Emas Dunia Anjlok 2 Persen di Akhir Juli, Tapi Masih Catat Kenaikan Bulanan Pertama

Harga emas dunia tergelincir cukup dalam pada perdagangan terakhir Juli 2026. Dolar AS yang kembali menguat jadi biang keladinya.
Meski begitu, logam mulia masih menutup Juli dengan status positif. Ini jadi kenaikan bulanan pertama dalam lima bulan terakhir.
Mengutip laporan Reuters dan CNBC, Sabtu, 1 Agustus 2026, harga emas spot sempat anjlok hingga 2 persen pada perdagangan Jumat, 31 Juli. Pada pukul 12.18 siang waktu New York, spot gold tercatat di US$4.044,87 per ons, turun 1,4 persen. Data CNBC mencatat level sedikit lebih rendah di US$4.027,75 per ons, turun 1,8 persen. Kontrak berjangka AS pengiriman Agustus ikut melemah 1,5-1,9 persen ke kisaran US$4.025 - US$4.043 per ons.
Sepanjang Juli, emas masih naik sekitar 0,5 hingga 1 persen. Reuters mencatat kenaikan 1 persen, yang menjadi kenaikan bulanan terbesar sejak Februari. Saat itu konflik Iran sempat memicu gejolak pasar.
Indeks dolar AS menguat 0,2-0,5 persen setelah sehari sebelumnya anjlok 2,4 persen, penurunan harian terbesar sejak Januari 2023. Dolar yang lebih kuat otomatis membuat emas lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Permintaan pun tertahan.
Data inflasi AS yang dirilis Kamis menunjukkan inflasi Juni melambat. Pasar langsung mengurangi taruhan kenaikan suku bunga lanjutan tahun ini. Berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga September kini di kisaran 65 persen, turun dari lebih dari 80 persen sepekan sebelumnya.
Harga minyak yang sempat turun kembali ke level sebelum konflik Iran di awal Juli juga sempat menopang emas. Namun laporan terbaru menyebut perlambatan inflasi itu kemungkinan hanya sementara, karena ketegangan di Timur Tengah kembali memanaskan harga minyak.
Ketua The Fed Kevin Warsh dalam pernyataannya pekan ini menegaskan komitmen menekan inflasi, tanpa memberi sinyal akan segera menaikkan suku bunga.
Analis melihat level psikologis US$4.000 masih jadi penahan.
"Although gold is on the cusp of ending a four-month losing streak, the precious metal has struggled to carve a bigger gap above the psychological $4,000 level," kata Han Tan, chief market analyst di Bybit, dikutip Reuters.
Menurut Tan, emas mampu bertahan di atas US$4.000 karena ekspektasi pasar bahwa Warsh akan memperluas fokus kebijakan bank sentral, tidak hanya pada inflasi dan suku bunga.
Kalau tren empat bulan beruntun turun akhirnya terpatahkan, itu penting. Tapi belum ada tenaga besar untuk mendorong emas jauh di atas US$4.000.
Tidak hanya emas, logam mulia lain juga terkoreksi pada hari yang sama.
Perak spot turun 2,7-2,9 persen ke kisaran US$57,29 - US$57,40 per ons. Platinum melemah 1-2,5 persen ke US$1.618 - US$1.643 per ons. Paladium turun paling dalam, 2-3,4 persen ke US$1.260 - US$1.278 per ons.
Meski melemah harian, platinum dan paladium masih mencatat kenaikan secara bulanan. Perak bahkan masih jadi perhatian karena perannya sebagai logam industri panel surya.
Bagi investor di Indonesia, pergerakan ini biasanya baru terasa di harga emas Antam dan emas digital beberapa hari setelahnya, tergantung kurs rupiah dan premi lokal. Koreksi 2 persen tidak menghapus tren bulanan, tapi jadi pengingat: selama dolar masih volatil dan konflik Timur Tengah belum reda, emas akan tetap naik-turun di sekitar level psikologis US$4.000.
Sumber: Reuters (31 Juli 2026) "Gold retreats but poised to end best month since February", CNBC (1 Agustus 2026).
Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda