Gempa M5,6 Guncang Mesir, Kemlu Pastikan Belum Ada WNI Terdampak

Gempa bumi mengguncang wilayah timur laut Sharm el-Sheikh, Mesir, pada Senin (3/8/2026) dini hari sekitar pukul 03.00 waktu setempat. Kementerian Luar Negeri RI memastikan belum ada warga negara Indonesia yang menjadi korban.
Lembaga Penelitian Nasional Astronomi dan Geofisika Mesir mencatat kekuatan gempa itu di angka magnitudo 5,6, dengan episentrum sekitar 61 kilometer timur laut Sharm el-Sheikh atau 500 kilometer dari Kairo. Lembaga pemantau lain memberi angka yang sedikit berbeda—Xinhua melaporkan magnitudo 5,5, sementara Pusat Penelitian Geofisika Jerman (GFZ) mencatat 5,4.
Selisih semacam ini lumrah terjadi karena setiap lembaga memakai metode dan jaringan sensor yang tidak sama persis, sehingga angka yang keluar bisa berbeda tipis meski merujuk pada gempa yang sama.
Meski tergolong gempa menengah, guncangannya cukup terasa. Getaran dilaporkan sampai ke Kairo, Suez, dan beberapa provinsi lain, bahkan sempat memicu kepanikan warga di ibu kota. Fenomena ini sebetulnya tidak lazim untuk Mesir.
Negara itu tidak berada di jalur pertemuan lempeng tektonik aktif seperti kawasan Cincin Api Pasifik, sehingga gempa dengan kekuatan segini biasanya jarang terjadi dan lebih mudah membuat warga terkejut ketimbang di wilayah yang memang rawan gempa.
Direktur Perlindungan WNI (PWNI) Kementerian Luar Negeri, Heni Hamidah, menyampaikan bahwa KBRI Kairo langsung menghubungi simpul-simpul komunitas WNI di sejumlah kota begitu gempa terjadi, mencakup Kairo, Alexandria, Mansoura, Hurghada, Luxor, dan Sharm el-Sheikh.
"Sejauh ini belum ada laporan WNI yang terdampak gempa tersebut. Bahkan, terdapat WNI di Hurghada dan Luxor mengaku tidak merasakan gempa dimaksud," kata Heni dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin.
Kota-kota yang disebut Heni bukan tanpa alasan. Kairo dan Alexandria dikenal sebagai basis pelajar Indonesia yang menempuh studi di Al-Azhar dan sejumlah kampus lain, sementara Hurghada, Luxor, dan Sharm el-Sheikh merupakan destinasi wisata populer di kawasan Laut Merah dan Lembah Nil yang juga kerap disinggahi wisatawan asal Indonesia.
Kemlu menambahkan, gempa tersebut tidak menimbulkan kerusakan bangunan maupun infrastruktur. Meski begitu, WNI di Mesir tetap diimbau waspada, memantau informasi dari sumber resmi, dan menjaga komunikasi dengan KBRI Kairo. Jika terjadi kondisi darurat, WNI dapat menghubungi hotline KBRI Kairo di +20 10-2222-9989 atau hotline Direktorat PWNI Kemlu di +62 812-9007-0027.
Di sisi pemerintah Mesir, Bulan Sabit Merah menyatakan belum menerima laporan korban luka maupun kerusakan properti, seperti dikutip Anadolu. Lembaga itu mengimbau warga untuk menjauhi bangunan tua atau yang sudah menunjukkan tanda keretakan, sebagai langkah antisipasi bila terjadi gempa susulan.
Kementerian Kesehatan dan Kependudukan Mesir, yang dipimpin Khaled Abdel-Ghaffar, turut mengaktifkan rencana tanggap darurat begitu gempa terjadi. Rumah sakit di seluruh negeri diminta bersiaga penuh, dengan status kewaspadaan dinaikkan di unit gawat darurat dan perawatan kritis, sementara kesiapan ambulans serta tim respons cepat turut dipastikan. Kementerian tersebut menyebut kondisi kesehatan masyarakat tetap stabil dan belum ada laporan korban luka akibat gempa.
Bagi keluarga di Tanah Air yang punya kerabat sedang belajar atau berlibur di Mesir, kabar dari Kemlu ini penting sebagai kepastian awal. Namun perlu diingat, situasi di lapangan bisa berkembang—gempa susulan dengan kekuatan lebih kecil kerap muncul beberapa jam hingga beberapa hari setelah gempa utama.
Kemlu maupun otoritas Mesir belum mengeluarkan pernyataan lanjutan soal kemungkinan itu, sehingga informasi terbaru sebaiknya tetap dipantau langsung dari kanal resmi Kemenlu RI atau KBRI Kairo.
Artikel ini disusun berdasarkan keterangan resmi Kemlu RI serta pemberitaan Antara, Xinhua, dan media lain per 3 Agustus 2026. Informasi dapat berkembang seiring situasi di lapangan.
Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda