Houthi Klaim Serang Dua Kapal Tanker Minyak Saudi dalam Sehari, Blokade di Laut Merah Kian Memanas

Kelompok Houthi Yaman kembali mengklaim menyerang kapal tanker minyak milik Arab Saudi, kali ini dua unit sekaligus dalam rentang waktu yang berdekatan pada Rabu, 5 Agustus 2026 waktu setempat. Serangan ini menjadi eskalasi terbaru dari blokade maritim yang sudah berjalan sejak pertengahan Juli, di tengah situasi Selat Hormuz yang juga masih tertutup akibat konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Juru bicara militer Houthi, Brigadir Jenderal Yahya Saree, mengatakan kelompoknya "berhasil menargetkan kapal tanker minyak Saudi bernama Wafa di Laut Merah bagian utara, di lepas pantai Yanbu, dengan sejumlah rudal balistik". Pernyataan itu disampaikan melalui video singkat.
Beberapa jam kemudian, Saree kembali mengeluarkan pernyataan terpisah. Kali ini ia mengklaim pasukannya menembakkan rudal balistik ke kapal tanker Daisy yang tengah melintas di Teluk Aden, jalur yang menghubungkan ke Laut Merah. Menurut Saree, kapal itu berhasil dipukul mundur dan terpaksa membatalkan pelayarannya.
Sampai berita ini disusun, otoritas Saudi belum memberikan pernyataan resmi soal kedua insiden tersebut, sehingga klaim Houthi belum bisa diverifikasi secara independen. Pola serupa memang berulang pada hampir setiap klaim serangan kelompok ini—pihak Saudi jarang membenarkan atau membantah secara langsung.
Menurut hitungan yang disampaikan juru bicara Houthi sendiri, Wafa dan Daisy merupakan kapal tanker kedelapan dan kesembilan yang menjadi sasaran sejak blokade mereka terhadap Saudi dimulai bulan lalu. Angka ini perlu dicatat sebagai klaim sepihak Houthi, bukan data yang telah dikonfirmasi lembaga independen.
Houthi mengumumkan larangan pelayaran terhadap kapal-kapal yang berafiliasi dengan Saudi di Laut Merah sejak 20 Juli 2026. Kelompok ini menyebut langkah itu sebagai balasan atas apa yang mereka sebut blokade Saudi terhadap wilayah yang dikuasai Houthi di Yaman—sebuah kebijakan yang mereka namai sendiri sebagai "blokade untuk blokade".
Saree menegaskan bahwa pasukannya terus memantau setiap pergerakan kapal tanker Saudi dan tidak akan mengizinkan satu pun kapal melintasi Laut Merah bagian selatan maupun utara, sampai tuntutan yang mereka sebut "sah" bagi rakyat Yaman dipenuhi dan blokade terhadap wilayah mereka dicabut sepenuhnya.
Yang membuat situasi ini berbeda dari gelombang serangan Houthi sebelumnya adalah alasan di balik perluasan target ke Laut Merah utara. Menurut Saree, ekspansi itu terjadi karena Saudi mulai mengalihkan rute kapal tankernya ke utara, sebagai respons atas blokade yang lebih dulu diberlakukan Houthi di selatan.
Yang membuat tekanan terhadap Arab Saudi terasa lebih berat dibanding episode-episode konflik Houthi sebelumnya adalah posisi negara itu yang kini terjepit dari dua arah sekaligus.
Sejak akhir Februari 2026, Iran menutup Selat Hormuz—jalur pelayaran yang biasanya dilalui sekitar seperempat perdagangan minyak dunia lewat laut—sebagai bagian dari eskalasi perang dengan Amerika Serikat dan Israel. Penutupan itu berlangsung di tengah rangkaian serangan udara AS ke wilayah Iran dan blokade laut yang diberlakukan Washington terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Hingga awal Agustus, konflik ini belum menemukan titik damai meskipun sempat ada beberapa jeda gencatan senjata sementara.
Dengan Hormuz tertutup, Saudi praktis kehilangan salah satu dari dua jalur laut utama untuk mengekspor minyaknya. Satu-satunya jalur alternatif yang tersisa adalah lewat Laut Merah dan Selat Bab al-Mandeb, menuju Terusan Suez. Persoalannya, jalur inilah yang justru kini diblokade Houthi.
Data dari perusahaan pelacak kapal Kpler menggambarkan betapa drastisnya pergeseran ini. Ekspor minyak mentah Saudi lewat laut yang melintasi Bab al-Mandeb melonjak delapan kali lipat antara Maret hingga pertengahan Juli 2026, dibandingkan periode yang sama tahun 2025.
Volumenya bahkan sempat melonjak tajam menjadi hampir 100 juta barel pada Juni saja, jauh di atas angka tujuh juta barel pada Februari. Pada April dan Mei, seluruh ekspor minyak mentah Saudi lewat laut tercatat berangkat dari Pelabuhan Yanbu.
Situasi inilah yang membuat pelabuhan Yanbu—lokasi serangan terhadap kapal Wafa—menjadi begitu penting. Sejak Hormuz tertutup, Yanbu berubah menjadi titik keluar utama minyak Saudi, dan Bab al-Mandeb menjadi jalur transit yang krusial bagi arus minyak mentah kerajaan itu ke pasar dunia.
Dampak ke Harga Minyak Dunia
Pasar merespons cepat begitu kabar serangan terhadap Wafa beredar. Harga minyak Brent, yang sempat melemah, kembali naik di atas 80 dolar AS per barel usai serangan tersebut. Analis di Asas Capital memperingatkan bahwa eskalasi lebih lanjut berisiko memicu "guncangan pasokan yang nyata", mengingat sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz.
Bagi Indonesia dan negara-negara net importir minyak lainnya, situasi ganda ini—Hormuz tertutup, Bab al-Mandeb terancam blokade—berpotensi mendorong harga bahan bakar naik lebih lanjut jika konflik terus memanas. Belum ada tanda-tanda kapan kedua blokade tersebut akan berakhir, dan belum ada jadwal perundingan baru yang diumumkan pihak-pihak yang bertikai hingga berita ini ditulis.
Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda