Breaking
Memuat breaking news...

Harga Emas Dunia Naik Usai Minyak Anjlok 4%

Redaksi
Redaksi
Rabu, 5 Agustus 2026 - 9.38 AM WIB
Harga Emas Dunia Naik Usai Minyak Anjlok 4%
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Harga emas dunia menguat pada perdagangan Selasa (4/8) waktu setempat, atau Rabu (5/8) pagi WIB. Pemicunya bukan datang dari pasar emas itu sendiri, melainkan dari pelemahan harga minyak dunia yang membuat ekspektasi inflasi ikut mereda.

Mengutip CNBC, harga emas spot naik 0,6% ke level US$4.078,10 per ons, sementara harga emas berjangka menguat lebih tinggi, 1,1%, ke US$4.134,60 per ons. Selisih kenaikan antara harga spot dan berjangka ini wajar terjadi di pasar komoditas, karena harga berjangka mencerminkan ekspektasi pasar terhadap kondisi beberapa bulan ke depan, bukan sekadar harga transaksi hari itu.

Minyak turun, emas terangkat

Penguatan emas kali ini punya benang merah yang jelas dengan pergerakan harga minyak. Harga minyak dunia memangkas kenaikannya setelah Qatar menyatakan upaya diplomatik untuk meredakan konflik antara Amerika Serikat dan Iran masih terus berjalan — meski gangguan terhadap jalur distribusi minyak lewat rute pelayaran utama disebut masih terjadi. Akibatnya, harga minyak mentah Brent berjangka anjlok lebih dari 4%.

Bagi investor, minyak yang lebih murah biasanya berarti tekanan inflasi yang lebih rendah. Dan ketika ekspektasi inflasi turun, tekanan bagi bank sentral Amerika Serikat (The Fed) untuk menaikkan suku bunga juga ikut mengendur.

Global Head of Commodity Strategy TD Securities, Bart Melek, menyebut penurunan harga minyak sebagai salah satu faktor utama yang menopang kenaikan emas kali ini. Menurutnya, pelemahan harga energi turut mengubah cara pasar membaca arah suku bunga jangka pendek.

Ini yang membuat hubungan minyak dan emas terasa berlawanan arah tapi sebenarnya saling terkait: harga energi yang tinggi selama ini justru mendorong ekspektasi bahwa The Fed akan menahan suku bunga di level tinggi lebih lama demi mengendalikan inflasi — kondisi yang biasanya jadi sentimen negatif bagi emas, karena logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau deposito.

Sinyal dari pejabat The Fed dan peluang kenaikan suku bunga

Presiden The Fed New York, John Williams, sebelumnya menyampaikan optimisme bahwa tekanan inflasi akan terus mereda secara bertahap. Namun ia juga menegaskan bank sentral tetap siap menaikkan suku bunga lagi apabila inflasi tidak bergerak sesuai target yang diharapkan.

Saat ini, pelaku pasar memperkirakan peluang sekitar 61% bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan kebijakan September mendatang. Proyeksi ini muncul setelah bank sentral AS — yang sempat diwarnai perbedaan pandangan di internalnya — memutuskan mempertahankan suku bunga pada pertemuan kebijakan terakhir.

Fokus pasar pekan ini bergeser ke sejumlah data ketenagakerjaan AS yang dijadwalkan rilis dalam beberapa hari ke depan. Laporan ketenagakerjaan swasta dari ADP dijadwalkan terbit Rabu, sedangkan data non-farm payrolls — angka penyerapan tenaga kerja di luar sektor pertanian yang jadi salah satu indikator paling diawasi The Fed — akan diumumkan Jumat.

Kedua data ini dipandang bakal jadi penentu utama arah kebijakan moneter The Fed selanjutnya. Semakin lemah data yang keluar, semakin besar pula kemungkinan The Fed menahan diri dari kenaikan suku bunga — dan itu biasanya jadi kabar baik bagi harga emas.

"Apa pun yang menunjukkan pelemahan ekonomi kemungkinan akan berdampak positif bagi emas, terutama karena hal itu mengurangi kemungkinan atau kebutuhan bank sentral untuk mengambil tindakan terkait suku bunga," kata Melek.

Bagi pembaca yang mengikuti pergerakan harga emas untuk kebutuhan investasi maupun sekadar memahami tren pasar, dua data ketenagakerjaan yang akan rilis pekan ini layak dicermati. Keduanya berpotensi menjadi pemicu volatilitas baru, baik bagi harga emas maupun pasar keuangan secara umum.

Catatan editorial: Seluruh data harga dan pernyataan dalam berita ini bersumber dari laporan CNBC sebagaimana dikutip Qaplo..com. Proyeksi peluang kenaikan suku bunga The Fed bersifat estimasi pasar yang dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti data ekonomi terbaru, bukan keputusan resmi bank sentral AS.

Tambahkan QAPLO sebagai sumber utama Google Discovery
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait