Dua Gerhana Langka Hiasi Langit Agustus 2026, tapi Tak Satu Pun Terlihat dari Indonesia

Langit belahan bumi utara sedang bersiap menyambut dua pertunjukan langka bulan ini: gerhana matahari total pada 12 Agustus dan gerhana bulan sebagian pada 28 Agustus. Sayangnya, untuk pembaca di Indonesia, kabar baiknya harus disertai catatan kecil di awal—keduanya tidak bisa disaksikan langsung dari sini. Bukan berarti tidak ada yang bisa dinikmati bulan ini, tapi soal itu nanti.
Gerhana Matahari Total 12 Agustus: yang Pertama di Eropa Sejak 1999
Pada 12 Agustus, bayangan bulan akan menyapu wilayah Arktik Rusia, Greenland, Islandia, sudut kecil Portugal utara, hingga Spanyol utara, sebelum akhirnya lenyap saat matahari terbenam di atas Kepulauan Balearic, Spanyol. Menurut data NASA dan Wikipedia, durasi totalitas terpanjang—sekitar 2 menit 18 detik—terjadi di lepas pantai barat Islandia. Di kota-kota Spanyol seperti Bilbao dan A Coruña, gerhana total masih bisa disaksikan meski durasinya lebih singkat, sekitar 1,5 hingga 2 menit.
Ini bukan gerhana matahari total biasa. BBC Sky at Night Magazine dan EarthSky mencatat, inilah gerhana matahari total pertama yang melintasi daratan utama Eropa sejak 1999—hampir tiga dekade lalu. Sebagian wilayah Eropa lain yang berada di luar jalur totalitas, termasuk Inggris dan Irlandia, tetap kebagian gerhana sebagian dengan cakupan yang cukup dalam, lebih dari 90 persen permukaan matahari tertutup bulan menjelang senja waktu setempat.
Bagi siapa pun yang berencana menyaksikan langsung atau lewat siaran, satu hal wajib diingat: jangan pernah menatap matahari tanpa kacamata gerhana bersertifikat standar keamanan ISO 12312-2, kecuali pada detik-detik totalitas penuh di dalam jalur totalitas itu sendiri. NASA rencananya menyiarkan momen ini secara langsung mulai pukul 13.15 waktu setempat AS bagian timur pada 12 Agustus, yang jika dikonversi berarti sekitar pukul 00.15 WIB dini hari, 13 Agustus.
Gerhana Bulan 28 Agustus, Nyaris Total
Dua pekan berselang, giliran bulan yang kebagian sorotan. Pada 28 Agustus, Bulan purnama akan meluncur masuk ke bayangan gelap Bumi dan mengalami gerhana sebagian dengan magnitudo 0,93—artinya sekitar 93 hingga 96 persen permukaan bulan akan tertutup bayangan umbra Bumi pada puncaknya.
Angka itu membuatnya tergolong gerhana sebagian yang sangat dalam, nyaris menyerupai gerhana total, meski secara teknis tetap disebut sebagian karena sedikit bagian tepi bulan masih tersinari langsung oleh matahari.
Menurut perhitungan yang dipublikasikan di Wikipedia dan EclipseWise, puncak gerhana terjadi sekitar pukul 04.13 UTC.
Wilayah yang paling diuntungkan adalah benua Amerika, di mana bulan berada tinggi di langit malam sepanjang peristiwa berlangsung. Eropa dan Afrika masih kebagian, meski bulan gerhana sudah rendah menjelang terbenam saat fajar menyingsing di sana.
Kenapa Indonesia Tak Kebagian
Penjelasannya sebenarnya sederhana, dan berkaitan dengan bagaimana kedua jenis gerhana ini bekerja.
Gerhana matahari hanya bisa dilihat dari wilayah yang sedang mengalami siang hari dan berada tepat di bawah bayangan bulan. Jalur bayangan pada 12 Agustus seluruhnya berada di Kutub Utara, Atlantik Utara, dan Eropa—jauh dari Indonesia. Lebih dari itu, saat totalitas terjadi (sekitar pukul 00.44 WIB dini hari), langit Indonesia justru sedang gelap gulita karena matahari memang belum terbit di sini. Jadi meski jalurnya sedekat apa pun, gerhana matahari tidak mungkin terlihat dari Indonesia pada jam segelap itu.
Gerhana bulan punya alasan yang berkebalikan. Peristiwa ini bisa dilihat siapa saja yang berada di sisi Bumi yang sedang malam hari saat bulan berada di atas ufuk. Masalahnya, puncak gerhana 28 Agustus terjadi sekitar pukul 11.13 WIB—tengah hari di Indonesia. Bulan saat itu sedang berada jauh di bawah cakrawala, bukan di langit malam. TheSkyLive dan sejumlah lembaga astronomi lain memastikan: dari Jakarta maupun kota lain di Indonesia, bulan akan berada di bawah ufuk sepanjang durasi gerhana ini berlangsung.
Menariknya, media Tempo sempat mencatat bahwa dari empat peristiwa gerhana yang terjadi sepanjang 2026, hanya satu yang benar-benar bisa disaksikan dari Indonesia—yaitu gerhana bulan total pada 3 Maret lalu, yang sudah lewat. Dua gerhana Agustus ini menambah daftar yang harus "ditonton dari jauh" lewat siaran daring, misalnya lewat kanal NASA atau timeanddate.com yang biasanya menyediakan siaran langsung untuk kedua jenis peristiwa ini.
Yang Justru Bisa Dilihat dari Indonesia
Untungnya, langit Agustus tidak sepenuhnya mengecewakan bagi pengamat di sini.
Malam yang sama dengan gerhana matahari, 12 hingga 13 Agustus, bertepatan dengan puncak hujan meteor Perseid—salah satu hujan meteor paling deras dalam setahun. Kebetulan yang menguntungkan: malam itu juga bertepatan dengan bulan baru, sehingga langit gelap tanpa gangguan cahaya bulan.
Titik radian hujan meteor ini berada di rasi Perseus, yang terletak jauh di langit utara. Dari Indonesia, radian itu tidak naik terlalu tinggi—sehingga jumlah meteor yang terlihat kemungkinan tidak sebanyak yang dilaporkan pengamat di lintang utara seperti Eropa atau Amerika Utara. Tapi bukan berarti nihil. Menghadap ke arah timur laut selepas tengah malam, di lokasi yang jauh dari polusi cahaya kota, pengamat di Indonesia tetap berpeluang menyaksikan beberapa meteor melintas.
Selain itu, sepanjang pertengahan Agustus, planet Venus juga sedang dalam kondisi terbaiknya untuk diamati. Sekitar 14–16 Agustus, Venus mencapai elongasi timur terjauh dari matahari, membuatnya bersinar terang benderang di langit barat setelah senja—dijuluki "Bintang Kejora" atau evening star.
Fenomena ini bisa disaksikan dari mana saja di Bumi, termasuk Indonesia, tanpa memerlukan alat bantu apa pun untuk menemukannya karena kecerlangannya jauh mengalahkan bintang-bintang di sekitarnya. Bila memakai teleskop kecil, wujud Venus akan tampak seperti bulan sabit setengah lingkaran, mirip fase kuartal pertama Bulan.
Jadi meski dua gerhana besar bulan ini luput dari langit Indonesia, Agustus 2026 tetap layak dicatat di kalender pengamatan bintang: ada hujan meteor untuk dinikmati sambil rebahan menghadap langit gelap, dan Venus yang bisa dinikmati siapa saja hanya dengan menengok ke arah barat begitu matahari terbenam.
Catatan redaksi: Seluruh waktu WIB dalam artikel ini adalah hasil konversi dari data UTC yang dipublikasikan NASA, Wikipedia, dan lembaga astronomi lain, dan dapat bergeser beberapa menit tergantung metode perhitungan masing-masing sumber.
Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda