Breaking
Memuat breaking news...

Google Tarik Fitur AI di Google Earth Kurang dari 48 Jam Usai Diluncurkan, Ini Alasannya

Redaksi
Redaksi
Minggu, 2 Agustus 2026 - 6.11 AM WIB
Google Tarik Fitur AI di Google Earth Kurang dari 48 Jam Usai Diluncurkan, Ini Alasannya
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Google menghentikan sementara fitur pembuatan gambar berbasis AI di Google Earth, hanya sehari setelah fitur itu resmi diluncurkan ke publik. Keputusan ini muncul usai investigasi BBC Verify menemukan bahwa alat tersebut bisa disalahgunakan untuk membuat citra satelit palsu yang tampak meyakinkan.

Fitur ini pertama kali dirilis pada Kamis (30/7), memanfaatkan model pembuat gambar Nano Banana 2 milik Google yang juga menjadi tulang punggung Gemini. Lewat fitur ini, pengguna cukup menuliskan perintah teks untuk "menciptakan" kejadian atau objek apa pun di atas lapisan citra satelit, udara, maupun 3D yang sebenarnya nyata dari Google Earth. Hasilnya bisa diunduh dan dibagikan ke platform lain layaknya foto biasa.

Ditarik Kurang dari Dua Hari

Dalam pernyataan yang dirilis Jumat (31/7), Google mengonfirmasi bahwa fitur tersebut ditarik sementara "sambil kami bekerja menerapkan pagar pembatas yang lebih kuat". Perusahaan menyebut telah melihat sejumlah orang membagikan tangkapan layar gambar hasil rekayasa AI yang tampak melanggar kebijakan mereka.

Google turut menegaskan bahwa gambar-gambar buatan AI tersebut sebenarnya tidak muncul di tampilan utama Google Earth yang bisa dilihat pengguna lain, dan setiap gambar hasil AI selalu disertai watermark tersembunyi sebagai penanda bahwa itu bukan citra asli. Namun, seperti akan dijelaskan lebih lanjut, penanda ini pun ternyata punya celah.

Perusahaan juga menyebut fitur ini sebelumnya dimanfaatkan sejumlah profesional di bidang geospasial untuk keperluan yang sah, sehingga penghentian ini sifatnya sementara, bukan pembatalan permanen. Google belum memberikan perkiraan waktu kapan fitur ini akan kembali diaktifkan.

Contoh Penyalahgunaan yang Ditemukan

Selama fitur ini masih aktif, tim BBC Verify berhasil menciptakan sejumlah gambar rekayasa yang memperlihatkan Menara Eiffel yang runtuh, lubang raksasa yang menelan Piramida Agung Giza, hingga tank-tank Rusia yang seolah berada di ibu kota Ukraina.

Peneliti independen sekaligus pakar disinformasi, Henk van Ess, turut menguji fitur ini dan berhasil membuat gambar fiktif berupa fasilitas nuklir di Iran yang sebenarnya tidak ada, kamp pengungsi di perbatasan Amerika Serikat-Meksiko, serta rumah sakit di Gaza yang digambarkan berdampingan dengan kawah bekas ledakan bom.

Van Ess menyoroti bahwa hasil rekayasa semacam ini tidak perlu terlihat meyakinkan dengan sendirinya. Menurutnya, gambar itu justru "mewarisi" kredibilitas dari peta tempat gambar tersebut "dilahirkan" — sebuah cara untuk menjelaskan bagaimana konteks Google Earth membuat gambar palsu terasa lebih otentik dibanding jika dibuat lewat aplikasi AI biasa.

Kantor berita AFP, yang turut menguji fitur serupa, melaporkan berhasil membuat gambar ledakan di Paris, situs nuklir fiktif lainnya, kawah bom di wilayah Rusia, hingga lokasi pelatihan kelompok militan di Suriah.

Google sebelumnya mengklaim setiap gambar hasil AI-nya dilengkapi watermark digital bernama SynthID, yang bisa dideteksi lewat aplikasi Gemini maupun fitur Lens di mesin pencarian Google. Klaim ini pada dasarnya benar, dan pengujian BBC Verify menemukan mekanisme ini umumnya bekerja sesuai fungsinya.

Masalahnya, tim BBC Verify juga menemukan cara untuk mengelabui Gemini sehingga chatbot itu justru menyatakan gambar hasil rekayasa sebagai gambar asli. Sejumlah alat deteksi AI pihak ketiga yang dicoba pun gagal mengenali bahwa gambar-gambar dari fitur Google Earth ini sebenarnya buatan mesin.

Selain itu, batasan yang seharusnya mencegah pembuatan konten dengan "topik berbahaya" ternyata bisa dilewati hanya dengan mengubah sedikit kata dalam perintah. BBC Verify mencontohkan, permintaan membuat "panggung untuk menggantung pengkhianat" di sebelah gedung Parlemen Inggris ditolak sistem.

Namun, ketika permintaan dibuat lebih tidak spesifik, sistem justru menyetujuinya dan gambar tetap tercipta.

Persoalan ini bukan sekadar soal satu fitur yang gagal. Ahli deteksi AI, Henry Ajder, menyebut penciptaan gambar palsu di wilayah konflik berpotensi sangat "destabilisasi", terutama saat situasi berkembang cepat dan informasi valid masih terbatas. Ia mengingatkan bahwa meski jurnalis mungkin bisa memverifikasi sebuah gambar sebelum memberitakannya, tidak semua orang punya kemampuan atau kemauan melakukan hal serupa.

Ajder menambahkan, di tengah banjir konten AI yang terus meningkat, ruang-ruang yang dianggap "belum tercemar" oleh AI menjadi semakin berharga, terutama bagi jurnalis maupun siapa pun yang bekerja memverifikasi informasi di garis depan krisis yang berkembang cepat. Ia menyebut ini mengkhawatirkan karena sumber informasi yang selama ini dipercaya kini ikut tergerus keraguan akibat kemungkinan keterlibatan AI.

Google Earth sendiri selama ini menjadi pintu masuk banyak orang untuk mengakses citra satelit secara terbuka, termasuk untuk memahami kondisi di wilayah yang sulit dijangkau. Analis geospasial sekaligus salah satu pendiri layanan satelit nirlaba Common Space, Bill Greer, mengatakan kepada BBC Verify bahwa insiden ini berpotensi sangat merusak kepercayaan publik, mengingat citra satelit selama ini secara historis dipandang sebagai sumber data yang khususnya bisa dipercaya.

Greer menambahkan, citra satelit palsu sebenarnya sudah pernah dipakai untuk menyebarkan disinformasi sebelum insiden ini. Ia juga memperingatkan bahwa di tengah semakin banyaknya pemerintah yang membatasi akses terhadap data satelit asli, kombinasi antara makin banyak gambar palsu dan makin sedikit gambar asli berisiko semakin mengikis kepercayaan publik terhadap citra satelit secara umum.

Sampai artikel ini disusun, Google belum mengumumkan linimasa pasti kapan fitur pembuatan gambar AI di Google Earth akan diaktifkan kembali, maupun rincian teknis "pagar pembatas" tambahan yang dijanjikan perusahaan. Yang jelas, kasus ini menjadi pengingat bahwa integrasi AI generatif ke dalam produk yang selama ini dipercaya sebagai sumber data objektif — seperti peta dan citra satelit — membawa risiko berbeda dibanding sekadar menambahkan AI ke aplikasi pengolah gambar biasa.

Tambahkan QAPLO sebagai sumber utama Google Discovery
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait