Breaking
Memuat breaking news...

EASA Minta Maskapai Hindari Wilayah Udara Iran, Lebanon, dan Irak di Tengah Memanasnya Konflik

Qaplo
Qaplo
Rabu, 8 Juli 2026 - 11.31 PM WIB
EASA Minta Maskapai Hindari Wilayah Udara Iran, Lebanon, dan Irak di Tengah Memanasnya Konflik
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA - Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa (EASA) meminta maskapai penerbangan menghindari wilayah udara Iran, Irak, dan Lebanon setelah meningkatnya ketegangan keamanan di Timur Tengah. Imbauan yang diterbitkan pada Rabu (8/7/2026) tersebut bertujuan mengurangi risiko terhadap penerbangan sipil di kawasan yang dinilai masih berpotensi mengalami eskalasi militer.

Menurut EASA, kondisi keamanan di wilayah tersebut belum stabil meskipun sebelumnya sempat muncul kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Rekomendasi ini menjadi acuan penting bagi banyak maskapai Eropa dalam menentukan jalur penerbangan internasional yang lebih aman.

Peringatan tersebut muncul setelah ketegangan kembali meningkat di sekitar Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia. Berdasarkan sejumlah laporan, insiden penembakan kapal dagang milik negara sekutu Amerika Serikat di kawasan itu kembali memicu saling tuding antara Washington dan Teheran. Klaim mengenai pihak yang bertanggung jawab masih menjadi bagian dari perkembangan konflik dan belum seluruhnya dapat diverifikasi secara independen.

Situasi semakin memanas setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan telah menyerang sasaran militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait. Pernyataan tersebut muncul setelah serangan militer AS terhadap Iran yang disebut berkaitan dengan insiden terhadap kapal tanker di sekitar Selat Hormuz.

EASA menilai implementasi gencatan senjata masih rapuh sehingga potensi aksi militer lanjutan belum dapat dikesampingkan. Karena itu, maskapai diminta menghindari wilayah udara yang berdekatan dengan area konflik guna meminimalkan risiko terhadap penerbangan sipil.

Selain Iran, wilayah udara Irak dan Lebanon juga masuk dalam peringatan karena berada di jalur penerbangan yang berdekatan dengan kawasan yang berpotensi terdampak apabila eskalasi meluas.

Di tengah meningkatnya ketegangan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Nota Kesepahaman (MoU) dengan Iran diyakininya telah berakhir setelah serangan terbaru di kawasan Teluk.

Pernyataan tersebut memperkuat sinyal bahwa hubungan kedua negara kembali memasuki fase yang lebih tegang. Meski demikian, perkembangan situasi masih berlangsung dan berbagai klaim dari masing-masing pihak belum sepenuhnya dapat dipastikan secara independen.

Peringatan EASA tidak berarti seluruh wilayah udara di kawasan langsung ditutup. Namun, rekomendasi tersebut dapat mendorong maskapai mengubah rute penerbangan untuk menghindari wilayah yang dinilai berisiko tinggi.

Pengalihan rute berpotensi membuat waktu tempuh penerbangan menjadi lebih lama, meningkatkan konsumsi bahan bakar, serta menambah biaya operasional maskapai. Selama situasi keamanan di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda, operator penerbangan diperkirakan akan terus mengevaluasi jalur penerbangan berdasarkan perkembangan terbaru dan rekomendasi dari otoritas keselamatan penerbangan.

sumber: cnni

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait