Breaking
Memuat breaking news...

Gempa Kumamoto Renggut 38 Nyawa, Pengungsi Kini Lawan Panas 40 Derajat dan Krisis Air-Bensin

Redaksi
Redaksi
Senin, 3 Agustus 2026 - 6.49 AM WIB
Gempa Kumamoto Renggut 38 Nyawa, Pengungsi Kini Lawan Panas 40 Derajat dan Krisis Air-Bensin
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Penderitaan warga Kumamoto belum selesai. Setelah gempa kuat meratakan rumah dan pusat perbelanjaan, ribuan penyintas yang tidur di tenda dan di dalam mobil harus melawan musuh kedua: gelombang panas yang membuat pengungsian terasa seperti oven.

Data terbaru Prefektur Kumamoto pada pertemuan tanggap darurat Minggu pagi, 2 Agustus 2026, mencatat korban tewas naik menjadi 38 orang. Angka itu termasuk beberapa kasus yang masih diselidiki apakah kematiannya terkait langsung dengan gempa. Kenaikannya cepat. Dari 18 orang di hari kejadian, jadi 28 pada Kamis, 30 pada Jumat, dan kini 38.

Gempa terjadi Selasa, 28 Juli 2026 pukul 16.27 waktu setempat. Badan Survei Geologi AS mencatat magnitudo M6,8, sementara Badan Meteorologi Jepang (JMA) mengukur 7,1 dengan kedalaman dangkal 10 kilometer. Pusatnya sekitar 5 km timur Kota Uto, Prefektur Kumamoto, di Pulau Kyushu.

Guncangan berlangsung 16 detik dengan intensitas maksimum 7 skala JMA di Uki dan Hikawa — level tertinggi. Disusul lebih dari 100 gempa susulan, beberapa di antaranya mencapai magnitudo 6,1.

Dampaknya luas. Lebih dari 1.500 bangunan rusak, 179 di antaranya hancur total menurut penilaian awal. Di Kashima, lantai dua Aeon Mall Kumamoto ambruk sekitar satu jam setelah gempa utama, lalu disusul ledakan yang diduga dipicu kebocoran gas. Saat itu mal diperkirakan dipadati 3.000 pengunjung. Tujuh orang tewas di lokasi itu, lima luka.

Di Yatsushiro, cerobong pabrik Nippon Paper Industries ambruk. Sembilan pekerja tewas, dua luka. Total 155 orang terluka di beberapa prefektur dan sekitar 10.000 orang mengungsi.

Gempa ini dinamai resmi JMA sebagai Gempa Kumamoto 2026, sepuluh tahun setelah rangkaian gempa 2016 yang menewaskan lebih dari 260 orang.

Masalah tidak berhenti di reruntuhan. Jepang tengah dilanda gelombang panas.

Suhu di Kumamoto mencapai 35-36 derajat Celsius pekan ini, dengan kelembapan tinggi. JMA bersama Kementerian Lingkungan Hidup mengeluarkan peringatan panas ekstrem sejak Jumat. Prakiraan menyebut suhu bisa menembus 40 derajat pada Senin.

Bagi pengungsi, itu bahaya nyata. Sekitar 48.300 rumah tangga sempat kehilangan listrik dan 84.000 rumah kehilangan air di Kumamoto dan Nagasaki. Tanpa listrik, pendingin ruangan di tempat pengungsian tidak bisa menyala.

Perdana Menteri Sanae Takaichi mengatakan lebih dari 4.600 personel Pasukan Bela Diri dan 480 polisi dikerahkan. Ia meminta pasokan air dipastikan dengan "cara apa pun yang diperlukan". Japan Times melaporkan 72.000 rumah tangga masih terputus airnya. Militer mengangkut truk tangki air ke sekolah dan pusat komunitas, mengirim sekitar 300 unit AC ke pusat evakuasi, dan warga dibatasi 3 liter air per orang.

Krisis merambat ke pom bensin. Pemadaman listrik membuat sejumlah SPBU tidak beroperasi, ditambah jalur distribusi BBM rusak akibat gempa.

Banyak warga memilih tidur di mobil demi privasi. Tapi tanpa bensin, mereka tidak bisa menyalakan AC semalaman.

Hirokazu Sato, warga yang rumahnya hancur, mengaku tinggal di mobil bersama istri dan tiga anaknya. "Kami butuh AC menyala sepanjang siang dan malam, dan itu menghabiskan banyak bensin," katanya. Ia belum tahu kapan bisa pindah ke hunian sementara.

Otoritas Kumamoto mencatat satu korban perempuan 70-an ditemukan meninggal di dalam mobil pada 30 Juli diduga karena heatstroke — kasus pertama yang dikategorikan sebagai kematian terkait bencana, bukan langsung akibat guncangan.

Tim penyelamat juga diminta istirahat berkala. Pencarian di reruntuhan dilakukan di bawah terik, dengan risiko bangunan labil.

Operasi pencarian memasuki hari kelima pada Sabtu, melewati masa kritis 72 jam pertama. Di Aeon Mall, polisi Prefektur Hyogo menyisir ulang untuk memastikan tidak ada yang tertinggal. Pada 30 Juli polisi Kumamoto menyatakan semua orang yang diketahui terjebak di mal sudah ditemukan, baik hidup maupun meninggal. Pencarian di pabrik kertas juga selesai, 11 orang berhasil dievakuasi.

Dari 38 korban, 27 telah teridentifikasi. Proses identifikasi masih berjalan.

Bagi warga Kumamoto, penghentian operasi pencarian menandai pergantian fase. Dari darurat ke pemulihan yang panjang. Rumah yang miring karena likuifaksi, jalan yang retak, rel kereta Kyushu Shinkansen yang bengkok, dan Istana Kumamoto yang kembali rusak — semua menunggu diperbaiki di tengah suhu yang makin panas.

Tambahkan QAPLO sebagai sumber utama Google Discovery
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait