Harga emas berbalik turun lebih dari satu persen pada Rabu, setelah bank sentral Amerika Serikat (The Fed) menaikkan suku bunga acuan sekaligus membuka peluang kenaikan lanjutan dalam beberapa bulan ke depan. Langkah ini mendorong penguatan dolar AS dan menekan daya tarik emas — aset yang selama ini tidak memberikan imbal hasil bagi pemiliknya.
Emas Melemah Tiga Hari Beruntun
Mengutip data Refinitiv, harga emas pada perdagangan Rabu (16/9/2026) ditutup di posisi 4.262,09 dolar AS per troy ons, melemah 0,71 persen. Pelemahan ini memperpanjang tren negatif emas yang sudah jatuh tiga hari berturut-turut, dengan total penurunan mencapai 1,96 persen.
Penutupan tersebut sekaligus menjadi posisi terendah emas sejak 6 Agustus 2026, atau dalam rentang lebih dari enam pekan terakhir. Meski begitu, harga emas mulai menunjukkan perbaikan pada Kamis (17/9/2026), dengan menguat tipis 0,19 persen ke level 4.270,19 dolar AS per troy ons.
Apa yang Diputuskan The Fed?
The Fed menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (0,25 persen) ke kisaran 3,75 hingga 4 persen. Ketua The Fed, Kevin Warsh, menegaskan fokus utama bank sentral tetap menjaga stabilitas harga, mengingat inflasi di AS masih dinilai terlalu tinggi. Dikutip dari Reuters, Warsh menyebut inflasi sudah berada di level yang terlalu tinggi dan berlangsung terlalu lama.
Proyeksi kebijakan terbaru The Fed yang terekam dalam dot plot — semacam grafik yang menunjukkan perkiraan masing-masing pejabat bank sentral soal arah suku bunga ke depan — mengindikasikan masih ada potensi kenaikan lanjutan. Sebanyak 16 dari 18 pejabat The Fed memperkirakan setidaknya masih ada satu kali kenaikan suku bunga 25 basis poin hingga akhir tahun ini, bahkan empat di antaranya melihat kemungkinan dua kali kenaikan tambahan. Hanya dua pejabat yang memperkirakan The Fed akan berhenti setelah satu kali kenaikan.
Kenapa Kenaikan Suku Bunga Menekan Harga Emas?
Keputusan The Fed langsung mengerek indeks dolar AS ke posisi 100,252 — level tertinggi sejak 12 Agustus 2026. Kenaikan suku bunga juga mendorong imbal hasil surat utang pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun menembus 5,004 persen, posisi tertinggi sejak Juli 2007.
Penguatan dolar AS inilah yang membuat emas menjadi lebih mahal bagi pembeli di luar Amerika Serikat, karena emas diperdagangkan dalam denominasi dolar. Di sisi lain, naiknya suku bunga membuat instrumen investasi berbunga seperti obligasi jadi lebih menarik — sementara emas tidak memberikan imbal hasil apa pun kepada pemegangnya, sehingga daya tariknya ikut berkurang.
Perak Ikut Tertekan
Nasib serupa juga dialami perak. Merujuk data Refinitiv, harga perak pada perdagangan Rabu (16/9/2026) ditutup di posisi 62,96 dolar AS per troy ons, anjlok 1,08 persen — menjadikannya posisi terendah sejak 7 Agustus 2026.
Sama seperti emas, harga perak juga mulai membaik pada Kamis (17/9/2026). Hingga pukul 06.45 WIB, harga perak tercatat menguat 0,37 persen ke level 63,19 dolar AS per troy ons.


Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda