Harga Emas Bangkit Usai Anjlok, Pasar Tunggu Keputusan The Fed Pekan DepanHarga Emas Bangkit Usai Anjlok, Pasar Tunggu Keputusan The Fed Pekan Depan

QAPLO - Harga emas dunia kembali mencatat penguatan pada penutupan perdagangan akhir pekan setelah sempat mengalami tekanan tajam sehari sebelumnya. Pemulihan ini terjadi di tengah pelemahan harga minyak mentah dunia, aksi beli investor saat harga emas turun, serta meningkatnya perhatian pasar terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah dan arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data Refinitiv, harga emas pada perdagangan Jumat (24/7/2026) ditutup di level US$4.052,56 per troy ons, naik 0,13% dibandingkan sesi sebelumnya. Kenaikan tersebut menjadi sinyal positif setelah harga emas terkoreksi sekitar 2% pada Kamis.
Secara mingguan, logam mulia ini masih membukukan kenaikan sekitar 0,89%, sekaligus mengakhiri tren pelemahan yang terjadi selama dua pekan berturut-turut.
Analis menilai kenaikan harga emas kali ini lebih banyak didorong oleh aksi buy on dip, yaitu strategi membeli aset ketika harganya sedang terkoreksi. Selain itu, sebagian pelaku pasar juga melakukan short covering, yakni menutup posisi jual untuk mengurangi potensi kerugian ketika harga mulai berbalik naik.
Analis independen Tai Wong mengatakan harga emas mulai membentuk area penopang (support) di kisaran US$3.950 per troy ons, meskipun imbal hasil obligasi pemerintah AS masih bergerak naik.
Menurutnya, pasar memang masih berpotensi mengalami tekanan apabila konflik geopolitik memburuk. Namun, jika Federal Reserve tetap mempertahankan suku bunga pada rapat pekan depan, kondisi tersebut dapat menjadi katalis positif bagi harga emas.
Pergerakan emas juga dipengaruhi perubahan harga minyak dunia. Harga minyak Brent turun lebih dari 4% setelah sehari sebelumnya melonjak lebih dari 7% dan sempat menembus US$100 per barel, level tertinggi sejak Mei.
Lonjakan harga minyak sebelumnya dipicu laporan mengenai serangan terhadap dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah yang diklaim dilakukan kelompok Houthi yang didukung Iran. Ketegangan di kawasan tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.
Bagi investor, perubahan harga minyak penting diperhatikan karena dapat memengaruhi prospek inflasi. Jika inflasi meningkat, bank sentral berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai (safe haven) yang banyak dicari saat ketidakpastian ekonomi atau geopolitik meningkat. Namun, logam mulia tidak memberikan bunga maupun dividen kepada pemegangnya.
Karena itu, ketika suku bunga naik atau diperkirakan tetap tinggi, investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang memberikan imbal hasil seperti obligasi pemerintah. Kondisi tersebut biasanya membatasi kenaikan harga emas.
Sejak konflik yang didukung Amerika Serikat terhadap Iran dimulai pada akhir Februari, harga emas telah turun sekitar 23%. Salah satu penyebabnya adalah meningkatnya ekspektasi bahwa tekanan inflasi akibat konflik dapat membuat kebijakan moneter tetap ketat dalam waktu lebih lama.
Perhatian investor kini tertuju pada rapat kebijakan moneter Federal Reserve yang dijadwalkan berlangsung pekan depan. Mayoritas pelaku pasar memperkirakan bank sentral AS masih akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan tersebut.
Meski demikian, berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan peluang sekitar 82% bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada pertemuan September mendatang apabila tekanan inflasi belum mereda.
Analis ING menilai pemulihan harga emas saat ini masih didominasi oleh aksi beli setelah koreksi tajam dari rekor tertinggi awal tahun, bukan karena perubahan fundamental yang besar.
Menurut mereka, tingginya harga minyak dan kenaikan imbal hasil obligasi masih berpotensi membatasi ruang penguatan emas. Dalam jangka pendek, level US$4.000 per troy ons dinilai menjadi batas psikologis penting yang akan menentukan arah pergerakan harga selanjutnya.
Bagi investor, perkembangan kebijakan Federal Reserve, kondisi geopolitik, serta pergerakan harga energi diperkirakan tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi pasar emas dalam beberapa pekan ke depan. Informasi ini bersifat edukatif dan bukan merupakan rekomendasi untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda