Breaking
Memuat breaking news...

Emas Dunia Merosot Saat IHSG Bangkit, Saatnya Koreksi Ulang Portofolio Aset

Qaplo
Qaplo
Minggu, 14 Juni 2026 - 5.09 PM WIB
Emas Dunia Merosot Saat IHSG Bangkit, Saatnya Koreksi Ulang Portofolio Aset
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA — Jagat investasi sedang memperlihatkan dinamika yang menarik sekaligus menantang. Harga logam mulia di pasar global dilaporkan anjlok lebih dari 3 persen pada perdagangan Rabu (10/6/2026). Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)—yang merupakan potret gabungan performa seluruh saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia—justru melesat naik 7,38 persen. Pembalikan arah IHSG ini tergolong tajam mengingat pada pekan sebelumnya pasar saham domestik sempat merosot hingga 8,69 persen akibat guncangan geopolitik di Timur Tengah.

Bagi masyarakat umum, situasi kontras ini kerap menimbulkan kebingungan: mengapa aset yang biasanya aman justru turun saat saham mulai merangkak naik?

Dalam dunia finansial, emas sering disebut sebagai safe haven, yaitu aset aman yang diburu investor untuk mengamankan kekayaan mereka ketika kondisi dunia sedang dilanda krisis atau perang. Namun, ketika harga saham sudah dirasa terlalu murah akibat penurunan drastis, para pemodal besar cenderung melakukan aksi ambil untung pada emas untuk dialihkan kembali ke pasar saham. Fenomena ini memicu fluktuasi atau naik-turunnya harga dalam jangka pendek.

Mengatur Komposisi Sesuai Karakter Investor

Perencana keuangan, Mike Rini, mengingatkan agar fluktuasi harian atau mingguan ini tidak direspons secara emosional. Berdasarkan data historis dalam jangka panjang (3 hingga 10 tahun), baik saham maupun emas terbukti selalu mencatatkan pertumbuhan nilai. Kunci utama menghadapi situasi ini adalah diversifikasi, yaitu strategi menyebar modal ke berbagai jenis instrumen investasi agar risiko kerugian dapat diminimalkan.

Bagi investor dengan profil risiko moderat—tipe yang berani mengambil risiko terukur—Mike menyarankan untuk menempatkan 50 hingga 60 persen modal pada instrumen saham. Di tengah kondisi nilai tukar rupiah yang berfluktuasi, porsi saham ini bisa dibagi lagi: 40 persen di saham perusahaan dalam negeri, dan sisanya ditempatkan pada saham internasional untuk menangkap peluang keuntungan dari selisih mata uang asing.

Selanjutnya, alokasikan 20 hingga 30 persen pada instrumen pendapatan tetap seperti obligasi pemerintah atau korporasi yang memberikan keuntungan berupa kupon secara berkala. Sisa modal kemudian dibagi untuk emas sebagai aset bertahan sebesar 10-15 persen, dan 10 persen pada instrumen kas yang likuid atau mudah dicairkan sewaktu-waktu, seperti deposito bank atau reksa dana pasar uang.

Menyesuaikan Strategi dengan Batas Toleransi Risiko

Pendekatan taktis juga dipaparkan oleh perencana keuangan Andy Nugroho. Menurutnya, ketidakpastian global yang masih tinggi menuntut investor untuk kembali mengenali profil risiko masing-masing sebelum mengambil keputusan buyback atau membeli kembali aset-aset potensial yang harganya sedang terkoreksi turun.

Bagi investor konservatif—tipe yang sangat mengutamakan keamanan modal inti dan cemas terhadap penurunan harga—komposisi yang disarankan adalah menaruh porsi terbesar pada emas sebesar 40 persen, dan membatasi porsi saham cukup 10 persen saja. Sebaliknya, bagi investor tipe agresif yang siap menghadapi guncangan harga demi mengejar keuntungan besar, porsi saham bisa ditingkatkan hingga 50 persen dengan cadangan emas di angka 20 persen.

Tiga Poin Intisari Pasar Pekan Ini:

  1. Peningkatan Nilai Jangka Panjang: Meski dihantam volatilitas jangka pendek akibat isu geopolitik global, instrumen saham dan emas secara historis tetap memperlihatkan tren pertumbuhan yang sehat dalam jangka waktu 3 hingga 10 tahun.
  2. Manajemen Risiko Terukur: Pembagian modal yang seimbang ke berbagai instrumen (saham domestik/internasional, obligasi, logam mulia, dan dana likuid) menjadi kunci utama agar aset tidak tergerus saat pasar bergoyang.
  3. Fleksibilitas Portofolio: Tidak ada satu formula baku untuk semua orang; porsi kepemilikan aset wajib disesuaikan kembali dengan tingkat batas toleransi kecemasan (profil risiko) masing-masing investor.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait