Breaking
Memuat breaking news...

Hilirisasi Jalan Terus, MIND ID Bidik Pengurangan Emisi 15,5 Persen hingga 2030

Qaplo
Qaplo
Sabtu, 27 Juni 2026 - 4.21 PM WIB
Hilirisasi Jalan Terus, MIND ID Bidik Pengurangan Emisi 15,5 Persen hingga 2030
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA – Perusahaan induk pertambangan BUMN, MIND ID, menargetkan pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 15,5 persen atau sekitar dua juta ton setara karbon dioksida (CO2e) pada 2030. Target tersebut disiapkan seiring meningkatnya kebutuhan energi akibat percepatan program hilirisasi mineral yang dijalankan pemerintah.

Kepala Divisi Keberlanjutan MIND ID, Binahidra Logiardi, mengatakan perusahaan tetap berkomitmen mendukung target Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia sekaligus mendukung agenda nasional menuju net zero emissions.

"Kami berkomitmen mendukung target NDC kedua Indonesia pada 2030 dan aspirasi mencapai net zero emissions," ujar Binahidra dalam keterangan tertulis, Sabtu.

Kebutuhan Energi Diproyeksikan Hampir Dua Kali Lipat

Menurut Binahidra, ekspansi industri hilir membuat tantangan dekarbonisasi di sektor pertambangan semakin besar. Berbagai proyek pengolahan mineral membutuhkan pasokan energi jauh lebih tinggi dibandingkan kegiatan penambangan konvensional.

MIND ID memperkirakan kebutuhan energi grup meningkat dari sekitar 149.000 terajoule pada 2026 menjadi 293.000 terajoule pada 2030, atau melonjak lebih dari 90 persen.

Apabila tidak dilakukan langkah mitigasi, emisi gas rumah kaca diperkirakan meningkat dari 6.100 kiloton CO2e menjadi 12.900 kiloton CO2e, atau sekitar 2,1 kali lebih tinggi dibandingkan kondisi saat ini.

Peningkatan kebutuhan energi tersebut didorong oleh sejumlah proyek strategis, antara lain perluasan tambang di Kalimantan, pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik di Halmahera Timur, ekspansi industri aluminium, pembangunan smelter baru, hingga proyek pertambangan bawah laut.

Strategi Kurangi Emisi

Untuk mengendalikan kenaikan emisi, MIND ID menerapkan sejumlah langkah efisiensi energi dan transisi menuju sumber energi yang lebih bersih.

Beberapa strategi yang dijalankan antara lain meningkatkan penggunaan biodiesel dari B35 menjadi B40, mengganti bahan bakar high-speed diesel dengan gas alam cair (LNG), serta mengoptimalkan pemanfaatan listrik dari jaringan nasional.

Perusahaan juga memperluas penggunaan energi terbarukan di berbagai anak usahanya sebagai bagian dari strategi dekarbonisasi jangka panjang.

Anak Usaha Catat Pengurangan Emisi

Sejumlah anak perusahaan MIND ID telah mencatat hasil pengurangan emisi melalui berbagai inovasi operasional.

PT Bukit Asam Tbk berhasil memangkas emisi sekitar 5.200 ton CO2e per tahun dengan mengganti truk angkut berbahan bakar fosil menggunakan bucket-wheel excavator bertenaga listrik di area tambang Tanjung Enim.

Sementara itu, PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) menurunkan emisi sekitar 3.700 ton CO2e setelah mengganti penggunaan high-speed diesel dengan LNG pada fasilitas baking plant, sekaligus meningkatkan efisiensi energi.

Di sektor energi terbarukan, PT Indonesia Chemical Alumina menerapkan teknologi co-firing biomassa menggunakan cangkang inti sawit (palm kernel shell) yang mampu memangkas sekitar 560 ton CO2e.

Adapun PT Timah Tbk mengoperasikan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 300 kilowatt-peak (kWp) yang mampu mengurangi emisi sekitar 300 ton CO2e setiap tahun.

Dekarbonisasi Dinilai Tingkatkan Daya Saing

Selain menekan emisi, MIND ID juga mengembangkan berbagai program pengimbangan karbon melalui solusi berbasis alam, pemanfaatan Renewable Energy Certificate (REC), serta partisipasi dalam perdagangan karbon.

Menurut Binahidra, penerapan strategi dekarbonisasi kini tidak hanya berkaitan dengan aspek lingkungan, tetapi juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing produk mineral Indonesia di pasar internasional.

Ia menegaskan seluruh kebijakan perusahaan akan terus mengintegrasikan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) agar pertumbuhan industri hilir tetap berjalan seiring dengan komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait