Dua Mahasiswa UINSU Mengaku Jadi Korban Pengeroyokan, Minta Polisi Tindak Lanjuti Laporan
Medan - Dua mahasiswa Universitas Islam Negeri Sumatera Utara atau UINSU, berinisial RH (23) dan TA (18), berharap laporan dugaan pengeroyokan yang mereka alami segera ditindaklanjuti kepolisian. Kasus tersebut sebelumnya disebut sempat
Medan - Dua mahasiswa Universitas Islam Negeri Sumatera Utara atau UINSU, berinisial RH (23) dan TA (18), berharap laporan dugaan pengeroyokan yang mereka alami segera ditindaklanjuti kepolisian. Kasus tersebut sebelumnya disebut sempat ramai di media sosial dan telah dilaporkan ke Polrestabes Medan. Laporan itu tercatat sejak 20 Mei 2026 dengan nomor LP/B/211/V/2026/SPKT/POLRESTABES MEDAN/POLDA SUMATERA UTARA. Kedua mahasiswa tersebut meminta agar pihak yang terbukti terlibat diproses sesuai hukum. Menurut keterangan RH, peristiwa bermula saat ia dan sejumlah rekannya hendak memberikan ucapan selamat kepada teman mereka yang baru dilantik sebagai pengurus organisasi kemahasiswaan di lingkungan kampus. Situasi kemudian disebut berubah ricuh setelah salah satu rekannya diduga menjadi sasaran kekerasan. RH mengatakan dirinya mencoba mendekat untuk melerai dan melindungi rekannya. Namun, ia mengaku justru ikut menjadi sasaran kekerasan. “Adik itu lari ke warnet dikejar oleh pihak pengeroyok, dan saya datang untuk melerai serta melindungi adik itu. Tapi saya malah ditarik lalu dikeroyok oleh sekitar 15 sampai 20 orang,” kata RH saat ditemui, Senin, 1 Juni 2026. Akibat kejadian tersebut, RH dan TA mengaku mengalami luka di beberapa bagian tubuh, termasuk kepala. Keduanya juga telah menjalani visum et repertum sebagai bukti medis untuk mendukung laporan. Kampus Serahkan ke Proses Hukum dan Dewan Etik Rektor UINSU, Prof. Dr. Nurhayati, menyatakan pihak kampus akan mengawal penanganan kasus ini secara serius dan transparan. Ia menilai kekerasan di lingkungan akademik bertentangan dengan nilai pendidikan dan akhlak Islami yang menjadi dasar kehidupan kampus. “Ini bertentangan dengan nilai-nilai akademik dan akhlak Islami yang menjadi landasan kehidupan kampus,” kata Nurhayati.