Breaking
Memuat breaking news...

Google Bakar Rp106 Triliun untuk AI, Kas Big Tech Menipis dan Utang Membengkak

Qaplo
Qaplo
Jumat, 24 Juli 2026 - 7.07 PM WIB
Google Bakar Rp106 Triliun untuk AI, Kas Big Tech Menipis dan Utang Membengkak
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

QAPLO - Raksasa teknologi dunia menggelontorkan uang jumbo demi memenangkan perlombaan kecerdasan buatan. Alphabet, induk Google, mencatat arus kas keluar terbesar dalam sejarah pada kuartal II 2026, membuat investor mulai cemas kapan investasi itu balik modal.

Pada periode April-Juni 2026, Alphabet dilaporkan menghabiskan US$5,9 miliar atau sekitar Rp106 triliun. Pengeluaran itu terjadi bersamaan dengan lonjakan pendapatan unit cloud sebesar 82 persen. Bisnis cloud ini adalah layanan penyewaan daya komputasi yang kini jadi tulang punggung kebutuhan AI.

Dampaknya langsung terasa di pasar saham. Pada perdagangan awal Kamis, 23 Juli 2026, saham Alphabet anjlok sekitar 6 persen. Saham Meta dan Amazon ikut turun 3,5 persen, sementara Microsoft relatif stabil. Investor khawatir belanja AI makin besar tapi pendapatannya belum mengejar.

Fenomena ini mengubah wajah Big Tech. Selama bertahun-tahun Google, Microsoft, Meta, dan Amazon dikenal dengan margin tebal dan kas melimpah. Proyek baru bisa didanai dari kas internal dengan mudah.

Kini situasinya berbalik. Karena persaingan AI makin sengit, mereka harus berutang dan menjual saham untuk membangun data center, membeli chip mahal, dan mengembangkan model. Berdasarkan perkiraan analis, total utang Big Tech bisa menembus US$700 miliar atau sekitar Rp12.579 triliun pada tahun ini karena kas internal tidak lagi cukup.

Kepala strategi investasi Saxo Markets, Charu Chanana, menilai risiko belanja masih akan naik selama perusahaan seperti Microsoft masih kekurangan kapasitas data center. Namun investor akan makin kritis melihat seberapa besar kas yang harus diputar kembali dan apakah pendapatan AI bisa tumbuh lebih cepat dari biaya modal dan operasional.

Sorotan akan makin tajam pekan depan saat Microsoft, Meta Platforms, dan Amazon merilis laporan keuangan. Pasar khawatir mereka akan mengikuti Alphabet dengan menaikkan proyeksi belanja.

Angka prediksinya cukup mengejutkan. Arus kas Meta diperkirakan anjlok 95,7 persen menjadi hanya US$1,85 miliar. Microsoft yang tahun fiskalnya berakhir Juni mendatang diperkirakan mencatat kas US$25,39 miliar, kurang dari separuh estimasi tahun sebelumnya sebesar US$58,74 miliar.

Rasio belanja modal terhadap pendapatan menunjukkan berapa persen hasil jualan yang harus dibelanjakan lagi untuk infrastruktur. Jika dulu dari setiap Rp100 pendapatan Google hanya memakai Rp23 untuk bangun server, kini harus memakai Rp41. Meta bahkan naik dari 35,9 persen menjadi 54,9 persen.

Semakin tinggi rasionya, semakin tipis sisa untuk laba. Bagi investor, ini sinyal bisnis Big Tech yang dulu ringan aset kini berubah jadi bisnis berat infrastruktur seperti operator telekomunikasi.

Dulu modelnya sederhana: buat software, dapat iklan, untung besar. Kini untuk melatih model AI butuh ribuan chip, listrik besar, dan data center di banyak negara. Pendapatan dari AI memang tumbuh lewat cloud, tapi belum secepat biaya bangunnya. Jika siklus ini terus tanpa jeda, Big Tech dikhawatirkan terjebak bangun besar-besaran tanpa kepastian laba.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait