Breaking
Memuat breaking news...

Ekspor Sawit RI Tumbuh 7,32 Persen Semester I 2026, Mentan Sebut Hilirisasi "Senjata Strategis"

Redaksi
Redaksi
Rabu, 5 Agustus 2026 - 6.10 AM WIB
Ekspor Sawit RI Tumbuh 7,32 Persen Semester I 2026, Mentan Sebut Hilirisasi "Senjata Strategis"
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Jakarta — Di tengah pelemahan sejumlah komoditas ekspor lain, sawit justru tampil sebagai salah satu penopang utama kinerja perdagangan Indonesia pada paruh pertama 2026. Badan Pusat Statistik mencatat nilai ekspor minyak sawit mentah (CPO) dan produk turunannya tumbuh 7,32 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyambut capaian itu dengan menyebut hilirisasi CPO sebagai "senjata strategis" bagi Indonesia. Pernyataan itu disampaikannya di Jakarta, Selasa (4/8/2026).

"Kita nomor satu dunia. Total sekitar 80 persen produksi CPO dunia dikuasai Indonesia dan Malaysia. Karena itu, hilirisasi CPO menjadi senjata strategis Indonesia," kata Amran.

Menurutnya, penguatan ekspor pertanian ke depan tidak bisa lagi hanya mengandalkan volume. Nilai tambah lewat pengolahan industri, kata dia, harus terus didorong agar manfaatnya lebih besar—baik untuk perekonomian nasional maupun kesejahteraan petani sawit.

Sehari sebelum pernyataan Amran, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono sudah lebih dulu memaparkan data yang melatarinya. Dalam rilis Berita Resmi Statistik di Jakarta, Senin (3/8/2026), Ateng menyebut kenaikan harga CPO di pasar internasional sebagai faktor pendorong utama.

"Sepanjang Januari-Juni 2026, nilai ekspor CPO dan turunannya tumbuh 7,32 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu," ujarnya.

Secara nilai, ekspor komoditas pertanian, kehutanan, dan perikanan pada Juni 2026 saja mencapai US$485,8 juta. Sepanjang Januari-Juni, akumulasinya tembus US$2,59 miliar, naik 1,84 persen dari tahun sebelumnya. Angka itu turut menopang kinerja ekspor Indonesia secara keseluruhan, yang pada semester pertama tahun ini mencapai US$140,81 miliar—tumbuh 4,13 persen secara tahunan.

Ekspor nonmigas menyumbang porsi terbesar, naik 4,90 persen menjadi US$134,58 miliar.

Namun ada satu detail yang layak dicermati pembaca sebelum buru-buru menyimpulkan performa ekspor sawit sedang gemilang di segala lini: pada Juni 2026, nilai ekspor kelompok lemak dan minyak hewani-nabati (HS15, yang didominasi CPO) memang naik 10,45 persen dibanding Juni 2025.

Tapi dari sisi volume, ekspor kelompok komoditas ini justru turun 7,09 persen. Artinya, lonjakan nilai ekspor bulan itu lebih banyak ditopang penguatan harga di pasar dunia, bukan karena Indonesia mengirim CPO dalam jumlah yang lebih banyak.

BPS juga mencatat bahwa CPO, besi-baja, dan batu bara bersama-sama menyumbang sekitar 28,30 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia sepanjang Januari-Juni 2026. Di antara ketiganya, CPO mencatat pertumbuhan nilai paling tinggi—7,32 persen—sementara ekspor batu bara hanya naik tipis 0,63 persen dan ekspor besi-baja justru turun 0,16 persen. Posisi CPO sebagai salah satu andalan ekspor nasional pun makin terlihat jelas di tengah perlambatan dua komoditas lainnya.

Yang jadi pertanyaan berikutnya: bisakah tren pertumbuhan ini bertahan? Sinyal dari industri justru menunjukkan arah sebaliknya untuk sisa tahun ini. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memperkirakan volume ekspor CPO justru akan tertekan sepanjang 2026, karena kebutuhan pasokan domestik untuk program biodiesel B50 meningkat tajam sementara produksi sawit nasional diproyeksikan hanya tumbuh kurang dari 2 persen akibat dampak El Nino dan proses peremajaan kebun yang masih berjalan.

Total kebutuhan CPO untuk B50 diperkirakan mencapai sekitar 14,6 juta ton—jumlah yang menurut GAPKI masih bisa dipenuhi, tapi otomatis mengurangi porsi yang tersisa untuk pasar ekspor.

Dengan kata lain, cerita hilirisasi sawit ke depan kemungkinan besar tidak akan sesederhana "makin banyak diolah, makin banyak diekspor". Ada tarik-menarik antara kebutuhan energi dalam negeri dan ambisi memperbesar devisa dari sawit, dan bagaimana pemerintah menyeimbangkan keduanya akan menentukan apakah pertumbuhan ekspor semester pertama ini bisa berlanjut atau justru jadi puncak sementara sebelum melandai.

Sampai saat ini, Kementerian Pertanian belum merinci target atau peta jalan konkret soal hilirisasi CPO yang dimaksud Amran, sehingga publik masih perlu menunggu kebijakan lebih lanjut untuk melihat bagaimana strategi ini benar-benar dijalankan di lapangan.

Tambahkan QAPLO sebagai sumber utama Google Discovery
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait