Jakarta — Tekanan yang mengguncang pasar saham Indonesia dinilai tidak sekadar persoalan teknis perdagangan. Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini, menyebut kejatuhan indeks lebih mencerminkan krisis kepercayaan investor terhadap integritas pasar modal.
“Saham kita jatuh dan anjlok karena masalah trust, ini harus dipulihkan dengan aksi yang bertanggung jawab,” kata Didik dalam keterangannya yang diterima Kompas.com, Jumat (16/10/2026).
Pada perdagangan Jumat (16/10/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 11,57 persen atau 678,67 poin ke level 5.185,11 — kejatuhan harian terdalam sejak krisis 1998 dan level terendah sejak November 2020.
Pemicu: kajian ulang MSCI
Tekanan bermula sehari sebelumnya ketika Morgan Stanley Capital International (MSCI) membuka konsultasi untuk menurunkan klasifikasi Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. MSCI menyoroti ketidakjelasan struktur kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi, serta bukti perbaikan tata kelola yang dinilai belum memadai.
Pada pembukaan Jumat pagi, IHSG langsung merosot 8,01 persen ke 5.393,92 hingga Bursa Efek Indonesia (BEI) memberlakukan trading halt selama 30 menit untuk meredam kepanikan.
Pulihkan kepercayaan
Menurut Didik, persoalan utama bukan sekadar free float saham yang rendah atau aksi jual, melainkan keraguan investor internasional terhadap integritas pasar, otoritas ekonomi, dan pasar modal. Ia mendorong Otoritas Jasa Keuangan (OJK), BEI, dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) memperkuat koordinasi data kepemilikan, mengidentifikasi konsentrasi kepemilikan yang ekstrem, serta menelaah indikasi transaksi terkoordinasi melalui proses yang transparan dan dapat diuji.
“Regulasi untuk memperbaiki kelembagaan dan tata kelola pasar tidak hanya dibuat secara formal, tetapi juga harus ada bukti nyata di lapangan sehingga pasar bisa dipercaya,” tegasnya.
Didik mengingatkan, jika persoalan kepercayaan tidak segera ditangani, konsekuensinya biaya modal perusahaan dapat meningkat dan investor institusional berpotensi mengurangi eksposurnya di pasar saham Indonesia.
Sumber: Pasar Saham RI Tertekan, Ekonom Soroti Kepercayaan Investor — Kompas.com


Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda