Breaking
Memuat breaking news...

FSB Rusia Buru Bos Telegram Pavel Durov, Dituding Fasilitasi Terorisme Lewat Chatbot Kencan

Redaksi
Redaksi
Senin, 3 Agustus 2026 - 9.34 AM WIB
FSB Rusia Buru Bos Telegram Pavel Durov, Dituding Fasilitasi Terorisme Lewat Chatbot Kencan
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Rusia memburu bos Telegram Pavel Durov. Tuduhannya berat: memfasilitasi terorisme lewat platformnya.

Dinas Keamanan Federal (FSB) menyebut nama Durov telah dimasukkan dalam daftar buronan internasional. Lembaga itu tidak menjelaskan mekanisme rinci yang dipakai untuk memasukkannya, dikutip Reuters Jumat (31/7/2026).

Reuters melaporkan organisasi polisi global Interpol juga tidak segera merespons permintaan komentar. Sumber yang dikutip Reuters menyebut kalaupun Rusia meminta Red Notice untuk Durov, prosesnya kemungkinan tidak akan cepat.

Durov kini berbasis di Dubai. Kantor Telegram juga sudah dipindahkan ke sana sejak 2017. Dubai dan Rusia diketahui memiliki hubungan dekat, tapi menyerahkan Durov ke Moskow berisiko merusak citra Dubai sebagai hub yang menarik perusahaan dan teknologi global.

Keberadaan Durov sendiri tidak jelas. Minggu lalu ia mengabarkan tengah berada di Georgia.

Di sisi lain, Durov menyebut kasus terhadapnya sebagai pretext yang dibuat-buat untuk membatasi akses warga Rusia ke Telegram dan menekan kebebasan berekspresi dan privasi. Respons Telegram di akun X resminya bahkan memposting gambar Durov mengacungkan jari tengah setelah dakwaan diumumkan.

Inti tuduhan FSB bukan hanya soal kanal-kanal yang tidak dihapus.

FSB dan Komite Investigasi Rusia menyebut Telegram gagal menindak channel, chat, dan bot yang "secara aktif digunakan dinas intelijen Ukraina, organisasi teroris dan ekstremis untuk menyiapkan dan mengoordinasi sabotase dan terorisme, pembunuhan massal dan penipuan siber" di Rusia.

Sorotan utama ada pada chatbot yang tersedia di Telegram bernama Daivinchik/Leo. Ini adalah chatbot kencan yang sangat populer di Rusia setelah Tinder tidak lagi tersedia di sana.

Menurut FSB, mata-mata Ukraina menggunakan Daivinchik/Leo dan menyamar sebagai wanita muda untuk menarik anak-anak muda Rusia. Setelah terjadi kontak, target kemudian dimanipulasi secara psikologis agar mau melakukan kejahatan seperti sabotase dan operasi terorisme.

FSB mengklaim telah menangkap 46 warga Rusia berusia 12 hingga 22 tahun selama setahun terakhir. Mereka mengaku direkrut dengan modus tersebut dan melakukan serangan pada petugas penegak hukum atau membakar infrastruktur transportasi, energi, komunikasi, dan keuangan.

Badan pengawas keuangan Rusia Rosfinmonitoring bahkan sudah menambahkan nama Durov ke daftar ekstremis dan teroris, sehari setelah dakwaan diumumkan.

Kasus ini menempatkan Telegram di posisi rumit.

Platform dengan lebih dari 1 miliar pengguna aktif bulanan itu menjadi sumber informasi kritis tentang perang Rusia-Ukraina dan dipakai luas oleh pejabat di Moskow dan Kyiv. Durov sendiri lahir di St. Petersburg dan meninggalkan Rusia pada 2014 setelah bersitegang dengan Kremlin soal data pengguna.

Dakwaan terorisme ini menambah panjang konfliknya dengan Moskow. Apakah Red Notice Interpol akan benar-benar terbit dan apakah Dubai akan mengambil langkah, masih belum jelas. Yang pasti, tarik-menarik soal siapa yang mengontrol ruang digital di Rusia kembali memanas.

Tambahkan QAPLO sebagai sumber utama Google Discovery
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait