Hujan Terparah dalam Sejarah Jepang, Bandara Narita Lumpuh, Ribuan Penumpang Terjebak Semalaman

Bandara Internasional Narita, salah satu pintu masuk utama Jepang, praktis lumpuh total pada Kamis malam hingga Jumat dini hari (13-14/8/2026) setelah hujan ekstrem mengguyur Prefektur Chiba yang mengelilingi kawasan bandara. Banjir yang ditimbulkan memutus akses kereta, bus, dan jalan raya menuju Narita, memadamkan listrik puluhan ribu rumah, dan menewaskan sedikitnya empat orang.
Intensitas hujannya jauh di luar kebiasaan. Di stasiun pengamatan Distrik Midori, Kota Chiba, tercatat sekitar 450 milimeter hujan hanya dalam rentang enam jam sejak pukul 18.00 pada 13 Agustus. Badan Meteorologi Jepang (JMA) sampai mengeluarkan peringatan darurat hujan lebat level tertinggi — level 5 — untuk 22 kota dan wilayah di Chiba, sebuah keputusan yang jarang diambil karena menandakan ancaman nyawa yang mendesak.
Gubernur Chiba, Toshihito Kumagai, bahkan mengaku belum pernah mengalami situasi cuaca seburuk ini sepanjang kariernya menangani bencana.
Dampaknya paling terasa di Narita. Berdasarkan data terbaru yang dihimpun otoritas setempat pada dini hari 14 Agustus, sekitar 7.000 penumpang terjebak di terminal bandara, jauh lebih banyak dari perkiraan awal. Pihak bandara membagikan air minum, makanan, dan kantong tidur kepada para penumpang yang tertahan semalaman.
Kabar baiknya, seluruh penerbangan pada Kamis dijadwalkan tetap beroperasi normal — Japan Airlines menyebut kemungkinan hanya ada keterlambatan, bukan pembatalan.
Soal korban jiwa, data resmi dari pertemuan markas penanggulangan bencana Prefektur Chiba pada pagi 14 Agustus mengonfirmasi empat orang meninggal dunia, satu orang dinyatakan hilang, dan satu orang lainnya mengalami henti jantung. Salah satu korban tewas dilaporkan terjebak di dalam mobil yang tenggelam. Militer Jepang telah dikerahkan ke lokasi untuk membantu proses evakuasi dan pemulihan.
Jalan tol utama di Chiba, termasuk rute yang menghubungkan Narita dengan pusat Kota Tokyo, masih ditutup, memaksa pengendara memutar lewat jalur alternatif dan memicu kemacetan panjang, menurut operator jalan tol NEXCO East. Sebagian layanan kereta juga masih terhenti pada Kamis pagi, meski beberapa jalur yang menghubungkan Narita-Tokyo sudah kembali beroperasi.
Yang membuat kejadian ini terasa lebih berat: banjir ini terjadi tepat di salah satu pekan liburan tersibuk Jepang, saat arus wisatawan domestik maupun mancanegara sedang berada di puncaknya — sehingga dampak gangguan transportasinya dirasakan jauh lebih luas dari biasanya.
Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda