EA Resmi Dapat Lampu Hijau, Akuisisi Rp994 Triliun oleh Arab Saudi Pekan Depan

Electronic Arts (EA) tinggal selangkah lagi menjadi perusahaan tertutup. Dalam dokumen yang diserahkan ke regulator pasar modal AS pada Rabu, 30 Juli 2026, penerbit game Battlefield dan The Sims itu menyatakan seluruh persetujuan regulator yang dibutuhkan untuk merampungkan merger sudah diperoleh. "Per 30 Juli 2026, seluruh persetujuan regulator yang dibutuhkan untuk menyelesaikan Merger telah diperoleh," tulis EA dalam pengajuan tersebut. "Electronic Arts saat ini memperkirakan Merger akan rampung pada atau sekitar penutupan perdagangan 4 Agustus 2026."
Dengan kata lain, kesepakatan senilai 55 miliar dolar AS -- atau sekitar Rp994 triliun berdasarkan kurs dolar-rupiah akhir Juli 2026 yang berada di kisaran Rp18.070 per dolar AS -- yang akan membawa EA keluar dari bursa saham hampir pasti terjadi pekan depan, meski EA sendiri mengingatkan bahwa transaksi masih bergantung pada terpenuhinya sejumlah syarat penutupan yang lazim berlaku dalam kesepakatan semacam ini.
Siapa yang membeli, dan berapa besar kepemilikannya
EA akan diakuisisi oleh konsorsium yang terdiri dari Public Investment Fund (PIF) -- dana kekayaan negara Arab Saudi -- bersama Silver Lake Partners dan Affinity Partners, perusahaan ekuitas swasta yang dipimpin Jared Kushner, menantu Presiden AS Donald Trump. Berdasarkan laporan GamesRadar, begitu transaksi rampung, PIF akan menguasai sekitar 93,4 persen saham EA, Silver Lake sekitar 5,5 persen, dan Affinity Partners sekitar 1,1 persen. Pemegang saham EA akan menerima 210 dolar AS tunai per lembar saham.
Kesepakatan ini pertama kali diumumkan September 2025 lalu, dan menurut surat yang dilayangkan Senator Richard Blumenthal serta Elizabeth Warren ke Menteri Keuangan AS, transaksi ini disebut sebagai leveraged buyout terbesar dalam sejarah lintas industri -- bukan cuma di sektor game. Jika dibandingkan sesama akuisisi perusahaan video game, nilainya berada di posisi kedua setelah akuisisi Activision Blizzard oleh Microsoft senilai 75,4 miliar dolar AS pada 2023.
PIF sendiri bukan pemain baru di industri game. Dana ini sebelumnya sudah memiliki saham di sejumlah perusahaan game besar seperti Nintendo, Activision Blizzard, dan Take-Two Interactive, serta telah mengakuisisi penuh Scopely (pembuat Monopoly Go!) dan Niantic (pengembang Pokemon Go). Bedanya, kepemilikan mayoritas di EA memberi PIF kendali operasional penuh -- bukan sekadar posisi investasi pasif seperti yang dimilikinya di perusahaan-perusahaan lain tersebut.
Sejak diumumkan, rencana akuisisi ini memicu penolakan dari berbagai pihak. Pada Oktober 2025, Senator Blumenthal dan Warren mengirim surat ke Menteri Keuangan AS yang saat itu juga menjabat Ketua Committee on Foreign Investment in the United States (CFIUS) -- badan yang meninjau transaksi asing dengan potensi risiko keamanan nasional.
Keduanya meminta pengawasan ketat, dengan alasan kepemilikan Saudi atas EA berpotensi memberi akses ke data jutaan pengguna game buatan EA sekaligus teknologi AI yang dikembangkan perusahaan itu.
Pada Januari 2026, lebih dari 40 anggota DPR AS dari Partai Demokrat, dipimpin sejumlah ketua kaukus buruh, juga mengirim surat ke Federal Trade Commission (FTC) yang meminta peninjauan menyeluruh atas dampak akuisisi ini terhadap pasar tenaga kerja industri game.
Union Communications Workers of America (CWA), lewat cabang United Video Games, turut menyatakan penolakan terbuka. Cabang CWA di Kanada bahkan mengirim surat serupa ke pemerintah Kanada, mengingat EA memiliki sejumlah studio di Quebec, Vancouver, Toronto, dan Victoria.
Terlepas dari berbagai keberatan itu, proses regulasi tampaknya berjalan sesuai rencana. Uni Eropa disebut sudah memberi persetujuan atas transaksi ini menjelang akhir Juli, dan kini regulator AS pun dilaporkan telah merampungkan tinjauannya.
Bagaimana nasib karyawan dan bos EA
Setelah transaksi rampung, EA akan sepenuhnya menjadi perusahaan tertutup. Sahamnya tak lagi diperdagangkan di bursa mana pun, yang berarti laporan keuangan serta informasi terperinci soal kondisi bisnis perusahaan tak akan lagi tersedia untuk publik seperti selama ini. Andrew Wilson dipastikan tetap menjabat CEO, dan kantor pusat EA tetap berada di Redwood City, California.
Belum jelas bagaimana dampak akuisisi ini terhadap ribuan karyawan EA yang tersebar di berbagai negara -- kelompok yang beberapa tahun terakhir sudah berulang kali dihantam gelombang pemutusan hubungan kerja. Pada Februari 2026, EA memangkas sejumlah staf di Full Circle, studio di balik game Skate.
Sebulan berselang, giliran tim di balik Battlefield 6 -- mencakup DICE, Criterion Games, Ripple Effect, dan Motive Studio -- yang terkena PHK, meski game tersebut disebut mencatat penjualan premium terbaik di AS sepanjang 2025. PHK lanjutan juga menyasar sejumlah divisi lain seperti rekrutmen, layanan pelanggan, serta tim trust and safety pada Juni 2026.
Ironisnya, di tengah rentetan PHK itu, kompensasi Andrew Wilson justru naik. Menurut laporan tahunan EA, total kompensasinya untuk tahun fiskal 2026 mencapai 38,65 juta dolar AS -- naik sekitar 8 juta dolar dibanding tahun sebelumnya. EA menyebut kenaikan itu antara lain didorong oleh performa Battlefield 6 yang dinilai memenuhi "seluruh milestone untuk peluncuran berkualitas tinggi," serta pencapaian sejumlah waralaba lain seperti EA Sports FC dan Apex Legends.
Belum ada informasi resmi dari EA mengenai rencana restrukturisasi lanjutan atau kebijakan ketenagakerjaan pascaakuisisi. Yang bisa dipastikan sejauh ini hanyalah tanggal penutupan transaksi -- 4 Agustus 2026 -- dan bahwa setelah tanggal itu, EA akan beroperasi jauh dari sorotan publik yang selama ini menyertai statusnya sebagai perusahaan terbuka.
Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda