MANCHESTER — Bek Manchester City, Marc Guehi, kembali memilih berdiri saat gerakan berlutut digelar sebelum laga Premier League melawan Ipswich Town pada Sabtu lalu. Pemain timnas Inggris itu menilai gerakan anti-rasisme tersebut mungkin sudah kehilangan maknanya.

Laga tersebut merupakan yang pertama dari dua putaran pertandingan Premier League yang didedikasikan untuk kampanye "No Room For Racism". Meski mendukung penuh kampanye itu, Guehi meminta perjuangan melawan rasisme ditingkatkan ke langkah yang lebih nyata.

"Apakah masih bisa berbuat lebih banyak? Tentu, selalu bisa berbuat lebih banyak. Kita harus melihat bagaimana membawa kampanye ini melangkah lebih jauh."

Hal itu disampaikan Guehi dalam konferensi pers pada Senin, sehari sebelum Manchester City melakoni laga Liga Champions melawan AEK Athena.

Menurut Guehi, rasisme bukan semata persoalan sepak bola. "Saya rasa ini bukan semata persoalan sepak bola. Ini persoalan masyarakat yang lebih luas, dan sepak bola adalah mercusuar harapan untuk menyampaikan pesan itu," ujarnya.

Ditanya apakah gerakan berlutut telah kehilangan maknanya, Guehi menjawab, "Mungkin. Sejujurnya saya sudah lama tidak berlutut. Saya selalu bertepuk tangan, justru karena apa yang dilambangkan gerakan itu." Ia tidak menjelaskan lebih rinci alasan pribadinya.

Bukan yang Pertama

Guehi bukan satu-satunya pemain yang menolak berlutut akhir pekan lalu. Striker Leeds United, Dominic Calvert-Lewin, juga memilih berdiri sementara rekan-rekan setimnya berlutut sebelum laga kontra Manchester United yang berakhir imbang 1-1 — dan Calvert-Lewin justru mencetak gol penyama kedudukan.

Manajer Leeds, Daniel Farke, membela keputusan sang striker. "Setiap individu berbeda dan menunjukkan rasa hormat untuk kampanye ini dengan cara yang berbeda," kata Farke.

Pada 2021, mantan pemain Crystal Palace Wilfried Zaha juga menyatakan tak akan lagi berlutut. Zaha menyebut gerakan itu "merendahkan" dan menyerukan para pemain untuk berdiri tegak dengan bangga.

Gerakan berlutut diperkenalkan pada Juni 2020 sebagai bentuk dukungan terhadap kampanye Black Lives Matter. Sejak musim 2022-23, klub-klub Premier League sepakat hanya melakukannya pada momen-momen tertentu setiap musim.

Sumber: OneFootball