Harga Emas Terkoreksi dari Rekor Tertinggi, Pengamat Nilai Ruang Penurunan Makin Terbatas

Harga emas dunia tengah bergerak turun setelah sebelumnya mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah pada akhir Januari 2026, saat harga sempat menyentuh kisaran US$5.600 per ons troi. Per Minggu (2/8), harga logam mulia ini masih bertahan di kisaran US$4.043 per ons troi—tertekan cukup dalam dari puncaknya, namun tetap jauh di atas level yang pernah dianggap tinggi hanya beberapa tahun lalu.
Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai koreksi yang tengah berlangsung ini merupakan hal yang wajar, dan menurutnya ruang penurunan lanjutan justru semakin terbatas. Ia melihat tren jangka panjang emas sebagai gambaran yang lebih relevan dibanding pergerakan harian semata.
Menurut catatan Gunawan, harga emas berada di kisaran US$1.168 per ons troi sekitar satu dekade lalu. Bandingkan dengan level saat ini yang masih bertahan di atas US$4.000, sekalipun sudah terkoreksi cukup dalam dari rekornya. Lonjakan sebesar ini, kata Gunawan, mencerminkan pergeseran besar dalam cara investor global memandang emas sebagai instrumen investasi.
Gunawan menjelaskan, reli harga emas sejak 2024 banyak dipicu oleh siklus pemangkasan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed). Dari level 5,5 persen yang bertahan sejak pertengahan 2023, The Fed secara bertahap memangkas suku bunganya hingga ke kisaran 3,75 persen saat ini.
Penurunan suku bunga semacam ini lazim mendorong investor memindahkan dananya dari aset berbasis dolar AS ke emas, karena emas dianggap sebagai instrumen lindung nilai yang lebih menarik ketika imbal hasil aset berbasis bunga menurun.
Faktor lain yang turut mendorong harga emas ke level rekornya adalah eskalasi konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang memicu sentimen risk-off di pasar global. Ketegangan geopolitik semacam ini biasanya membuat investor mengalihkan dananya ke aset-aset yang dianggap aman, dengan emas sebagai salah satu pilihan utama.
Namun sentimen tersebut belakangan mulai mereda. Kenaikan harga minyak mentah akibat konflik yang sama justru meningkatkan tekanan inflasi, memunculkan spekulasi bahwa The Fed berpotensi kembali bersikap hawkish—bahkan menaikkan suku bunga alih-alih memangkasnya lebih jauh. Kombinasi inilah yang menurut Gunawan menjelaskan kenapa harga emas kini tertekan dari rekornya, meski konflik geopolitik yang sempat mengerek harganya belum sepenuhnya reda.
Gunawan mengingatkan, tekanan yang terjadi saat ini belum tentu berlanjut dalam jangka panjang. Ia mencontohkan periode 2022 hingga 2023, ketika The Fed menaikkan suku bunga secara agresif dari mendekati nol persen menjadi 5,5 persen dalam waktu relatif singkat—salah satu siklus pengetatan tercepat sejak awal 1980-an. Kala itu, harga emas justru tetap mampu bertahan, bahkan bergerak naik dari sekitar US$1.960 ke atas US$2.000 per ons troi.
Menurutnya, ini menunjukkan kebijakan moneter yang ketat tidak selalu berbanding lurus dengan pelemahan harga emas. Karena itu, sekalipun emas sedang tertekan saat ini, Gunawan melihat kemampuannya bertahan masih tergolong kuat, termasuk apabila The Fed benar-benar kembali bersikap hawkish akibat tekanan inflasi yang meningkat.
Karakter emas sebagai aset safe haven, menurut Gunawan, membuat permintaannya cenderung tetap tinggi ketika risiko ekonomi global meningkat—terutama selama konflik geopolitik seperti yang tengah berlangsung di Timur Tengah belum benar-benar mereda. Fungsi emas sebagai pelindung kekayaan (wealth protection) inilah yang membedakannya dari aset investasi lain yang lebih rentan terhadap gejolak pasar jangka pendek.
Bagi investor di Indonesia, Gunawan menilai emas tetap layak dipertimbangkan sebagai instrumen investasi jangka panjang, meski penguatan dolar AS terhadap rupiah belakangan ini turut meningkatkan daya tarik mata uang tersebut sebagai alternatif. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak berlebihan mengalihkan dananya ke dolar AS, karena peningkatan permintaan dolar secara masif berpotensi memperbesar tekanan terhadap nilai tukar rupiah, yang pada gilirannya bisa berdampak lebih luas pada perekonomian nasional.
"Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan eskalasi konflik geopolitik, koreksi harga emas justru menjadi peluang akumulasi bagi investor jangka panjang," ujar Gunawan.
Secara teknikal, Gunawan memperkirakan ruang penurunan harga emas ke depan semakin terbatas, dengan level US$3.980 per ons troi sebagai area support yang dinilainya cukup kuat. Menurutnya, peluang koreksi lanjutan relatif kecil dibandingkan potensi penguatan apabila ketidakpastian global kembali meningkat.
Perlu digarisbawahi, proyeksi ini merupakan pandangan dan analisis pribadi Gunawan berdasarkan pembacaannya terhadap kondisi pasar saat ini, bukan jaminan pergerakan harga di masa depan. Pergerakan harga emas tetap dipengaruhi banyak variabel yang bisa berubah sewaktu-waktu, mulai dari kebijakan The Fed, perkembangan konflik geopolitik, hingga sentimen pasar global secara umum.
Bagi masyarakat yang mempertimbangkan emas sebagai instrumen investasi, ada baiknya tetap melakukan riset mandiri atau berkonsultasi dengan penasihat keuangan sebelum mengambil keputusan, mengingat setiap keputusan investasi membawa risikonya masing-masing.
Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda