Drama kelolosan Indonesia ke final FIFA ASEAN Cup 2026 belum juga reda. Kini giliran kubu Malaysia yang melancarkan badai protes — dari striker yang tantrum di media sosial hingga seruan boikot. Masalahnya, satu per satu protes itu mentah oleh aturan main itu sendiri.

Striker naturalisasi Malaysia asal Brasil, Bergson da Silva, menjadi motor kemarahan. Tiga hal diprotesnya. Pertama, injury time laga Indonesia versus Bangladesh yang berubah dari 2 menit menjadi 7 menit. Kedua, Indonesia yang disebut selalu diuntungkan karena main malam terus di Jakarta. Ketiga, jeda istirahat antarpertandingan yang cuma dua hari.

Video kanal GALZ membantah ketiganya dengan cukup telak. Soal injury time, angka "2 menit" itu diakui wasit keempat sebagai miskomunikasi. Menurut Laws of the Game IFAB/FIFA, wasit keempat memang mengumumkan minimal tambahan waktu, tapi wasit utama berhak memperpanjangnya jika ada waktu terbuang tambahan — seperti cedera atau pengecekan VAR — dan justru dilarang menguranginya. Fakta yang bikin teori "settingan" makin aneh: di masa injury time itu Bangladesh malah sempat mencetak gol lebih dulu ke gawang Indonesia.

Soal main malam di Jakarta: Indonesia adalah tuan rumah. Tuan rumah main malam di kandang sendiri bukan keistimewaan yang aneh. Soal jeda dua hari: Indonesia dan Malaysia punya jadwal identik — bukan Malaysia disuruh main tiap subuh sementara Indonesia liburan ke Bali.

John Herdman sendiri dalam konferensi pers mengakui miskomunikasi wasit keempat itu. Ia menyebut para pemainnya sempat bingung dan kehilangan fokus saat Bangladesh mencetak gol kedua — "kok 2 menit sih?" — hingga fisik drop dan konsentrasi buyar. Beruntung mental Garuda cukup kuat untuk bangkit dan mencetak dua gol balasan.

Sementara itu, di sisi lain badai justru berbalik arah. Kecurigaan besar kini tertuju ke laga Singapura versus Malaysia yang berakhir 6-0. Banyak pihak — termasuk publik Singapura sendiri yang kecewa berat — meminta FIFA mengusut tuntas dugaan "main sabun". Pasalnya Singapura sejatinya masih punya peluang lolos dan secara level adalah tim Piala Asia, tapi tampil seolah melepas pertandingan melawan rival terbesarnya. Kantor federasi Singapura disebut terancam digeruduk fans yang sudah melayangkan peringatan terbuka. Jika dugaan terbukti, sanksi besar disebut-sebut bisa menimpa Singapura — dan Malaysia.

Di tengah itu, Ultras Malaya dikabarkan siap melanjutkan boikot sampai kondisi sepak bola Malaysia — terutama federasinya — benar-benar sehat.

Justin Hubner menanggapi dengan dingin. Bek timnas itu menegaskan Indonesia layak ke final karena tim terbaiklah yang berhak melaju. Ia berharap stadion penuh saat menghadapi Thailand — lawan yang secara tradisi selalu menjadi batu sandungan — demi memutus kutukan runner-up dan mencetak sejarah trofi pertama.

Video itu menutup dengan pengingat yang adil: kalau memang ada bau aneh di laga Singapura versus Malaysia, silakan usut tuntas — tapi jangan menghukum siapa-siapa hanya karena emosi fans sedang naik. Protes boleh, tapi cek aturannya dulu. Di atas semua tantrum dan boikot, yang menentukan juara tetaplah yang bermain di dalam garis putih.