Bayangkan hamparan pasir gurun yang biasanya kering kerontang, tiba-tiba berubah menjadi aliran air yang mengalir deras seperti sungai. Itulah yang terjadi di sejumlah wilayah Madinah, Arab Saudi, setelah kawasan tersebut diguyur hujan deras selama tiga hari berturut-turut.
Fenomena ini langsung menyita perhatian para penggemar aktivitas off-road, salah satunya Jawaher Shaheen. Bersama suaminya, ia menjelajahi beberapa titik di sekitar Madinah begitu hujan mulai turun, dengan jarak antar-lokasi sekitar 15-20 kilometer. Menurut penuturannya kepada Arab News, perjalanan dimulai di Al-Qaa, Afrah Al-Raddadi, sekitar pukul empat sore ketika hujan baru mulai stabil. Perjalanan berlanjut ke Al-Furaish, di mana hujan turun lebih deras hingga air mulai menggenangi dan mengalir di permukaan gurun.
Titik dengan hujan paling deras, menurut Shaheen, berada di sekitar Malaf Aar, Al-Sadarah — di sana hujan turun deras selama 15 hingga 30 menit sebelum melemah menjelang matahari terbenam. Ia menyebutkan curah hujan tertinggi selama tiga hari ini tercatat pada Jumat (28/8). Sebagai orang yang gemar menjelajah berbagai wilayah Arab Saudi, Shaheen mengaku antusias menyaksikan lanskap gurun berubah dari kering menjadi aliran air, sebelum nantinya menghijau — sesuatu yang ia gambarkan seperti "surga tersembunyi."
Cuaca Ekstrem Masih Mengintai
Pusat Meteorologi Nasional Arab Saudi (NCM) sebelumnya sudah memperingatkan potensi badai petir disertai hujan es di sejumlah wilayah, termasuk Jazan, Asir, Baha, Makkah, dan Madinah. Awan badai juga berpotensi terbentuk di wilayah lain seperti Hail, Jouf, Northern Borders, Eastern Province, hingga Najran.
Selain hujan, angin kencang yang membawa debu dan pasir turut jadi ancaman — di sejumlah wilayah Tabuk, jarak pandang bahkan diperkirakan bisa mendekati nol. Kondisi di laut pun tak kalah waspada: kecepatan angin di Laut Merah diperkirakan berkisar 15-35 kilometer per jam dan bisa menembus 50 kilometer per jam di area yang terdampak badai, dengan tinggi gelombang berpotensi melebihi 2 meter saat badai petir berlangsung.
Kaitannya dengan Bintang Suhail
Menariknya, fenomena hujan gurun ini muncul bersamaan dengan periode kemunculan bintang Suhail, yang sejak dulu dikenal masyarakat Arab. Spesialis astronomi Majed Al-Sahoubi menjelaskan kepada Arab News bahwa waktu kemunculan bintang ini berbeda-beda tergantung wilayah: sekitar 7 Agustus di Jazan (selatan), 24 Agustus di Arab Saudi bagian tengah, dan 7-10 September di wilayah paling utara.
Namun ia menegaskan, kemunculan Suhail tidak punya hubungan langsung dengan curah hujan. Hubungannya bersifat indikatif, bukan sebab-akibat — bintang ini hanya menjadi penanda bahwa cuaca mulai membaik, bukan penyebabnya. Al-Sahoubi menambahkan, hujan pada periode ini umumnya tidak teratur di wilayah gurun dan Arab Saudi bagian tengah, berbeda dengan wilayah selatan seperti Abha dan Al-Baha yang cenderung punya musim hujan lebih konsisten. Periode hujan yang lebih stabil, menurutnya, baru akan dimulai sekitar 16 Oktober mendatang.


Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda