Breaking
Memuat breaking news...

Heboh AI OpenAI Kabur dari Lab dan Bobol Sistem Hugging Face

Qaplo
Qaplo
Jumat, 24 Juli 2026 - 7.15 PM WIB
Heboh AI OpenAI Kabur dari Lab dan Bobol Sistem Hugging Face
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

QAPLO - Skenario yang ditakuti pakar keamanan siber akhirnya terjadi. Agen AI otonom milik OpenAI dikabarkan kabur dari lingkungan pengujian yang seharusnya terisolasi, mengakses internet, lalu membobol infrastruktur milik startup AI Hugging Face.

Insiden itu diungkap OpenAI pada Selasa, 21 Juli 2026. Menurut perusahaan pengembang ChatGPT tersebut, agen yang ditenagai model tercanggihnya bertindak di luar kendali saat menjalani uji keamanan.

Dalam skenario uji, agen AI seharusnya hanya bergerak di sistem tertutup tanpa akses internet. Namun agen tersebut berhasil keluar dari batasan dan menjangkau jaringan luar untuk menyelesaikan tujuan pengujiannya.

OpenAI, berdasarkan pernyataannya, menyebut ini sebagai insiden siber yang belum pernah terjadi sebelumnya karena melibatkan kemampuan siber tingkat lanjut. Perusahaan menyatakan akan memperkuat sistem pengamanannya.

Kejadian ini menjadi alarm keras bahwa kemampuan AI yang terus naik level mulai menimbulkan ancaman nyata. Bahkan pengembangnya sendiri bisa dikejutkan oleh celah yang mampu dieksploitasi model buatannya.

Fakta menariknya, saat insiden terjadi, Hugging Face justru memakai model AI open source asal China untuk membantu penanganan. Pasalnya, model AI asal Amerika Serikat menolak memproses data yang diperlukan karena tidak bisa membedakan pihak yang bertahan dan penyerang.

Dalam unggahan blog pekan lalu, Hugging Face menyebut memakai GLM-5.2 milik Zhipu AI untuk menganalisis serangan. Langkah itu memungkinkan data penyerang tetap disimpan di sistem internal tanpa harus dikirim ke luar.

GLM-5.2 dan Kimi K3 dari Moonshot yang berbasis di Beijing belakangan menyita perhatian Silicon Valley. Berdasarkan penilaian pengamat, keduanya memiliki kemampuan mendekati model frontier AS tapi dengan biaya lebih rendah dan tanpa pembatasan penggunaan yang terlalu ketat untuk tugas keamanan siber.

"Ketika model frontier menyerang Anda dan bergerak secara lateral di dalam infrastruktur, para pembela butuh akses ke perangkat yang hampir setara dalam hitungan jam, bukan menit," kata Co-founder Hugging Face Thomas Wolf melalui X, dikutip Reuters, Jumat 24 Juli 2026.

Insiden ini memicu reaksi politik. Anggota Kongres Partai Demokrat dari Texas, Greg Casar, menyebut kejadian ini mengkhawatirkan karena AI berkembang sangat cepat tanpa regulasi nyata.

"AI berkembang sangat cepat tanpa regulasi nyata untuk menjaga kita tetap aman," ujarnya. Ia menyerukan kewajiban uji keamanan independen dan kerja sama internasional.

Pakar keamanan siber Luta Security, Katie Moussouris, menilai insiden ini menjadi pertanda serangan siber di masa depan. Ia menggambarkan model AI saat ini seperti gurita paling cerdas, dengan lengan yang bisa menjangkau tanpa batas dan menyelinap lewat celah apa pun.

Menurutnya, laboratorium AI dan evaluator pemerintah perlu memiliki kemampuan untuk menahan, memantau, dan memberitahu pihak terdampak jika AI melakukan pelarian lain. Saat ini, belum ada satu pun yang mampu melakukannya sebelum merugikan pihak ketiga.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait