Harga Emas Bangkit, Tapi Dolar AS dan The Fed Masih Jadi TekananHarga Emas Bangkit, Tapi Dolar AS dan The Fed Masih Jadi Tekanan

Jakarta - Harga emas dunia kembali menguat pada perdagangan Senin, 8 Juni 2026, setelah sempat menyentuh level terendah sejak akhir Maret. Kenaikan ini ditopang harapan gencatan senjata antara Israel dan Iran, tetapi tekanan dari dolar AS dan ekspektasi suku bunga tinggi Amerika Serikat masih membatasi laju emas.
Harga emas spot naik 0,33 persen ke US$4.343,03 per ons. Sebelumnya, logam mulia itu sempat turun ke US$4.268,39 per ons, level terendah sejak 23 Maret.
Emas spot adalah harga emas untuk transaksi langsung di pasar global. Harga ini sering menjadi acuan karena mencerminkan pergerakan terkini permintaan dan penawaran emas di pasar internasional.
Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus naik tipis 0,05 persen ke US$4.367,30 per ons. Emas berjangka merupakan kontrak jual beli emas pada harga tertentu untuk pengiriman pada waktu mendatang.
Harapan Gencatan Senjata Jadi Penopang
Sentimen utama yang mengangkat harga emas datang dari kabar mengenai peluang gencatan senjata Israel-Iran. Presiden AS Donald Trump menyebut kedua negara sedang mengupayakan gencatan senjata dalam waktu dekat dan negosiasi akhir menuju perdamaian masih berlangsung.
Kabar itu membuat tekanan jual emas berkurang. Pasar sebelumnya mencemaskan eskalasi konflik di Timur Tengah karena kawasan tersebut berpengaruh terhadap harga energi, rantai pasok, dan sentimen risiko global.
Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist di Zaner Metals, Peter Grant, menilai kabar gencatan senjata menjadi faktor utama yang membantu emas bangkit dari level rendah.
“Emas bangkit dari level terendah yang terjadi di pasar luar negeri hanya karena adanya kabar bahwa mungkin akan ada gencatan senjata baru antara Iran dan Israel. Hal itu sedikit mengurangi tekanan penurunan harga,” ujar Grant.
Emas dikenal sebagai aset safe haven. Artinya, emas sering dicari investor ketika pasar menghadapi ketidakpastian, seperti perang, krisis keuangan, atau gejolak ekonomi. Namun, saat peluang damai muncul, permintaan terhadap aset pelindung nilai dapat berubah karena investor mulai kembali melirik aset berisiko.
Dampak Gencatan Senjata Tidak Satu Arah
Bagi pasar emas, kabar damai bisa memberi dampak dua arah. Di satu sisi, meredanya konflik dapat mengurangi kebutuhan investor terhadap emas sebagai pelindung dari risiko geopolitik.
Di sisi lain, konflik yang mereda dapat membantu menstabilkan harga energi. Jika harga energi lebih terkendali, tekanan inflasi global berpeluang ikut mereda. Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dalam periode tertentu.
Inflasi menjadi perhatian pasar emas karena ikut memengaruhi arah suku bunga bank sentral. Jika inflasi tinggi, bank sentral seperti The Federal Reserve atau The Fed cenderung mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Dalam banyak kondisi, suku bunga yang lebih rendah cenderung mendukung minat terhadap emas. Sebab, emas tidak memberikan bunga atau dividen sehingga lebih menarik ketika imbal hasil dari aset lain menurun.
Dolar AS dan Suku Bunga Menahan Penguatan
Meski mendapat dorongan dari sentimen geopolitik, emas belum mampu menguat lebih jauh karena dolar AS sedang berada dalam tren kuat. Mata uang Amerika Serikat itu mendekati level tertinggi dalam hampir dua bulan setelah data ketenagakerjaan AS menunjukkan ekonomi masih lebih solid dari perkiraan.
Penguatan dolar AS penting bagi emas karena harga emas dunia dihitung dalam dolar. Ketika dolar menguat, emas menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain, sehingga permintaan dapat tertahan.
Pasar juga mulai memperhitungkan kembali peluang kenaikan suku bunga The Fed. Berdasarkan alat pemantau FedWatch milik CME Group, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember naik menjadi 43 persen. Sebulan sebelumnya, peluang tersebut sekitar 14 persen.
Basis poin adalah satuan untuk mengukur perubahan suku bunga. Satu basis poin setara 0,01 persen. Dengan demikian, kenaikan 25 basis poin berarti suku bunga naik 0,25 persen.
Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi membuat sebagian investor menahan diri karena emas tidak memberikan bunga atau dividen. Dalam situasi seperti ini, aset berbasis dolar yang menawarkan imbal hasil dapat terlihat lebih menarik.
Pasar Menunggu Data Inflasi AS
Fokus investor kini bergeser ke data inflasi Amerika Serikat. Pasar menunggu laporan Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index/CPI Mei yang dijadwalkan dirilis pada Rabu, disusul Indeks Harga Produsen atau Producer Price Index/PPI pada Kamis.
CPI mengukur perubahan harga barang dan jasa yang dibayar konsumen. Sementara PPI mengukur perubahan harga di tingkat produsen. Dua data ini sering digunakan pasar untuk membaca arah inflasi dan memperkirakan langkah The Fed.
Jika inflasi lebih tinggi dari perkiraan, pasar dapat menilai The Fed perlu mempertahankan kebijakan ketat lebih lama. Kondisi itu berpotensi menekan emas.
Kepala Analis Pasar Bybit, Han Tan, memperingatkan harga emas masih berisiko terkoreksi apabila data inflasi AS lebih panas dari ekspektasi pasar.
“Emas berpotensi menguji level psikologis penting di US$4.000 sebagai area dukungan utama jika pasar menerima data CPI yang lebih panas dari perkiraan pekan ini, atau jika FOMC menunjukkan sikap yang sangat hawkish pada pertemuan pekan depan,” ujar Tan.
FOMC atau Federal Open Market Committee adalah komite di bawah The Fed yang menentukan arah kebijakan moneter, termasuk suku bunga. Istilah hawkish merujuk pada sikap bank sentral yang cenderung mendukung suku bunga tinggi untuk menekan inflasi.
Dampak bagi Pembeli Emas di Indonesia
Bagi pembeli emas di Indonesia, pergerakan harga emas dunia dapat memengaruhi harga emas domestik. Namun, kenaikannya tidak selalu sama persis karena harga ritel di dalam negeri juga dipengaruhi kurs rupiah terhadap dolar AS, biaya produksi, distribusi, dan kebijakan harga masing-masing penjual.
Kurs rupiah perlu diperhatikan karena emas dunia dihitung dalam dolar AS. Jika dolar menguat terhadap rupiah, harga emas di dalam negeri bisa mendapat tekanan naik meski pergerakan emas global tidak terlalu besar.
Bagi masyarakat yang membeli emas sebagai tabungan jangka panjang, fluktuasi harian sebaiknya tidak menjadi satu-satunya dasar keputusan. Pembelian emas lebih tepat disesuaikan dengan tujuan keuangan, jangka waktu investasi, dan kebutuhan dana.
Sementara bagi investor jangka pendek, volatilitas menjadi risiko utama. Volatilitas berarti harga bergerak naik turun dalam waktu relatif cepat. Rilis data inflasi AS, komentar pejabat The Fed, dan perkembangan konflik geopolitik dapat memicu perubahan harga dalam waktu singkat.
Logam Mulia Lain Bergerak Campuran
Pergerakan logam mulia lainnya tidak seragam. Harga perak spot naik 1 persen menjadi US$68,52 per ons.
Sebaliknya, platinum turun 1,3 persen ke US$1.752,87 per ons. Paladium juga melemah 1,3 persen menjadi US$1.209,29 per ons.
Perbedaan arah ini terjadi karena setiap logam memiliki faktor penggerak sendiri. Selain dipengaruhi sentimen investasi, perak, platinum, dan paladium juga banyak digunakan dalam industri manufaktur, otomotif, dan teknologi.
Dalam jangka pendek, pergerakan emas masih akan ditentukan oleh kombinasi kabar geopolitik, dolar AS, dan data inflasi. Harapan damai Israel-Iran memberi ruang pemulihan, tetapi sinyal suku bunga The Fed tetap menjadi faktor utama yang membatasi kenaikan harga.
Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda