut memengaruhi seberapa besar dana asing yang mengalir masuk lewat produk investasi yang mengacu ke indeks tersebut.

"Pelaku pasar akan mencermati keputusan MSCI, karena hasil evaluasi tersebut berpotensi memberikan pengaruh terhadap pasar saham domestik," ujar Gunawan, Rabu (12/8/2026).

Dari sisi pergerakan indeks, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat melemah pada perdagangan kemarin, sebelum berbalik menguat ke level 6.277 di pembukaan perdagangan hari ini. Meski begitu, Gunawan menilai penguatan itu belum sepenuhnya mencerminkan optimisme pasar — pelaku pasar masih menahan diri sambil menunggu keputusan MSCI.

Rupiah pun kembali tertekan. Mata uang Garuda melemah ke level Rp17.860 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan pagi. Menurut Gunawan, pelemahan ini berpotensi menambah sentimen negatif bagi IHSG, apalagi di tengah minimnya katalis positif dari pasar.

Selain faktor domestik, pasar juga mencermati dinamika geopolitik di Timur Tengah, khususnya ketegangan di Selat Hormuz — jalur pelayaran strategis untuk pengiriman minyak dunia. Ketegangan ini tercermin dari kembali naiknya harga minyak mentah dunia. Harga minyak jenis Brent pada perdagangan pagi berada di kisaran US$89,4 per barel, mendekati level psikologis US$90 per barel. Kenaikan harga minyak yang berkepanjangan berpotensi menambah tekanan ke pasar keuangan secara keseluruhan.

Tekanan lain datang dari Amerika Serikat, yang akan segera merilis data inflasi terbaru. Inflasi AS diproyeksikan kembali naik, sehingga berpotensi memicu spekulasi soal arah kebijakan suku bunga acuan bank sentral AS, The Federal Reserve — termasuk kemungkinan sikap yang lebih hawkish, alias lebih cenderung menahan atau menaikkan suku bunga demi meredam inflasi.

"Pasar keuangan saat ini menghadapi ancaman tekanan dari sejumlah faktor. Mulai dari potensi kenaikan tekanan inflasi AS, spekulasi kebijakan suku bunga yang lebih hawkish, hingga kemungkinan laporan MSCI yang kurang menguntungkan bagi pasar keuangan domestik," kata Gunawan.

Kombinasi sentimen-sentimen inilah yang membuat ruang gerak pasar keuangan dinilai masih rentan. Investor kemungkinan akan lebih berhati-hati mengambil posisi sampai ada kepastian dari agenda-agenda penting tersebut.

Menariknya, di tengah tekanan pada rupiah dan IHSG, harga emas dunia justru bergerak berlawanan arah — kembali menguat ke level US$4.401 per troy ounce. Gunawan memperkirakan harga emas akan berkonsolidasi di sekitar level psikologis tersebut. Jika dikonversi ke rupiah, harga emas saat ini setara sekitar Rp2,54 juta per gram. Pola ini biasa terjadi ketika investor mencari aset lindung nilai (safe haven) di tengah ketidakpastian pasar global yang meningkat.

Dalam beberapa waktu ke depan, pergerakan rupiah, IHSG, harga minyak mentah, dan harga emas akan jadi hal-hal yang paling diperhatikan pelaku pasar, terutama sambil menunggu hasil evaluasi MSCI dan rilis data inflasi Amerika Serikat.

Tambahkan QAPLO sebagai sumber utama Google Discovery
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait