Breaking
Memuat breaking news...

Gerhana Matahari dan Puncak Hujan Meteor Perseid Jatuh di Hari yang Sama, 12 Agustus 2026

Redaksi
Redaksi
Sabtu, 1 Agustus 2026 - 6.48 AM WIB
Gerhana Matahari dan Puncak Hujan Meteor Perseid Jatuh di Hari yang Sama, 12 Agustus 2026
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Langit dunia akan menyuguhkan dua pertunjukan sekaligus dalam rentang waktu kurang dari sehari. Gerhana matahari total dan puncak hujan meteor Perseid, dua fenomena langit yang biasanya datang di waktu berbeda, kebetulan jatuh pada tanggal yang sama: 12 Agustus 2026.

Tapi jangan bayangkan keduanya bisa disaksikan bersamaan dalam satu pemandangan. Gerhana matahari hanya bisa dilihat saat langit terang, karena memang membutuhkan posisi Matahari yang jelas terlihat. Hujan meteor, sebaliknya, baru bisa disaksikan setelah gelap turun.

Jadi yang terjadi sebenarnya adalah dua acara terpisah dalam satu hari kalender yang sama, berjarak beberapa jam — sebuah kebetulan langka yang membuat pertengahan Agustus ini layak dicatat di kalender siapa pun yang gemar menengadah ke langit.

Gerhana Matahari: Momen Langka bagi Eropa, Tapi Tidak untuk Indonesia

Gerhana kali ini akan total di Greenland, Islandia, dan Spanyol utara — inilah gerhana matahari total pertama yang melintasi daratan utama Eropa sejak 1999. Di luar jalur totalitas itu, sebagian besar Eropa hanya kebagian gerhana sebagian, tapi dengan cakupan yang tetap mengesankan.

Inggris dan Irlandia, misalnya, akan melihat antara 90 hingga 96 persen permukaan Matahari tertutup Bulan tergantung lokasi persisnya — makin ke barat daya seperti Cornwall dan Kepulauan Scilly, makin dalam gerhananya, sementara di ujung timur laut seperti Kepulauan Shetland cakupannya sedikit lebih rendah. Ini menjadikannya gerhana paling dalam yang pernah dilihat Inggris sejak gerhana total 1999.

Prosesnya dimulai sekitar pukul 18.17 waktu London, ketika Bulan mulai "menggigit" tepi piringan Matahari, dan mencapai puncak sekitar pukul 19.12 waktu setempat. Bagi yang ingin menonton, tetap wajib menggunakan pelindung mata bersertifikat sepanjang fase sebagian berlangsung — kacamata hitam biasa tidak cukup melindungi mata dari radiasi Matahari.

Cara alternatif yang lebih murah termasuk memakai proyektor lubang jarum, atau memanfaatkan bayangan yang jatuh dari saringan dapur — bukan untuk melihat langsung ke Matahari, melainkan mengamati pola bayangannya di permukaan datar.

Sayangnya, jalur gerhana ini sama sekali tidak menjangkau Indonesia. Satu-satunya cara warga Indonesia mengikutinya adalah lewat siaran langsung dari observatorium di negara-negara yang dilalui jalur gerhana.

Perseid: Fenomena yang Justru Bisa Dinikmati dari Indonesia

Di sinilah letak kabar baik bagi pembaca di Tanah Air. Berbeda dengan gerhana matahari yang sama sekali tak terjangkau dari Indonesia, hujan meteor Perseid justru bisa disaksikan dari seluruh wilayah Nusantara — asalkan cuaca cerah dan langit cukup gelap dari polusi cahaya kota.

Perseid sudah aktif sejak pertengahan Juli, tapi baru mencapai puncaknya pada malam 12 hingga 13 Agustus — hanya beberapa jam setelah gerhana matahari usai di belahan bumi lain. Fenomena ini muncul ketika Bumi melintasi jalur puing debu, es, dan batuan sisa peninggalan Komet 109P/Swift-Tuttle, komet raksasa berdiameter sekitar 26 kilometer yang mengorbit Matahari sekali setiap 133 tahun.

Material sisa komet itu menghantam atmosfer Bumi dengan kecepatan sekitar 59 kilometer per detik, terbakar akibat gesekan udara, lalu menghasilkan kilatan cahaya yang biasa disebut bintang jatuh. Nama Perseid sendiri diambil dari rasi Perseus, karena kilatan-kilatan meteor itu tampak seolah memancar dari arah rasi tersebut di langit malam.

Bagi pengamat di belahan bumi utara, intensitas Perseid bisa mencapai 60 hingga 100 meteor per jam pada puncaknya.

Dari Indonesia, jumlahnya lebih sedikit — diperkirakan sekitar 20 hingga 40 meteor per jam — karena posisi titik pancaran (radiant) rasi Perseus berada jauh lebih rendah di ufuk timur laut dilihat dari wilayah khatulistiwa, dibandingkan posisinya yang lebih tinggi di langit lintang utara.

Meski begitu, jumlah itu tetap tergolong signifikan untuk fenomena tahunan yang bisa dinikmati tanpa teleskop maupun binokular.

Waktu terbaik mengamati dari Indonesia adalah mulai sekitar pukul 01.00 waktu setempat — baik WIB, WITA, maupun WIT — hingga menjelang fajar sekitar pukul 04.30, saat rasi Perseus sudah naik lebih tinggi ke arah timur hingga timur laut.

Kabar baiknya lagi, puncak Perseid tahun ini bertepatan dengan fase Bulan yang nyaris gelap total, sehingga cahaya Bulan tidak akan mengganggu pandangan ke meteor-meteor yang lebih redup sekalipun. Kombinasi inilah yang membuat sejumlah pengamat astronomi menyebut edisi 2026 sebagai salah satu tahun terbaik untuk berburu Perseid dalam beberapa tahun terakhir.

Cara Menikmati Kedua Fenomena Ini

Untuk hujan meteor, persiapannya sederhana: cari lokasi yang jauh dari lampu kota — bisa pedesaan, pantai, dataran tinggi, atau kawasan pegunungan — lalu biarkan mata beradaptasi dengan gelap selama beberapa menit sebelum mulai mengamati langit secara luas. Tidak perlu mengarahkan pandangan ke titik tertentu; meteor bisa muncul dari berbagai arah langit, bukan hanya dari sekitar rasi Perseus.

Gerhana matahari jelas berbeda ceritanya: butuh ketepatan waktu, lokasi yang berada di jalur gerhana, dan yang terpenting, perlindungan mata yang benar sepanjang waktu Matahari masih terlihat sebagian.

Bagi orang di Indonesia yang tidak bisa menyaksikannya langsung, menonton siaran langsung tetap jadi opsi paling realistis — sambil menunggu giliran sendiri untuk menikmati hujan meteor beberapa jam kemudian, tanpa perlu kacamata khusus maupun risiko bagi mata sama sekali.

Tambahkan QAPLO sebagai sumber utama Google Discovery
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait