Breaking
Memuat breaking news...

Harga Emas Dunia Anjlok, Terburuk dalam 13 Tahun Akibat Tekanan Suku Bunga AS

Qaplo
Qaplo
Rabu, 1 Juli 2026 - 1.45 PM WIB
Harga Emas Dunia Anjlok, Terburuk dalam 13 Tahun Akibat Tekanan Suku Bunga AS
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA - Harga emas dunia kembali mengalami tekanan pada perdagangan Selasa (30/6/2026) waktu setempat atau Rabu pagi WIB. Pelemahan tersebut membuat logam mulia berada di jalur penurunan kuartalan paling dalam sejak 2013, dipengaruhi ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Data perdagangan menunjukkan harga emas spot turun sekitar 0,2 persen ke level US$4.008,94 per ons, setelah sempat menyentuh titik terendah sejak November tahun lalu. Dalam sepanjang Juni 2026, harga emas tercatat telah melemah sekitar 11,3 persen, menjadi salah satu koreksi bulanan terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Sementara itu, kontrak emas berjangka pengiriman Agustus juga ikut turun sekitar 0,4 persen menjadi US$4.022,70 per ons, mencerminkan masih kuatnya tekanan jual di pasar logam mulia.

Penurunan harga emas kali ini tidak hanya dipicu oleh satu faktor. Pelaku pasar menilai kombinasi ketidakpastian geopolitik, inflasi Amerika Serikat yang masih tinggi, serta arah kebijakan moneter The Fed menjadi penyebab utama melemahnya minat investor terhadap aset tersebut.

Ekspektasi Suku Bunga Tinggi Membebani Emas

Secara umum, emas dikenal sebagai aset lindung nilai (safe haven) yang banyak diburu saat kondisi ekonomi tidak menentu. Namun, karakteristik emas yang tidak memberikan bunga atau imbal hasil membuat daya tariknya menurun ketika suku bunga berada pada level tinggi.

Saat bank sentral menaikkan atau mempertahankan suku bunga, investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen keuangan yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi, seperti obligasi pemerintah atau deposito berbunga tinggi. Kondisi tersebut biasanya memberikan tekanan terhadap harga emas.

Analis Marex, Edward Meir, menilai pasar masih dibayangi ketidakpastian sehingga pergerakan emas belum memperoleh sentimen positif yang cukup kuat.

"Pasar agak gelisah mengenai seberapa stabil nota kesepahaman tersebut dan ada tekanan pada emas karena pelaku pasar belum melihat banyak harapan dalam waktu dekat," ujarnya.

Selain itu, inflasi di Amerika Serikat dinilai masih berada di atas target 2 persen yang ditetapkan The Fed. Situasi tersebut memperkuat keyakinan pasar bahwa bank sentral AS belum akan melonggarkan kebijakan moneternya dalam waktu dekat.

Menurut Meir, ekspektasi pasar bahkan masih membuka peluang adanya kenaikan suku bunga tambahan apabila tekanan inflasi belum mereda.

Logam Mulia Lain Ikut Melemah

Tekanan tidak hanya dialami emas. Sejumlah logam mulia lainnya juga bergerak turun seiring perubahan sentimen investor terhadap aset safe haven.

Harga perak tercatat melemah sekitar 0,8 persen menjadi US$58,2585 per ons, sekaligus berada di jalur penurunan kuartalan terburuk sejak kuartal pertama 2020.

Sementara itu, platinum turun sekitar 0,7 persen ke level US$1.564,34 per ons. Berbeda dengan dua komoditas tersebut, paladium masih mampu menguat tipis sekitar 0,2 persen menjadi US$1.215,94 per ons. Meski demikian, ketiga logam tersebut tetap berpotensi menutup kuartal dengan kinerja negatif.

Secara keseluruhan, kelompok logam mulia diperkirakan mencatat penurunan kuartalan pertama sejak 2024 sekaligus menjadi koreksi paling dalam sejak kuartal kedua 2013.

Konflik Timur Tengah Masih Jadi Perhatian Pasar

Selain faktor suku bunga, perkembangan geopolitik juga masih memengaruhi psikologi investor.

Perhatian pasar tertuju pada upaya diplomasi di Timur Tengah. Seorang pejabat Qatar menyebut utusan utama Amerika Serikat yang telah berada di Doha tidak dijadwalkan menggelar pertemuan tingkat tinggi dengan Iran. Informasi tersebut memunculkan keraguan terhadap peluang tercapainya penyelesaian konflik dalam waktu dekat.

Ketidakpastian geopolitik sebenarnya sering meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset pelindung. Namun, pada kondisi saat ini, pengaruh kebijakan moneter Amerika Serikat dinilai jauh lebih dominan sehingga tekanan terhadap harga emas tetap berlanjut.

Menurut Edward Meir, pasar masih menunggu kepastian mengenai arah perkembangan geopolitik dan kebijakan ekonomi global sebelum kembali meningkatkan minat terhadap logam mulia.

Investor Menanti Data Ekonomi Amerika Serikat

Fokus pelaku pasar kini bergeser pada sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan.

Data ketenagakerjaan ADP dijadwalkan diumumkan pada Rabu waktu setempat, kemudian disusul laporan non-farm payrolls (NFP) atau data penyerapan tenaga kerja sektor nonpertanian pada Kamis.

Kedua indikator tersebut menjadi acuan penting bagi pelaku pasar untuk membaca kondisi pasar tenaga kerja Amerika Serikat. Hasil yang lebih kuat dari perkiraan berpotensi memperkuat alasan The Fed mempertahankan suku bunga tinggi, sedangkan data yang melemah dapat membuka peluang perubahan arah kebijakan moneter pada periode berikutnya.

Peluang Kenaikan Suku Bunga Masih Dominan

Berdasarkan data CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan September berada di kisaran 65 persen. Proyeksi tersebut menjadi salah satu faktor yang membatasi ruang penguatan harga emas dalam jangka pendek.

Kebijakan suku bunga memiliki pengaruh besar terhadap pasar logam mulia. Ketika bunga acuan berada pada level tinggi, dolar Amerika Serikat cenderung menguat dan instrumen investasi berbunga menjadi lebih menarik. Kondisi ini biasanya mengurangi minat investor untuk menyimpan dana dalam bentuk emas.

Karena itu, arah kebijakan The Fed masih menjadi variabel utama yang akan menentukan pergerakan harga emas pada beberapa bulan mendatang, selain perkembangan inflasi dan kondisi ekonomi global.

Bank Sentral Dunia Tetap Menilai Emas Sebagai Aset Strategis

Di tengah pelemahan harga saat ini, prospek emas dalam jangka panjang masih dinilai cukup kuat.

Survei yang dilakukan Official Monetary and Financial Institutions Forum (OMFIF) menunjukkan banyak bank sentral di berbagai negara masih memandang emas sebagai salah satu aset cadangan strategis. Bahkan, dalam waktu dekat sebagian bank sentral berencana menambah kepemilikan emas.

Kecenderungan tersebut dipicu meningkatnya ketidakpastian geopolitik global serta upaya sejumlah negara melakukan diversifikasi cadangan devisa dengan mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat.

Artinya, meski harga emas sedang berada dalam tren koreksi, permintaan dari bank-bank sentral masih berpotensi menjadi penopang pasar dalam jangka panjang.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait