Harga ponsel pintar terus merangkak naik dan belum menunjukkan tanda-tanda akan turun dalam waktu dekat. Perangkat yang tahun lalu dibanderol Rp3 jutaan kini dijual Rp5 jutaan, sementara ponsel Rp1 jutaan melonjak menjadi Rp2 jutaan — dengan spesifikasi yang justru dipangkas.

Penyebab utamanya adalah krisis pasokan komponen memori. Harga RAM, chip penyimpanan, dan komponen pendukung lainnya melonjak tajam. Bahkan Apple yang selama ini mampu menahan harga berkat stok komponen lama pun dikabarkan mulai menyerah dan bersiap ikut menaikkan harga.

Disedot Pusat Data AI

Akar persoalannya ada pada ledakan pembangunan pusat data kecerdasan artifisial (AI). Produsen chip memori lebih memilih melayani operator pusat data yang berani membayar mahal ketimbang memasok industri ponsel, laptop, dan perangkat konsumen lainnya, sehingga pasokan untuk perangkat konsumen kian kering.

CEO Nvidia Jensen Huang bahkan memprediksi krisis memori ini akan berlangsung "cukup lama" — dalam hitungan tahun, bukan bulan. Pernyataan itu ia sampaikan menjelang pengumuman kemitraan teknologi multi-tahun Nvidia dengan SK Hynix, salah satu raksasa chip memori dunia. Sementara itu, pimpinan induk perusahaan SK Hynix pernah memperkirakan krisis baru mereda sekitar 2030.

Di sisi pemasok, krisis justru menjadi berkah. SanDisk, produsen memori flash yang dikenal lewat kartu microSD dan SSD, mencatatkan lonjakan harga saham ratusan persen sepanjang 2026 karena produknya diborong operator pusat data AI. Pendapatan segmen pusat datanya melonjak lebih dari dua kali lipat dalam satu kuartal.

Kapan Harga Kembali Turun?

Ada sejumlah skenario yang bisa mengakhiri krisis ini: pertumbuhan AI melambat sehingga kebutuhan pusat data baru menyusut, bermunculannya pabrik chip baru, hadirnya teknologi memori baru yang lebih efisien, publik yang jenuh dengan AI, hingga regulator yang membatasi laju perkembangan AI.

Namun dalam waktu dekat, peluang harga kembali normal dinilai kecil. Situasinya mirip demam tambang kripto beberapa tahun lalu yang membuat harga kartu grafis (GPU) melonjak dua hingga tiga kali lipat — pasar akhirnya pulih setelah euforia mereda dan para penambang berhenti beroperasi.

Saran: Beli Sekarang Jika Memang Butuh

Bagi yang ponselnya sudah lemot dan memang membutuhkan perangkat baru, menunggu harga turun justru berisiko karena tidak ada yang tahu berapa lama "kemarau" harga ini berlangsung. Prinsipnya: waktu terbaik membeli HP adalah tahun lalu, waktu terbaik kedua adalah sekarang.

Langkah praktisnya: tentukan anggaran terlebih dahulu dan jangan melebihi kemampuan dompet, bandingkan calon perangkat di rentang harga tersebut, baca ulasan soal performa dan hasil foto, lalu bandingkan promo yang tersedia. Model tahun lalu dengan diskon 20–30 persen atau unit bekas yang kondisinya terjamin dan penjualnya terpercaya bisa menjadi alternatif cerdas, karena kualitas ponsel tahun lalu dan tahun ini bedanya tipis.

Sementara itu, bagi yang ponselnya masih berusia satu-dua tahun dan berfungsi baik, tidak ada alasan untuk panik. Ponsel Rp5 juta tahun lalu dan Rp5 juta hari ini kualitasnya berbeda jauh — rawat perangkat yang ada dan tunggu situasi membaik.

Sumber: Harga HP naik terus... Ini saran dari saya. — GadgetIn