Breaking
Memuat breaking news...

Harga Minyak Dunia Anjlok Setelah AS dan Iran Redakan Ketegangan di Teluk Persia

Qaplo
Qaplo
Senin, 27 Juli 2026 - 7.24 AM WIB
Harga Minyak Dunia Anjlok Setelah AS dan Iran Redakan Ketegangan di Teluk Persia
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

QAPLO (NEWYORK)- Harga minyak mentah global kembali merosot pada perdagangan awal pekan ini setelah Amerika Serikat dan Iran sama-sama menahan diri untuk tidak melancarkan serangan militer di Teluk Persia. Penurunan ini terjadi untuk kedua hari berturut-turut, menghapus sebagian besar lonjakan harga yang terjadi sepanjang Juli.

Kontrak minyak Brent untuk pengiriman September turun 4,9 persen ke level 92,02 dolar AS per barel. Penurunan ini melanjutkan tren negatif sejak Jumat pekan lalu yang juga mencatatkan penurunan 3,9 persen. Sementara itu, minyak WTI (West Texas Intermediate) sebagai patokan AS, untuk pengiriman September juga anjlok 5,6 persen ke 84,34 dolar AS per barel setelah sehari sebelumnya turun 3,1 persen.

Minggu lalu, harga Brent sempat menyentuh 102 dolar AS per barel, level tertinggi sejak Mei. Dalam tempo sebulan, harga naik 30 dolar dari posisi awal Juli. Kenaikan drastis ini dipicu oleh intensitas pertempuran di Timur Tengah dan kekhawatiran pasar bahwa perang besar-besaran akan semakin menghambat aliran minyak global.

Titik vital yang menjadi perhatian pasar adalah Selat Hormuz, jalur sempit di lepas pantai Iran yang menjadi rute pengiriman seperlima dari total ekspor minyak dunia dari Teluk Persia. Sejak AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada akhir Februari, lalu lintas kapal tanker di selat tersebut sebagian besar terhenti. Produsen minyak telah mencari jalur alternatif, namun pilihan tersebut juga terancam. Pekan lalu, serangan menargetkan kapal tanker milik Arab Saudi yang melintasi Laut Merah. Ketika pasokan minyak berkurang, harga naik mengikuti hukum permintaan dan penawaran.

Kenaikan harga minyak tidak berhenti di bursa komoditas. Di Amerika Serikat, harga rata-rata bensin jenis reguler pada Minggu lalu mencapai 4,11 dolar AS per galon, naik dari 3,90 dolar sebulan sebelumnya dan jauh melampaui 3,15 dolar pada periode yang sama tahun lalu. Data ini dikutip dari AAA, klub otomotif terbesar di AS.

Jika harga minyak tetap berada di level tinggi, biaya pengiriman barang melalui kapal, truk, dan pesawat akan membengkak. Akibatnya, harga berbagai produk termasuk kebutuhan pokok seperti sayur dan sembako bisa ikut naik. Meski ekonomi AS secara keseluruhan masih tumbuh, konflik berkepanjangan dengan Iran telah menekan kepercayaan konsumen.

Situasi ini juga mengganggu harapan bahwa inflasi mulai melambat. Pekan lalu, para pedagang di pasar berjangka memperkirakan ada peluang 36 persen bahwa Federal Reserve, bank sentral AS, akan menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan mendatang. Data ini diambil dari CME Group, bursa derivatif terbesar di dunia. Kenaikan suku bunga memang bisa menahan laju inflasi, tetapi risikanya adalah pertumbuhan ekonomi bisa melambat karena biaya pinjaman menjadi lebih mahal.

Efeknya sudah terlihat di sektor perumahan. Suku bunga hipotek jangka panjang di AS telah mencapai level tertinggi dalam hampir setahun, membuat industri properti meriang. Selain itu, biaya pinjaman yang membengkak juga bisa menghambat pembangunan pusat data kecerdasan buatan yang belakangan menjadi salah satu motor penggerak ekonomi AS.

Meski harga minyak telah mengembalikan sebagian besar keuntungan Juli, pasar masih diliputi ketidakpastian. Kontrak minyak Brent untuk pengiriman Oktober, yang kini menjadi kontrak paling aktif diperdagangkan, turun 4,6 persen ke 87,48 dolar AS per barel. Pergerakan ini menunjukkan bahwa pelaku pasar masih memperhitungkan risiko eskalasi di Timur Tengah dalam proyeksi jangka menengah.

Selat Hormuz adalah jalur laut sempit antara Iran dan Oman yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia. Sekitar 20 persen dari seluruh minyak dunia yang diperdagangkan secara internasional melewati selat ini setiap harinya. Ketika jalur ini terganggu, hampir seluruh negara pengimpor minyak — termasuk Indonesia — akan merasakan dampaknya melalui kenaikan harga energi global. Konflik AS-Iran yang memanas sejak akhir Februari menciptakan skenario di mana gangguan pasokan bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan kenyataan yang sudah terjadi.

Bagi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak, volatilitas harga minyak global akan berdampak langsung ke harga BBM bersubsidi maupun non-subsidi. Kenaikan harga minyak juga bisa memperburuk neraca perdagangan dan memberi tekanan tambahan pada nilai tukar rupiah. Di sisi domestik, harga transportasi dan logistik yang naik akan berpengaruh ke harga pangan dan barang konsumsi lainnya. Bagi konsumen, memantau perkembangan konflik di Timur Tengah kini bukan lagi soal geopolitik semata, melainkan persiapan terhadap potensi kenaikan biaya hidup.

  • Harga minyak Brent turun 4,9 persen ke $92,02 dan WTI turun 5,6 persen ke $84,34 setelah AS dan Iran menahan diri dari serangan militer.

  • Harga Brent sempat mencapai $102 per barel minggu lalu, tertinggi sejak Mei, akibat konflik di Timur Tengah dan gangguan di Selat Hormuz.

  • Harga bensin rata-rata di AS naik ke $4,11 per galon, meningkat dari $3,15 setahun lalu.

  • Pasar memperkirakan peluang 36 persen Federal Reserve menaikkan suku bunga untuk menahan inflasi.

  • Ketidakpastian masih tinggi meski kedua belah pihak menahan diri, dengan kontrak Oktober Brent di $87,48.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait