Harga Minyak Dunia Melonjak, Rupiah dan IHSG Tertekan Akibat Memanasnya Timur TengahHarga Minyak Dunia Melonjak, Rupiah dan IHSG Tertekan Akibat Memanasnya Timur Tengah

MEDAN - Lonjakan harga minyak mentah dunia kembali memicu gejolak di pasar keuangan setelah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Situasi tersebut mendorong investor lebih berhati-hati dalam menempatkan dana, sehingga memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), hingga pergerakan harga emas.
Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan kenaikan harga minyak dipicu memburuknya situasi geopolitik setelah Amerika Serikat menyatakan kesepakatan gencatan senjata dengan Iran telah berakhir. Perkembangan tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi sekaligus risiko kenaikan inflasi global.
Pada perdagangan Asia, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat naik menjadi sekitar US$74,9 per barel, sedangkan Brent menyentuh kisaran US$78,7 per barel. Timur Tengah merupakan salah satu kawasan penghasil minyak terbesar di dunia sehingga setiap peningkatan ketegangan di wilayah tersebut kerap memengaruhi harga energi internasional.
Sentimen negatif dari pasar global turut membebani bursa saham Asia, termasuk Indonesia. IHSG ditutup melemah 1,89 persen ke level 5.873,372, kembali berada di bawah level psikologis 5.900, yaitu angka yang sering dijadikan acuan oleh pelaku pasar dalam membaca arah pergerakan indeks.
Menurut Gunawan, tekanan terhadap IHSG meningkat pada sesi kedua perdagangan karena sebagian investor memilih mengurangi kepemilikan aset berisiko sambil menunggu perkembangan situasi global.
"Harga minyak mentah terus menguat pada perdagangan Asia. Kenaikan ini langsung memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi global dan meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan," ujar Gunawan, Rabu (8/7/2026).
Tekanan juga terjadi di pasar valuta asing. Rupiah ditutup di kisaran Rp17.990 hingga Rp18.000 per dolar AS, bahkan sempat menyentuh Rp18.050 per dolar AS selama perdagangan.
Gunawan menjelaskan, kenaikan harga minyak memunculkan ekspektasi bahwa inflasi di Amerika Serikat berpotensi meningkat. Jika tekanan inflasi bertahan, pelaku pasar memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.
Dalam situasi seperti itu, investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS. Arus dana tersebut kemudian memberi tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Selain dipengaruhi faktor eksternal, pasar juga mencermati perkembangan ekonomi di dalam negeri. Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) Indonesia pada Juni tercatat turun menjadi 117,8, dibandingkan 120,9 pada Mei.
Menurut Gunawan, penurunan indeks tersebut mengindikasikan masyarakat mulai lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya. Perlambatan optimisme konsumen dapat memengaruhi aktivitas ekonomi sekaligus menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan investor.
Harga emas dunia diperdagangkan di kisaran US$4.073 per troy ons atau sekitar Rp2,36 juta per gram.
Meski emas dikenal sebagai aset lindung nilai saat terjadi gejolak ekonomi, Gunawan menilai ruang penguatannya masih terbatas apabila inflasi akibat kenaikan harga energi membuat suku bunga global tetap tinggi. Dalam kondisi tersebut, sebagian investor cenderung memilih instrumen yang memberikan imbal hasil lebih tinggi dibanding emas.
Jika harga minyak dunia bertahan tinggi dalam waktu yang lama, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pelaku pasar keuangan. Biaya energi yang meningkat dapat mendorong kenaikan ongkos transportasi dan distribusi barang sehingga berpotensi memberikan tekanan terhadap inflasi.
Meski demikian, besarnya dampak terhadap perekonomian Indonesia masih dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kebijakan energi pemerintah, kondisi nilai tukar rupiah, serta perkembangan konflik di Timur Tengah. Selama ketidakpastian global belum mereda, volatilitas di pasar keuangan diperkirakan masih akan tetap tinggi sehingga pelaku usaha maupun investor perlu mencermati perkembangan situasi secara berkala.
sumber: waspada.id
Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda